Dana Atasi Krisis Air di Rembang Menurun, Ini Langkah BPBD

BPBD Rembang menyatakan pada 2016 lalu alokasi dana mencapai Rp300 juta. Namun tahun ini anggaran untuk droping air bersih hanya dialokasikan sebesar Rp50 juta.

Minggu, 27 Agus 2017 18:40 WIB

Ilustrasi: Warga berebut bantuan air bersih di Rembang, Jawa Tengah. (KBR/Musyafa)

KBR, Rembang – Dana bantuan distribusi air bersih Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang untuk mengantisipasi bencana kekeringan di kabupaten itu tahun ini turun drastis.

Kepala Seksi Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang, Ahmad Makruf mengatakan pada 2016 lalu alokasi dana mencapai Rp300 juta. Namun tahun ini anggaran untuk droping air bersih hanya dialokasikan sebesar Rp50 juta.

Penurunan itu menurutnya disebabkan minimnya penyerapan anggaran tahun lalu. Padahal kata dia, kecilnya penyerapan anggaran distribusi air bersih bukan karena rendahnya kinerja pegawai BPBD melainkan faktor alam.

"Tahun 2016 kan tahu sendiri seperti apa. Curah hujannya tinggi, bahkan relatif merata sepanjang tahun. Dana Rp300 juta yang disediakan tidak terpakai, ya tentu kami kembalikan lagi ke kas daerah," jelas Ahmad Makruf kepada KBR di Rembang, Sabtu (26/8).

Makruf menjelaskan, selama 2016 lalu tidak ada musim kemarau karena musim penghujan cukup panjang. Alhasil pasokan air di pelosok pedesaan pun masih cukup. Saat itu juga tidak ada desa yang mengajukan permintaan droping air bersih.

Namun begitu, kata dia, hingga Agustus tahun ini baru satu desa yakni Lemahputih di Kecamatan Sedan yang mengajukan bantuan air bersih. Jumlah itu dari total 294 desa/kelurahan.

"Apabila dana Rp50 juta kurang, nantinya BPBD siap mengajukan lewat APBD perubahan, dana tak terduga atau mengoptimalkan bantuan dari CSR sejumlah perusahaan."

Baca juga:

BPBD bekerja sama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) siap menyalurkan bantuan air bersih, sesuai kalkulasi jumlah warga yang membutuhkan. Ia memperkirakan puncak kekeringan akan terjadi pada periode akhir September hingga Oktober mendatang.

"Kekeringan Kabupaten Rembang termasuk belakangan ini, karena stok air masih banyak. Embung–embung (waduk buatan) di desa sebagian juga cukup airnya. Kalau muncul ramalan setelah musim penghujan panjang, biasanya kemarau juga lebih panjang dari biasanya, semoga tidak sampai seperti itu," kata Makruf.

Warga Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori, Sunardi mengungkapkan pasokan air PDAM dari Embung Sudo biasanya akan macet saat puncak kemarau. Kini sejumlah warga di kampungnya mulai mencari titik–titik potensial sumber air untuk membuat sumur bor. Masyarakat menurutnya tak bisa mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah karena jumlahnya terbatas.




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Periksa Saksi Meringankan Setnov Pekan Depan

  • Polda Metro Rilis 2 Sketsa Terduga Penyerang Novel
  • Polda Papua Akui Ada Perintah Tembak di Tempat di Tembagapura
  • Pemprov Akan Pelajari Investigasi Ombudsman

Program diharapkan dapat mendukung ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan lahan di daerah masing-masing