Filep Karma: Usia 58 Tahun Tak Mengurangi Semangat Perjuangkan Papua

"Apakah teman-temanku, saudara-saudaraku tega mempertahankan kami sebagai bagian dari NKRI? Tapi tiap hari kami dibunuhi."

Selasa, 15 Agus 2017 17:12 WIB

Filep Jacob Samuel Karma memperlihatkan kado saat ulang tahunnya yang ke-58. Foto: KBR.

KBR, Jakarta - Filep Jacob Samuel Karma, atau lebih tenar dengan sapaan Filep Karma tak pernah surut membicarakan tanah kelahirannya, Papua. Bicaranya lantang. Suaranya meninggi. Apalagi jika bercerita tentang rentetan kekerasan yang saban hari terjadi, maka yang muncul adalah amarah.

"Apa teman-temanku, saudara-saudaraku tega mempertahankan kami sebagai bagian dari NKRI? Sedangkan tiap hari kami dibunuhi, dirampok, diperkosa oleh kekejaman tentara yang sangat berlebihan?" tanya Filep di Jakarta, Minggu (13/8/2017).
 
Minggu itu, Filep Karma mengundang sejumlah jurnalis ke suatu tempat di Jakarta. Hari itu, rupanya perayaan hari kelahirannya yang jatuh pada 15 Agustus 1959. Perayaan dipercepat dua hari, dengan alasan tak ingin menganggu hari kerja para jurnalis.

Bekas tahanan politik itu kemudian bercerita tentang pembebasannya dua tahun lalu. Saat itu, 19 November 2015, ia betul-betul merasa tidak siap keluar dari penjara. Tawaran grasi dari Presiden Joko Widodo, ditolak mentah-mentah. Sebab jika menerima, itu artinya ia mengaku salah atas apa yang dilakukannya pada 2004 silam. Kala itu, Filep muda berorasi dan ikut mengibarkan bendera Bintang Kejora dalam sebuah upacara di Jayapura. Pengadilan pun menjatuhkan pidana 15 tahun penjara.

"Di kepala saya, saya akan keluar 30 November 2019. Tepat 15 tahun," tegas ayah dua anak ini. Tapi sehari sebelum pembebasan itu, Filep tak bisa berkeras lagi. Meski ia sudah meminta waktu paling tidak tiga pekan untuk masa adaptasi.

"Saya syok. Saya sampai menitikan air mata. Sedih," kata Filep dengan suara bergetar. Begitu keluar penjara, sejumlah aktivis dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menyambutnya. "Tapi saya tak ingin mengecewakan mereka, akhirnya saya memutuskan keluar," sambungnya.
 
Hampir dua tahun menghirup udara bebas, tak membuat Filep Karma takut bersuara tentang kemerdekaan Papua. Ketika berkunjung ke kantor KBR, dia memboyong serta helm kebanggaan yang dicat menyerupai bendera Bintang Kejora.

(Helm yang dikenakan Filep Karma ketika berkunjung ke kantor KBR. Foto: KBR/Asrul Dwi)


Di sela perayaan ulang tahunnya yang ke-58, Filep Karma menyempatkan diri berbincang santai dengan wartawan KBR, Quinawaty Pasaribu, Minggu (13/8/17). Berikut petikan perbincangan mereka.

Apa arti usia 58 tahun bagi Anda? Terutama selama memperjuangkan kemerdekaan Papua?

Saya melihat usia 58 tahun tetap memberikan semangat pada saya untuk berjuang. Jadi tetap berlanjut. Tidak mengurangi semangat dan tidak menjadi penghalang bagi perjuangan.

Dulu, Anda menggunakan aksi-aksi demonstrasi dan orasi dalam menyuarakan kemerdekaan Papua. Kini, Anda kelihatannya berbeda. Apakah karena usia?

Kami berjuang dengan damai, itu prinsip saya. Sekarang pun saya fokus kampanye tentang kemanusiaan di dalam negeri dan negara-negara di Asia. Kalau di luar negeri sudah banyak teman-teman yang kampanye dan itu sudah berjalan baik. Istilahnya, di luar negeri itu tidak masalah. Justru yang jadi masalah adalah kampanye di dalam negeri. Karena Papua tertutup untuk informasi, bahkan bagi rakyat Indonesia.

