Cegah Kepunahan, Banteng Jawa 'Kawin Campur ' dengan Sapi Bali

Pada sekitar tahun 1970, jumlah banteng di Taman Nasional Baluran mencapai 150-200 ekor. Namun pada tahun 2015 lalu, jumlah banteng tercatat hanya terisa 26 ekor saja.

Senin, 14 Agus 2017 15:30 WIB

Banteng Jawa dengan sapi Bali di Dinas Peternakan Jawa Timur. (Foto: disnak.jatimprov.go.id/Publik Domain)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Situbondo - Pemerintah Kabupaten Situbondo Jawa Timur, melakukan program perkawinan silang antara sapi Bali dengan  banteng Jawa (Bos Javanicus). Program  perkawinan silang ini dilakukan sejak April 2017 lalu.

Bupati Situbondo Dadang Wigiarto mengatakan saat ini dua sapi Bali sedang proses perkawinan di kandang buatan yang berada di Dinas Pertanian Situbondo. Dalam program ini Pemerintah Situbondo meminjam satu ekor banteng Jawa jantan dari Taman Nasional Baluran.

Dadang mengatakan perkawinan silang tersebut untuk memulihkan populasi banteng yang menjadi maskot Taman Nasional Baluran. Pemerintah Situbondo merasa bertanggung jawab untuk tetap menjaga ekosistem banteng. Sebab Taman Nasional Baluran masuk dalam kawasan Kabupaten Situbondo.

Dadang menambahkan hasil perkawinan silang ini nantinya akan diserahkan ke pihak Taman Nasional Baluran untuk dilepas liarkan di kawasan hutan Baluran.

"Berkurangnya banteng-banteng yang dulu menjadi kejayaan dan nama besarnya Taman Nasional Baluran. Pemerintah daerah telah melakukan upaya, diantaranya dengan mengawinkan sapi Bali dengan ensiminasi buatan dengan banteng, yang nanti akan kami pola kerja samakan dengan Taman Nasional Baluran," kata Dadang Wigiarto, di Situbondo, Senin (14/8/2017).

Populasi banteng saat ini berkurang drastis. Pada sekitar tahun 1970, jumlah banteng di Taman Nasional Baluran mencapai 150-200 ekor. Namun pada tahun 2015 lalu, jumlah banteng tercatat hanya terisa 26 ekor saja.

Berkurangnya populasi banteng ini, kata Dadang, disebabkan berbagai faktor. Diantaranya karena perburuan liar, menyempitnya habitat dan terdesak oleh sapi liar. Sempitnya habitat ini karena  meluasnya tanaman akasia sehingga rumput yang menjadi makanan banteng  tidak dapat tumbuh dengan baik.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Krisis Tembagapura, Pengiriman Tim Gabungan TNI/Polri Berlebihan

  • Kahiyang Ayu Jalani Pesta Adat Tapsel
  • Linkin Park Persembahkan Piala AMA untuk Chester
  • Singapura Bakal Uji Coba Menara Digital Pintar