Direktur di KPK vs Novel Baswedan, Polda Metro Selidiki Surat 'Pencemaran Nama Baik'

"Keputusannya ini perkara ini naik ke tahap penyidikan," kata Argo Yuwono.

Kamis, 31 Agus 2017 14:56 WIB

Ilustrasi gedung KPK. (Foto: mahkamahkonstitusi.go.id)

KBR, Jakarta - Tim penyidik Polda Metro Jaya mulai melakukan penyidikan, terkait dugaan pencemaran nama baik yang diduga melibatkan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan terhadap Direktur Penyidikan KPK Aris Budiman.

Juru bicara Polda Metro Jaya, Argo Yuwono mengatakan Aris Budiman melaporkan Novel Baswedan ke kepolisian, terkait surat elektronik yang dianggap merugikan nama Aris selaku Direktur Penyidikan KPK.

"Surat pemberitahuan sudah dikirim kemarin, dan statusnya dalam tahap penyidikan. Pasti nanti akan kami lakukan pemeriksaan saksi-saksi. Saat ini saksi pelapor sudah diperiksa. Saya belum dapat informasi lanjutan, yang jelas kejadian itu sudah dilaporkan," kata Argo Yuwono saat dihubungi KBR, Kamis (31/8/2017).

Aris Budiman melaporkan Novel Baswedan pada 13 Agustus lalu. Laporan itu kemudian ditindaklanjuti polisi dengan melakukan gelar perkara pada 21 Agustus.

"Keputusannya ini naik ke tahap penyidikan," kata Argo Yuwono.

Kasus surat elektronik ini juga sempat diungkap Aris Budiman saat ia memenuhi panggilan Panitia Khusus (Pansus) Angket KPK di DPR. Aris mengaku tersinggung dengan isi surat elektronik Novel. Surat itu berisi keberatan atas mekanisme pengangkatan penyidik KPK dari Polri. Novel menganggap mekanisme itu tidak sesuai dengan aturan internal KPK.

Baca juga:


Dalam pertemuan dengan Pansus, Direktur Penyidikan KPK Aris Budiman juga membeberkan sejumlah konflik di internal KPK, mulai dari persaingan antara penyidik KPK dari Polri dengan penyidik KPK dari independen, hingga perseteruannya dengan Novel Baswedan.

Kehadiran Aris Budiman di Pansus itu tanpa seizin pimpinan KPK. Sejumlah pihak meminta KPK segera memberhentikan Aris Budiman, atau mengembalikannya secara tidak hormat ke lembaga semula yaitu Mabes Polri.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau