Dugaan Penggelapan BPJS, Karyawan Laporkan Pemilik Jamu Njonja Meneer

"Dan saat ini kita masih dalam proses penyelidikan, dimana penyidik sudah memeriksa sekitar 15 saksi"

Kamis, 10 Agus 2017 11:51 WIB

Ilustrasi (sumber: Situs Njonja Meneer)

KBR, Semarang- Pemilik perusahaan jamu PT Njonja Meneer Charles Saerang dan seorang karyawan bagian humas Regina Tantra dilaporkan ke Direktorat Kriminal Umum Polda Jawa Tengah. Mereka dilaporkan oleh Djoko Prasetyo pada tanggal 26 Mei 2017 lalu karena dugaan penggelapan Dana BPJS Ketenagakerjaan karyawan PT Njonja Meneer.

Juru bicara Kepolisian Daerah Jawa Tengah,  Djarod Padakova membenarkan adanya laporan tersebut, dan saat ini kasus itu masih dalam tahap penyelidikan.

"Dan saat ini kita masih dalam proses penyelidikan, dimana penyidik sudah memeriksa sekitar 15 saksi," ujar Djarod saat dihubungi KBR, Kamis (10 / 08 / 2017) pagi.

Djarod membeberkan kelima belas orang saksi yang telah diperiksa tersebut di antaranya karyawan PT Njonja Meneer dan karyawan BPJS. Kepolisian  saat ini   belum memanggil   terlapor.

Charles Saerang dan Regina Tantra dilaporkan karena karyawan tidak dapat menggunakan fasilitas BPJS Ketenagakerjaan saat dirawat di Rumah Sakit. Padahal, sejak  2011 - 2015 gaji karyawan selalu dipotong untuk membayar iuran tersebut.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.