TKI Sembunyi Mengenaskan di Hutan Malaysia, Kemenlu Sulit Melacak

"Kita saat ini cuma bisa menunggu, kita berharap mereka keluar dari persembunyian. Itu pasti kita bisa melakukan bantuan," kata Wakil Dubes RI untuk Malaysia Andreano Erwin.

Jumat, 14 Jul 2017 23:27 WIB

Ilustrasi. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Kementerian Luar Negeri mengaku kesulitan mencari dan memberikan perlidungan kepada warga negara Indonesia (WNI) yang melarikan diri hingga ke hutan untuk menghindari razia kependudukan yang dilakukan Pemerintah Malaysia.

Meski demikian, Direktur Perlindungan WNI dari Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengatakan koordinasi pemerintah Indonesia-Malaysia terus dilakukan hingga saat ini untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut.

Dalam koordinasi itu, kata Iqbal, pemerintah Indonesia mendesak pemerintah Malaysia agar memperlakukan dengan baik WNI yang terjaring razia.

"Dengan berakhirnya proses pendaftaran untuk Rehiring pada tanggal 30 Juni lalu, kita sudah meminta kepada pemerintah Malaysia beberapa hal. Satu kita minta akses kekonsuleran dan KBRI sudah dapatkan. Kedua, jaminan agar TKI kita yang ditangkap mendapatkan perlakukan yang baik dari mulai ditangkap hingga dipulangkan dan ketiga kita menginginkan prosesnya dipercepat," kata Iqbal di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (14/7/2017).

Menurut informasi yang diterima Kemenlu, otoritas Malaysia sudah menangkap 695 orang WNI berstatus pendatang asing tanpa izin (PATI). Mereka saat ini sedang dalam tahap penyelidikan oleh pihak penegak hukum Malaysia.

Iqbal mengatakan perwakilan Indonesia sudah berhasil mengunjungi TKI yang ditahan di depo Bukit Jalil sebanyak 300 orang.

"Dari 300 WNI yang ditahan, semua dalam kondisi baik. Mereka diberi makan dua kali sehari, snack juga dua kali sehari," kata Iqbal.

Baca juga:


Keterbatasan KBRI

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia mengklaim memiliki keterbatasan untuk membantu para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal, yang saat ini masih dalam persembunyian. Saat ini, KBRI berharap para TKI yang bersembunyi keluar dari persembunyian mereka.

Wakil Dubes RI untuk Malaysia, Andreano Erwin menyadari jika para TKI ilegal yang saat ini bersembunyi membutuhkan perhatian dan bantuan. Namun ia mengatakan KBRI memiliki keterbatasan dalam membantu mereka.

"Saya tahu saudara-saudara kita memiliki pilihan terbatas dan akhirnya memutuskan menjadi TKI ilegal. Namun ketika mereka ilegal, kami juga memiliki keterbatasan untuk membantu mereka. Kalau yang legal, tentunya kami memiliki banyak pilihan untuk membantu mereka jika memiliki masalah. Tentunya jika mereka datang ke KBRI kita bisa bantu, tetapi kalau sekarang bersembunyi, kita kan tidak tahu mereka dimana," kata Andreano Erwin saat dihubungi KBR, Rabu (12/7/2017).

Andreano mengakui saat ini para TKI yang bersembunyi sangat membutuhkan bantuan seperti makanan, atau kebutuhan lainnya. Namun ia mengatakan akan lebih baik jika para TKI itu keluar dari persembunyian untuk lepas dari masalah.

"Kita saat ini cuma bisa menunggu, kita berharap mereka keluar dari persembunyian. Itu pasti kita bisa melakukan bantuan," kata Andreano.

Andreano mengatakan komunikasi KBRI dengan pihak Malaysia memang tidak terganggu. Namun, KBRI tidak bisa begitu saja meminta Malaysia menyudahi razia yang saat ini  masih dilakukan.

"Begini, jika kita tinggal di negara orang, harus mengikuti aturan negera itu. Komunikasi kita dengan pihak Malaysia berjalan baik, namun kita tetap harus menghormati apa yang sedang dilakukan pihak Malaysia sekarang. Dalam waktu dekat, pihak Malaysia sudah berjanji untuk memberikan waktu bagi kita bertemu dengan TKI yang ditahan, nanti kita akan lakukan pendataan agar keluarga bisa menghubungi dan tidak cemas lagi," kata Andriano.

Baca juga:

 
Kondisi mengenaskan

Sebelumnya, LSM advokasi buruh migran Migrant Care Indonesia meminta pemerintah bergerak cepat melobi pemerintah Malaysia, agar nasib buruh migran yang saat ini bersembunyi di hutan bisa menemui kejelasan.

Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah mengatakan saat ini selain para buruh migran dewasa yang sembunyi, banyak juga dari mereka yang membawa serta bayi dan anak-anaknya ke dalam hutan.

Anis meminta pemerintah memastikan kebutuhan para buruh migran yang sembunyi bisa tercukupi.

LSM Migrant Care juga meminta pemerintah Malaysia tidak bertindak represif. Anis Hidayah mengatakan razia di Malaysia selama ini kerap disalahgunakan oleh aparat Malaysia untuk melakukan tindakan sewenang-wenang. Selain itu, banyak tindakan melanggar hukum yang selalu terjadi ketika petugas melakukan razia.

Sementar itu, aktivis Migrant Care Malaysia Alex Ong meminta Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Indonesia, Hanif Dhakiri segera datang menemui pihak Imigrasi Malaysia. Alex Ong menilai hingga saat ini belum terlihat adanya lobi serius untuk menangani kasus ini.

Aktivis Migrant Care Malaysia, Alex Ong mengatakan jika dilihat dari sisi lobi, jawaban dari Dirjen Imigrasi Malaysia sudah cukup jelas. Otoritas Malaysia menyatakan kebijakan yang dilakukan sekarang adalah otoritas negara mereka. Karena itu Malaysia tidak akan memperpanjang program izin kerja sementara.

Alex Ong berharap ada delegasi Indonesia yang datang ke Malaysia melakukan lobi.

"Kalau kita lihat, pemerintah Indonesia mungkin sudah membuat pernyataan. Tapi kapan mau datangnya? Kapan Hanif mau datang ke Malaysia, kapan Deplu mau bertemu dengan Deplu Malaysia?," kata Alex Ong saat dihubungi KBR, Jumat (14/7/2017).

Alex mengatakan Migrant Care tidak bisa mendapatkan akses untuk menjenguk para TKI tak berdokumen yang ditahan di Malaysia.

"Kita tidak bisa sembarang jenguk, hanya konselor saja yang bisa lihat. Dan pihak Malaysia sudah memberikan akses itu untuk KBRI. Semoga KBRI nanti bisa memberikan informasi mengenai kondisi TKI yang ditahan," kata Alex Ong.

Alex menambahkan, saat ini kondisi TKI yang mencari perlindungan di hutan atau gorong-gorong dalam kondisi makin terdesak. Razia juga terus dilakukan pihak Malaysia. Saat ini TKI yang bersembunyi terus membutuhkan bantuan makanan, perlengkapan dan obat-obatan.

"Kondisi TKI yang bersembunyi makin terdesak, kita minta KBRI jangan hanya menunggu. Turun ke lapangan dan buat crisis centre. Kalau kami yang datang ke KBRI, belum tentu juga diterima mereka. Saya mengingatkan, kondisi TKI yang berada di hutan dan terowong itu sangat terancam jiwanya. Karena saat ini cuaca di Malaysia sangat tidak menentu," tambah Alex Ong.
 

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1