'Kartini Kendang dan Aksi Kamisan Layak dan Harus Dapat Tasrif Award'

"Bagi kami mereka saling bersinggungan dan taut-menaut dalam gerakan sosial dan politik di Indonesia. Keduanya digerakkan oleh perempuan. Keduanya memiliki karakteristik aksi damai yang serupa."

Senin, 07 Agus 2017 23:57 WIB

Ketua Umum AJI Indonesia Suwarjono menyerahkan Tasrif Award kepada Ny Sumiarsih dan Suciwati Munir mewakili Aksi Kamisan serta Sukinah mewakili Kartini Kendeng di Jakarta, Senin (7/8/2017). (Foto: KBR/Citra Prastuti)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

ARTIKEL TERKAIT

KBR, Jakarta - Kelompok gerakan masyarakat sipil Kartini Kendeng dan Aksi Kamisan mendapatkan penghargaan Suardi Tasrif atau Tasrif Award dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.

Salah seorang anggota Dewan Juri Tasrif Award, Dhyta Caturani mengatakan, dewan juri sepakat memberikan penghargaan karena kedua kelompok masyarakat itu dianggap konsisten memperjuangkan keadilan melalui aksi damai.

Pada 27 Juli lalu, Aksi Kamisan dengan berdiri di depan Istana Negara menggunakan payung hitam sudah menginjak aksi ke-500.

Sedangkan Maret 2017, Kartini Kendeng bersama para petani di deret Pegunungan Kendeng menggelar aksi memasung kaki dengan semen di depan Istana. Sejak 2006, Kartini Kendeng telah melakukan aksi melawan rencana pendirian pabrik semen oleh korporasi di pelbagai wilayah, terutama PT Semen Indonesia di Rembang.

"Bagi kami, keduanya layak dan harus jadi pemenang. Bagi kami mereka saling bersinggungan dan taut-menaut dalam gerakan sosial dan politik di Indonesia. Keduanya digerakkan oleh perempuan. Keduanya memiliki karakteristik aksi damai yang serupa. Keduanya acap aksi bersama. Keduanya mata rantai yang kuat dan saling mengkait dalam satu rantai panjang perjuangan keadilan Indonesia," tutur Dhyta Caturani di Jakarta, Senin (7/8/2017).

"Rantai inilah yang akan turut menghancurkan budaya kekebalan hukum dan impunitas yang hingga kini masih terus melahirkan pelanggaran HAM baru seperti yang terlihat dalam kasus Novel Baswedan," kata Dhyta, aktivis sosial yang termasuk salah satu penggagas Festival Belok Kiri.

Penghargaan Tasrif Award, kata Dhyta, diharapkan juga mampu menggugah pemerintah agar tak abai menuntaskan persoalan HAM dan ketidakadilan.

"Agar masyarakat turut menjemput perjuangan yang sudah diawali pemenang dalam bentuk solidaritas dan perhatian. Agar pemerintah ingat mandat mewujudkan keadilan sosial, dengan rakyat sebagai junjungan utama bukan batu tumpuan," tambah Dhyta.

Dewan juri Tasrif Award 2017 menilai aksi dua kelompok masyarakat sipil bisa mendorong pers untuk mewartakan dan menggali fakta-fakta yang selama ini diabaikan atau bahkan ditutupi.

Baca juga:

Koordinator Divisi Advokasi AJI Indonesia Iman Nugroho mengatakan, AJI menerima 15 usulan kandidat peraih penghargaan Suardi Tasrif. Penghargaan Suardi Tasrif sudah diberikan sejak 1997 ke kelompok atau lembaga yang gigih memperjuangkan kemerdekaan berpendapat untuk mengungkap fakta.

Sukinah, mewakili Kartini Kendeng mengatakan Kartini Kendeng tidak hanya melibatkan perempuan Kendeng, melainkan juga dari Pati, Rembang, Blora dan Grobogan.

"Apa yang kami lakukan sejak 2013, saya bersama dulur-dulur Kendeng melakukan aksi demo, mulai di tingkat kabupaten sampai provinsi. Namun tidak pernah didengarkan. Jadi pada 2014 kami membuat tenda di pintu pabrik Semen Indonesia. Saya dan dulur-dulur tidak menolak pabrik semen, tidak menolak semen. Tapi yang ditolak itu tempatnya yang tidak pas di sana, karena yang kami minta Jawa Tengah itu sebagai keseimbangan Pulau Jawa. Kalau Jawa Tengah rusak, maka Jawa rusak semua," kata Sukinah dalam bahasa Jawa halus, ketika mewakili Kartini Kendeng memberi sambutan usai menerima penghargaan Tasrif Award 2017.

Aksi Kartini Kendeng selama bertahun-tahun diwarnai meninggalnya Yu Patmi (48 tahun), ketika mengikuti aksi cor kaki dengan semen di depan Istana Merdeka, Jakarta, pada 21 Maret 2017.

Hampir sama dengan aksi Kartini Kendeng, Aksi Kamisan yang mendapat Tasrif Award juga jatuh korban. Seorang mahasiswa dari Universitas Bung Karno, Sondang Hutagalung (22 tahun) yang kerap ikut Aksi Kamisan melakukan aksi bakar diri pada Rabu (7/12/2011).

"Ketika dia melihat perjuangan yang tidak memberikan perjuangan, dia melakukan bakar diri. Tapi ini juga tidak mendapat perhatian dari pemerintah," kata Sumiarsih ketika memberikan sambutan mewakili Aksi Kamisan usai menerima penghargaan Tasrif Award 2017.

"Mengapa kami tetap bertahan untuk melakukan aksi? Kami melakukan aksi diam, aksi untuk menegakkan supremasi hukum. Kami sadar, orang-orang yang kami cintai sudah meninggalkan kami. Tapi kami berjuang agar ke depan tidak terjadi pelanggaran HAM berat lagi," tambah Sumiarsih didampingi Suciwati Munir.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Polisi Buru Penyebar Hoaks Gunung Agung Meletus

  • Frekwensi Kegempaan Gunung Agung Meningkat
  • Anak-anak Pengungsi Gunung Agung Mulai Belajar di Sekolah Terdekat
  • Pansus Angket KPK Akan Sampaikan Laporan Sementara Besok