Penodaan Agama, Dokter Otto Siap Menghadapi Tuntutan Jaksa

“Seperti yang saya sampaikan di persidangan tadi, kenapa tuntutan ditunda,"

Rabu, 05 Jul 2017 13:40 WIB

Dokter Otto Rajasa terdakwa kasus penodaan agama di Balikpapan, Kaltim. (Foto: KBR/Teddy R.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Balikpapan– Sidang penodaan agama dengan agenda pembacaan tuntutan yang rencananya dibacakan hari ini di Pengadilan Negeri Balikpapan terpaksa ditunda.  Jaksa Penuntut Umum Rahmad Isnaini mengatakan, sidang ditunda karena materi tuntutan belum selesai. Rencananya, sidang akan kembali digelar Senin (10/07) pekan depan.
 
Dalam kasus itu, Otto Rajasa (40) seorang   dokter menjadi tersangka karena dianggap melakukan penodaan agama melalui media sosial.  Dokter di salah perusahaan swasta di Kota Balikpapan terjerat kasus  karena postingannya di media social yang mengkritisi aksi 212 di Jakarta.  Oto didakwa pasal berlapis Undang-undang ITE Nomor 11 Tahun 2008 yakni pasal 28 (2) jo pasal 45 ayat 2  dengan ancaman 6 tahun dan pasal 156a dengan ancaman 5 tahun penjara.
 
“Seperti yang saya sampaikan di persidangan tadi, kenapa tuntutan ditunda, karena tuntutan belum selesai. Kalau dengar pertanyaan hakim silahkan saja, tapi jawaban saya seperti itu tuntutan belum selesai,” ujar Rahmad Isnaini, Rabu (06/07).

Dokter Oto  usai sidang mengatakan, siap menghadapi pembacaan tuntutan. Dia juga melalui kuasa hukumnya telah menyusun pledoi yang akan dibacakan 17 Juli mendatang.
 
Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.