Diperiksa 7 Jam, Novel Baswedan Ungkap Sejumlah Kekecewaan terhadap Polisi

Novel protes karena polisi mencantumkan nama saksi dalam sketsa yang dipublikasikan. Novel beralasan saksi yang merupakan tetangganya itu akan merasa tidak aman karena identitasnya diketahui publik.

Senin, 14 Agus 2017 19:06 WIB

Kapolri Tito Karnavian menunjukkan sketsa wajah pelaku penyerang Novel Baswedan, di Kantor Presiden, Jakarta Senin (31/7/2017). (Foto: ANTARA/Puspa Perwitasari)

KBR, Jakarta - Penyidik Polri sudah rampung memeriksa Novel Baswedan, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menjadi korban serangan teror siraman air keras dari dua orang pelaku tak dikenal. Pemeriksaan dilakukan Senin (14/8/2017) di KBRI Singapura.

Namun, pemeriksaan itu ternyata menyisakan kekecewaan bagi Novel Baswedan. Hal itu disampaikan Alghifari Aqsa, anggota Tim Advokasi Novel Baswedan.

Alghifari mengatakan dalam pemeriksaan itu penyidik Polda Metro Jaya ternyata tidak menunjukkan sketsa wajah orang yang diduga menyerang Novel Baswedan seperti yang dijanjikan sebelumnya. Meski begitu, dalam pemeriksaan itu Novel sempat menyinggung sketsa wajah terduga pelaku yang membuatnya kecewa.

Kekecewaan Novel, kata Alghifari, disebabkan karena sebelumnya Polri sudah merilis sketsa wajah terduga pelaku ke publik dimana dalam sketsa itu dicantumkan nama saksi. Padahal, mestinya saksi harus dilindungi.

"Ketika peristiwa terjadi, Novel tidak melihat banyak, karena kejadian tiba-tiba dan si pelaku menggunakan helm. Dalam pemeriksaan tadi memang polisi tidak menunjukkan sketsa sama sekali. Tanpa alasan. Tapi tadi kita protes terkait sketsa yang disampaikan Kapolri, karena mencantumkan nama saksi. Sedangkan polisi tidak mengklarifikasi soal sketsa ke Novel," kata Alghifari kepada KBR, Senin (14/8/2017).

Baca juga:


Di akhir sesi pemeriksaan, Novel Baswedan menyampaikan kekecewaannya itu. Novel memprotes polisi karena mencantumkan nama saksi dalam sketsa yang dipublikasikan. Novel beralasan saksi yang merupakan tetangganya itu akan merasa tidak aman karena identitasnya diketahui publik.

Alghifari mengatakan semua pertanyaan dan protes Novel itu dicatat Polri dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Namun, kekecewaan itu tidak direspon polisi yang memeriksa Novel, karena merupakan penyidik baru.

Menurut Alghifari, Novel diperiksa selama tujuh jam mulai pukul 11.00 hingga 17.00 waktu Singapura. Novel mendapat 20 pertanyaan dari penyidik, yang sebagian besar merupakan hal administratif.

Alghifari menambahkan pertanyaan untuk Novel kebanyakan tentang kronologis kejadian penyerangan, serta untuk mengkonfirmasi pernyataan Novel kepada media beberapa waktu lalu, termasuk soal keterlibatan jenderal polisi. Namun, Novel tak bersedia menjawab pertanyaan itu. Ia mengatakan akan membukanya saat Presiden Joko Widodo membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

Berikut kekecewaan Novel sebagaimana rilis yang diterima KBR dari Tim Advokasi Novel Baswedan.

1. Saksi-saksi kunci dipublikasi oleh polisi. Seharusnya polisi melindungi dan menjaga para saksi kunci, supaya memberi keterangan dengan baik dan secara aman.

2. Penyidik sebelumnya terburu-buru membuat kesimpulan sendiri dan mempublikasikan kesimpulan tersebut, sehingga terkesan menutupi pihak-pihak tertentu.

"Hal ini terkait orang yang memata-matai saya di depan rumahnya, yang polisi sebut sebagai mata elang. Padahal banyak orang menceritakan tidak demikian dan diantara orang tersebut ada yang berupaya masuk ke rumah saya dengan berpura-pura ingin membeli gamis laki-laki," kata Novel.

3. Tidak diketemukannya sidik jari pada cangkir yang digunakan untuk menyiram saya (Novel Baswedan) dengan air keras. Padahal itu bukti penting.

4. Saya (Novel Baswedan) melihat penyidik sebelumnya menjaga jarak dengan keluarga saya dan tidak memberikan SP2HP ke keluarga.

5. Saya (Novel Baswedan) pernah diberitahu oleh anggota Densus 88 yang melakukan investigasi dan menemukan indikasi pelaku. Foto orang yang diduga pelaku tersebut dikirimkan kepada saya. Setelah menerima saya kirimkan foto tersebut ke adik saya untuk diperlihatkan kepada orang di sekitar kejadian, apakah mereka mengenali foto tersebut. Hasilnya banyak orang yang mengenali foto tersebut dan mereka meyakini orang tersebut sebagai pelaku (pengintai atau eksekutor). Foto tersebut kemudian saya berikan kepada Kapolda dan Rudy (Dirkrimum Polda Metro Jaya). Kejadian sekitar tanggal 19 April 2017.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Polisi Buru Penyebar Hoaks Gunung Agung Meletus

  • Frekwensi Kegempaan Gunung Agung Meningkat
  • Anak-anak Pengungsi Gunung Agung Mulai Belajar di Sekolah Terdekat
  • Pansus Angket KPK Akan Sampaikan Laporan Sementara Besok