Rakyat Indonesia umumnya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Papua. Mereka hanya mendapat informasi sepihak, dan itu sudah dianggap benar. Padahal yang terjadi di lapangan berbeda. Misal, sejarah yang dibelokkan. Semakin banyak orang Indonesia tahu tentang kondisi di Papua, mungkin akan bereaksi terhadap pemerintah supaya jangan lakukan kekerasan lagi. Jangan sampai nanti musnah etnik Papua jadi sejarah hitam Indonesia.

Karena itu Anda lebih sering berada di Jakarta?

Iya. Saya berpikir begitu, makin banyak orang mengerti dan mendukung kami. Saya tidak ingin berjuang dengan kekerasan dan berdarah-darah. Perjuangan kemerdekaan Papua bukan berdasarkan dendam dan kebencian. Tapi kami menuntut hak kami dan harkat kami.

Karena itu Anda juga menggunakan cara yang unik, memakai helm dicat menyerupai bendera Bintang Kejora?

Iya. Orang Papua itu ketakutan. Selama 50 tahun orang Papua hidup dalam teror. Begitu lihat bendera Bintang Kejora dibilang separatis, dibilang OPM. Tanpa alasan apapun langsung ditangkap dan dipenjarakan. Jadi saya melihat Indonesia ini negara atau teroris? Nah saya ingin tampil lain.

Jadi, pertama-tama saya membebaskan diri dari rasa takut. Setelah itu, saya nyatakan inilah identitas saya. Kalau risikonya ditangkap, ya tidak apa-apa. Jadi mari orang Papua, kalau sekadar menampakkan bendera Bintang Kejora itu tidak masalah. Kan tidak membunuh. Toh itu bukan kriminal.

Dengan dilihat sehari-hari, akhirnya kan ini akan jadi biasa-biasa saja. Sekarang di Papua, orang pakai topi atau noken dengan motif bendera Bintang Kejora, sudah biasa saja. Tapi di pedalaman masih diintimidasi.

Apakah ada kejadian lucu saat anda mengenakan helm itu?

Ada. Tiga hari sebelum saya datang ke Jakarta, ada razia KTP. Saat razia ada polisi dan tentara. Tapi saya santai saja. Lalu diminta KTP. Saya jawab, tidak ada. Terus saya bilang, 'jadi saya masih diragukan sebagai orang Papua?' Lalu saya dilepaskan. Saya pikir mereka akan membahas helm saya, rupanya tidak. Berarti saya berhasil dalam kampanye. Mereka lihat helm bermotif bendera Bintang Kejora itu dan ternyata tidak masalah.

Toh Gus Dur juga bilang tidak apa-apa mengibarkan bendera Bintang Kejora asal ukurannya lebih kecil dan lebih rendah dari Merah Putih.

Bagaimana dengan anak-anak muda Papua kini? Apakah masih diliputi ketakutan kalau bicara Papua merdeka?

Mereka sudah mengerti. Yang demo sekarang itu anak-anak muda. Bukan selevel saya lagi. (Filep tertawa). Mereka murni dari lahir sampai besar mengikuti pendidikan Indonesia. Tapi setelah mereka sadar, mereka berubah dan berjuang untuk Papua merdeka.

Usia anda kini 58 tahun, apa renungan anda?

Saya tetap di barisan perjuangan, karena yang diperjuangan belum berhasil. Jadi tetap berjuang.

Editor: Agus Luqman

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Ombudsman RI Temukan Pungli di Pasar Tanah Abang Hingga Rp1 Juta

  • Insentif GTT di Banyuwangi Naik Tiga Kali Lipat
  • Tarif Listrik Naik, Partai Oposisi Bangladeh Serukan Mogok Massal
  • Politikus Jepang Bawa Anak ke Sidang Dewan Dikritik

Program diharapkan dapat mendukung ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan lahan di daerah masing-masing