[SAGA] Iki Yosan: 'Mendongeng Demi Menghapus Trauma'

Keseharian Iki pun diisi dengan mendongeng ke sekolah-sekolah. Di samping itu, ia juga biasa mendongeng bagi anak-anak yang dirawat atau mengalami trauma.

Selasa, 15 Agus 2017 12:20 WIB

Iki Yosan, pendongeng dari Kampung Dongeng. Foto: KBR

KBR, Jakarta - Akhir 2013 menjadi titik transisi kehidupan Iki Yosan. Dia memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai guru di sebuah sekolah di Bintaro. Keputusan itu berarti, dia sudi melepas kemapanan; penghasilan tetap setiap bulan. Iki, lantas berbelok menjadi pendongeng.

“Kalau mengajar itu dandanan formal banget. Pakai kemeja, celana hitam, sepatu pantofel. Begitu mendongeng berubah drastis. Pakai topi, kacamata. Kayak orang gila, haha...” ujar Iki sambil tertawa ketika ditemui di Kampung Dongeng.

Pilihan menjadi pendongeng, diambil setelah melihat penampilan Awam Prakoso di sekolah ia mengajar. Awan adalah pendiri Kampung Dongeng –komunitas yang nantinya akan menjadi tempat Iki bernaung. Ketika itu, Awam –diundang sebagai tamu.

Momen tersebut rupanya berkesan bagi Iki. Sebab untuk kali pertama, dia menyaksikan pendongeng tampil di depan banyak orang. Berbagai teknik suara dan respon bocah-bocah yang menonton, seolah membawa Iki ke masa kecilnya.

“Lihat Awam dongeng, suaranya bisa begitu ya? Aku dari kecil suka tampil. Memang cita-citanya dulu ingin jadi pembicara, jadi pendakwah. Tapi apa daya ketika besar enggak pernah pesantren, sekolah umum aja,” sambung Iki.

Iki kemudian nekat menyambangi Awam Prakoso ke Kampung Dongeng. Dia ingin mengikuti jejak Awam, meski sadar diri tak punya bekal apapun.

Tapi sedikit demi sedikit, Iki mencuri ilmu tentang olah vokal, public speaking, dan serangkaian amunisi lain yang membuatnya tahan bercerita ke banyak orang. Sulit, diakuinya, tapi jauh lebih sukar untuk mundur dan kembali.

“Awalnya susah banget. Enggak tahu aku akan berhasil atau enggak jadi pendongeng. Sama juga enggak bisa meniru suara kuda, bebek, macam-macam itu.”

Satu bulan bergabung di Kampung Dongeng, Iki mulai memberanikan diri tampil di depan anak-anak. Tapi panggung perdananya sebagai pendongeng, berakhir dingin. Iki masih ingat betul, kala itu di depan ratusan mata pengunjung Kampung Dongeng, takut dan gugup tiba-tiba mencengkram. Fabel tentang Raja Kuman yang dibawakannya gagal memancing tawa.

Serangkaian pengalaman pahit serupa, juga ia telan. Saban kali panggungnya berakhir dengan kegagalan, berkali pula Iki berpikir untuk berhenti dan kembali mengajar. Apalagi ketika itu, orangtuanya menentang keras jalan yang dipilihnya. Sebab, tiap kali dia menunjukkan brosur atau poster acara panggungnya, langsung dicampakkan sang ayah.

“Karena dari keluarga enggak ada yang mendukung aku sebagai pendongeng. Sampai dua bulan di rumah itu kaku banget.”

Iki juga masih ingat, saat pertama membawa honor hasil mendongeng. Kira-kira Rp 150 ribu. Uang itu, ia berikan pada orangtuanya. Namun, ditolak. “Orangtua bilang, 'mungkin saat ini aja kau kasih uang. Tapi nantinya mau jadi apa? Enggak ada masa depannya.'”

Tetapi, kecintaannya pada dunia seni membuat Iki sulit berpaling. Dan, terbukti profesi ini bisa menghidupinya. Saat ini, orangtuanya sudah bisa menerima pilihan Iki. Beberapa kali, sang ibu menyaksikan pertunjukannya. Malah, serangkaian poster penampilan Iki dipajang di depan rumah mereka. Seolah jadi tanda restu.

Keseharian Iki pun diisi dengan mendongeng ke sekolah-sekolah. Di samping itu, ia juga biasa mendongeng bagi anak-anak yang dirawat atau mengalami trauma.

Setiap minggu, Iki mendongeng bagi anak-anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Tahun lalu ia juga dimintai tolong Kementerian Sosial untuk mendongeng bagi anak-anak korban pengusiran Gafatar. Terakhir, Iki berangkat ke Bima yang baru tertimpa bencana banjir. Di sana, Iki mendongeng demi menghapus trauma anak-anak.

“Walaupun aku enggak bantu mereka dengan materi tapi dengan cara bercerita Insya Allah itu bisa menolong mereka. Aku terpanggil karena aku ingin menyenangkan mereka. Aku ingin mereka bisa tertawa seperti aku.”

Baginya, kepuasan tertinggi ketika berhasil memetik tawa anak-anak yang menontonnya. Seperti yang ia lakukan pada Radjwa. Murid kelas 4 SDIT Al Lauzah Tangerang ini mengaku senang mendengarkan dongeng Iki.

“Lucu, enak, seru juga. Tadi dikasih tahu jangan pernah lupakan perintahkan orangtua. Jangan pernah sombong akibatnya nanti dibalas oleh Allah,” tutur Radjwa.


Simak video kisah anak-anak muda inspiratif lainnya di kbr.id/anakmuda  

Editor: Quinawaty

Baca juga:

Sabrina Bensawan: 'Berbagi Tak Perlu Menunggu Kaya'
Putry Yuliastutik: 'Mengawinkan Konfeksi dengan Teknologi'
Iki Yosan: 'Mendongeng Demi Menghapus Trauma'
Dwi Puspita: 'Mendobrak Stereotip Dalang'
Hajad Guna: 'Melantangkan Suara dari Kampung ke Dunia'
Safprada Rizma: 'Tularkan Virus Literasi Lewat Pondok Inspirasi
Merry Andalas: 'Menjaga Rinjani dengan Gaharu'
Lukman Hakim: 'Berhenti Merokok di Bank Sehat'
Akhmad Sobirin: 'Manisnya Gula Semut dari Semedo'  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1