Mahasiswa UGM Kembangkan Mobil Pintar Pengolah Plastik Jadi Bahan Bakar

"Idenya adalah memanfaatkan panas dari gas buang mobil untuk mengonversi limbah plastik."

Senin, 23 Jul 2018 20:17 WIB

Tim Smart Car MSC UGM saat menjelaskan gagasan Mobil Pengolah Plastik Jadi Bahan Bakar. (Foto: UGM.ac.id/ Fristo)

KBR, Yogyakarta - Empat mahasiswa jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengembangkan gagasan membuat mobil pintar pengolah plastik menjadi bahan bakar alternatif. Tergabung dalam tim Smart Car MCS UGM, empat mahasiswa itu adalah Herman Amrullah, Sholahuddin Alayyubi, Thya Laurencia Benedita Araujo dan Naufal Muflih.

"Idenya adalah memanfaatkan panas dari gas buang mobil untuk mengonversi limbah plastik. Hasilnya adalah minyak mentah yang siap diolah lebih lanjut menjadi bahan bakar alternatif," jelas Herman Amrullah, juru bicara tim Smart Car MCS UGM di Yogyakarta, Senin (23/7/2018).

Ia menerangkan, dalam gagasan tersebut, tim memasang seperangkat alat pada mobil. Termasuk, reaktor pirolisis yang mampu menampung dua kilogram sampah plastik. Reaktor itu terhubung dengan pengolah panas dan wadah cairan bahan bakar mentah. Dari bahan yang ada, dapat dihasilkan sekitar dua liter bahan bakar mentah.

Guna mengurangi gas karbon yang dihasilkan, para mahasiswa ini memakai teknologi Microalgae Cultivation Support (MCS). Tim menyarankan untuk menghindari plastik PVC karena hasil pembakarannya bersifat korosif dan polutif.

"Penelitian tentang pirolisis plastik sudah banyak yang melakukan. Ada yang memakai LPG dan sebagainya untuk sumber panas. Kami mencari sumber panas yang gratis. Gas knalpot mobil kan panasnya tinggi dan terbuang percuma. Panasnya bisa mencapai 800 derajat Celcius. Kami cuma butuh 500 derajat," lanjut Herman di kampusnya.

Baca juga:

Herman menuturkan, kendala yang dihadapi timnya sekarang adalah mendapatkan kesempatan menguji coba gagasan pada mobil sungguhan. Dalam gagasannya, mobil yang digunakan adalah tipe MPV dan SUV. "Yang masih menjadi kendala adalah penelitian langsung pake mobil. Sekarang soalnya masih sebatas penelitian laboratorium," terangnya.

Ide membuat mobil pintar pengubah plastik menjadi bahan bakar alternatif ini sukses mengantarkan Smart Car MCS menjadi juara dunia kompetisi Shell Ideas 360 di London, Inggris pada 5-8 Juli 2018. Tim Smart Car MCS unjuk gigi dengan memenangi Judges Choice dan Audience Voice.

Tim dari UGM ini menang dengan menyingkirkan empat finalis dunia, antara lain tim tangguh dari American University of Sharjah (UAE), University of Texas at Austin (USA), University of Bordeaux (Perancis) dan University of Melbourne (Australia).

"Seluruhnya ada tiga ribu lebih tim mahasiswa dari 140 negara di dunia yang mengirimkan ide mereka," ungkap Herman.

UGM tengah mengajukan proses untuk mendapatkan paten dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi guna melindungi ide tim Smart Car MCS.

"Sekarang sedang proses melengkapi dokumen persyaratan. Kemarin sempat mendapatkan coaching," kata Yano Surya Pradana, pembimbing tim Smart Car MCS. Yano pun menjelaskan, para mahasiswa terus berusaha menyempurnakan gagasan dengan aplikasi riil di laboratorium dan membuat prototipe. Selain itu, menjalin kerja sama dengan perusahaan otomotif untuk proses pengujian. Sebelum bahan bakar alternatif tersebut resmi digunakan untuk kendaraan, kembali hasil penelitian tim Smart Car MCS akan dipatenkan terlebih dahulu.

"Ini agar bahan bakar mereka tidak diklaim oleh orang lain," tandas Yano.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Pemerintah sebagai pengemban amanah konstitusi harus yakin dan percaya diri dalam mengendalikan konsumsi rokok. Konstitusi mengamanahkan agar konsumsi rokok diturunkan demi kesehatan masyarakat.