Petani Rejang Lebong Mengeluh, Tanaman Cabai Kena Penyakit Kuning

"Kalau kuning daun seperti ini akibatnya pertumbuhan batang menjadi kerdil sehingga buah jadi sedikit," kata Amir.

Selasa, 18 Jul 2017 17:22 WIB

Tanaman cabai di Rejang Lebong Bengkulu terserang penyakit kuning atau pirang, Selasa (18/7/2017). (Foto: KBR/M Anthoni)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Rejang Lebong - Kondisi cuaca di kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu yang tidak menentu beberapa pekan terakhir menyebabkan pertanian cabai banyak di serang hama penyakit.

Di Desa Air Merah, Kecamatan Curup Tengah, tanaman cabai warga mulai terserang penyakit kuning daun.

Salah seorang petani cabai, Amir mengatakan serangan penyakit kuning daun atau biasa dikenal warga lokal dengan sebutan pirang sudah terjadi sejak dua bulan terakhir.

"Kalau kuning daun seperti ini akibatnya pertumbuhan batang menjadi kerdil sehingga buah jadi sedikit," kata Amir kepada KBR yang mendatangi lahan pertaniannya di Desa Air Merah Curup Tengah, Selasa (18/7/2017).

Akibat penyakit kuning daun tersebut, para petani merugi hingga jutaan rupiah karena jumlah buah berkurang. Ditambah lagi harga cabai terus anjlok di pasaran.

"Sudah pasti target kita untuk mendapat untung tidak akan tercapai, untuk balik modal saja mungkin susah. Padahal umur cabai ini baru dua bulan lebih," kata Amir.

Lahan garapan Amir seluas setengah hektare dengan modal sekitar Rp10 juta rupiah, termasuk untuk membeli tiga gulung plastik mulsa. Pantauan KBR kondisi tanaman cabai di lahan tersebut rata terserang penyakit kuning daun.

Petani cabai lainnya, Wawan mengeluhkan tanaman cabainya mengalami penyakit busuk buah dan busuk kering.

"Gagal panen mas, hampir rata-rata tanaman cabai saya mengalami busuk buah dan busuk kering. Untuk sementara ini pantauan dari pemerintah juga belum ada," kata Wawan dari Desa Suban Ayam Kecamatan Selupu Rejang.

Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Rejang Lebong Solahudin mengatakan serangan penyakit cabai tersebut dikarenakan perubahan cuaca yang secara mendadak dan tidak bisa diprediksi.

"Bisa jadi karena pengaruh cuaca, seperti musim hujan kemudian panas yang mendadak. Biasanya bisa diatasi jika sebelum terserang penyakit lebih dulu disemprot pestisida," kata Solahuddin.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Kuasa Hukum: Ada Gangguan di Otak Setnov

  • Beredar Surat Dari Novanto Soal Jabatannya, Fahri Hamzah: Itu Benar
  • Gunung Agung Meletus, Warga Kembali Mengungsi
  • Kasus PT IBU, Kemendag Bantah Aturan HET Beras Jadi Biang Penggerebekan