Rokok Harus Mahal untuk Lindungi Anak Indonesia

Bila harga rokok makin mahal daya beli masyakat terhadap rokok akan turun. Diharapkan uang belanja rokok bisa dialihkan untuk membeli makanan bergizi dan biaya pendidikan juga kesehatan.

Rabu, 25 Jul 2018 09:40 WIB

KBR, Jakarta - Anak Indonesia baru saja memperingati Hari Anak Nasional 2018. Tema tahun ini adalah “Anak Indonesia, Anak GENIUS (Gesit, Empati, Berani, Unggul, Sehat).” Salah satu faktor yang mendukung lahirnya anak GENIUS adalah tercukupinya hak-hak dasar mereka termasuk asupan gizi yang maksimal.

Tapi upaya mendapatkan makanan bergizi ini kerap berkurang karena belanja keluarga lebih banyak porsinya untuk rokok. Apalagi di kalangan masyarakat miskin, belanja rokok menduduki posisi kedua dalam belanja rumah tangga. 

Lisda Sundari, Ketua Yayasan Lentera Anak Indonesia, mengatakan pengeluaran untuk rokok tiga kali lebih banyak daripada untuk beli telur, lima kali lebih banyak dari pada untuk pendidikan, dan 13 kali lebih banyak dari pada untuk kesehatan.

“Artinya keluarga miskin lebih banyak mengeluarkan uangnya untuk beli rokok daripada untuk kebutuhan anak-anak. Itu bisa mengancam hidup hak anak,” kata Lisda. 

Menurut Lisda ada beberapa hal yang menjadikan prevalensi perokok di Indonesia cukup tinggi. 

“Kalau kita berbicara keterjangkauan, kita berbicara soal keberadaannya. Maksudnya ketersediaan rokoknya. Kedua harganya yang murah. Dan ketiga, kemudahan untuk membelinya,” ujarnya.

Selain belanja makanan yang berkurang karena belanja rokok, anak yang terpapar asap rokok juga berpotensi mengalami stunting atau kekerdilan dan masalah kesehatan lainnya.

Dr Sophiati Sutjahjani, M.Kes., Ketua Majelis Kesehatan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur mengatakan stunting merupakan masalah keempat terbesar di Indonesia. 

“Stunting itu selain pendek ternyata juga kecerdasannya menurun. Bagaimana anak bangsa kita nanti, kecil dan tidak pintar,” kata Sophiati.

Karena itu berbagai upaya perlu dilakukan berbagai pihak agar rokok makin tidak terjangkau terutama bagi masyakat miskin.

Lisda mengatakan survei yang dilakukan lembaganya tahun lalu menemukan bahwa industri rokok mempromosikan rokok dengan menyebutkan harganya per batangnya. 

“Seribu per batang, atau misalnya 12 ribu per 12 batang. Jadi promosinya sudah promosi harga batangan,” ungkap Lisda. 

Karena itu Dr Santi Martini, dr. M.Kes., Wakil Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga mengatakan untuk mengendalikan pertumbuhan jumlah perokok harus dengan mengendalikan konsumsi. 

“Banyak upayanya, salah satunya adalah meningkatkan harga rokok itu sendiri,” kata Santi.

Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) Selasa (17/7/2018) lalu merilis survei “Dukungan Publik terhadap Harga Rokok”. Temuan utama dari survei ini adalah sebagian besar perokok akan berhenti merokok jika harganya naik menjadi Rp 70 ribu per bungkus.

Bila harga rokok makin mahal daya beli masyakat terhadap rokok akan turun. Diharapkan uang belanja rokok bisa dialihkan untuk membeli makanan bergizi dan biaya pendidikan juga kesehatan.

Lisda menambahkan harga rokok mahal bukan hanya melindungi anak-anak agar tidak lagi bisa membeli rokok, tapi juga untuk melindungi keluarga miskin agar belanja rokok keluarga bisa dialihkan untuk kebutuhan anak-anak.

Selain menaikkan harga rokok, pendekatan agama juga dilakukan untuk mengurangi atau mendorong orang berhenti merokok.

Sophiati mengatakan anak sangat berperan penting dalam menghentikan kebiasaan merokok orangtua terutama ayah. 

“Guru TK, guru TK didorong untuk mempunyai keterampilan mengajarkan kepada anak-anak didiknya di TK, termasuk juga yang di SD, untuk menyampaikan pesan, terutama murid wanita. Biasanya kan murid wanita dekat dengan ayahnya dengan menyampaikan pesan kepada ayahnya, “Ayah, jangan merokok,” “Ayah, aku sayang ayah,”” ujarnya.

Menurut Sophiati itu karena sebagian besar perokok di Indonesia adalah laki-laki dan dia mengklaim cara ini cukup berhasil. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Pemerintah sebagai pengemban amanah konstitusi harus yakin dan percaya diri dalam mengendalikan konsumsi rokok. Konstitusi mengamanahkan agar konsumsi rokok diturunkan demi kesehatan masyarakat.