Pemkot Solo Segel Puluhan Kios PKL

"Ada 35 kios shelter PKL di Sriwedari yang kami segel karena lama mangkrak, tidak dipakai berjualan."

Rabu, 12 Jul 2017 20:57 WIB

Shelter kios PKL di kawasan Sriwedari Solo disegel karena mangkrak ditinggal pedagang kaki lima, Rabu (12/7/2017). (Foto: KBR/Yudha Satriawan)

KBR, Solo - Pemerintah Kota Solo Jawa Tengah menyegel puluhan shelter atau kios Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berada di kawasan Stadion R Maladi, Sriwedari, Solo.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Solo, Subagyo mengatakan puluhan kios PKL itu mangkrak karena PKL enggan berdagang dengan alasan omzet menurun pasca direlokasi ke kawasan tersebut.

"Kami sudah memikirkan mereka para PKL itu. Kami berikan lokasi berdagang, kios, gerobak, promosi, dan lain-lain. Lha kok malah mereka mengembalikan fasilitas itu? Ya kita terima, dengan senang hati," kata Subagyo di Solo, Rabu (12/7/2017).

Ada sekitar 60 shelter PKL di Kawasan Sriwedari. Sebagian PKL masih membuka lapak di wilayah itu, namun sebagian besar disegel pemerintah daerah karena kios atau shelter itu mangkrak. Pedagang enggan menggunakan untuk berdagang.

"Ada 35 kios shelter PKL di Sriwedari yang kami segel karena lama mangkrak, tidak dipakai berjualan. Nanti kami ganti dengan antrean peminat lainnya. Saat ini masih ada sekitar 40 PKL yang ingin berdagang di situ, jadi tidak ada masalah. Ada PKL dari luar Solo yang ikut antre, tapi kami akan prioritaskan PKL dari Solo dulu," kata Subagyo.

Surat penyegelan dipasang Pemerintah Kota Solo di setiap kios shelter yang mangkrak. Lokasi shelter PKL di Sriwedari berada di belakang Stadion R Maladi. Lokasi ini berbeda dengan lokasi para PKL yang dulu berjualan di sepanjang jalur protokol Slamet Riyadi di depan Stadion R Maladi maupun Jalan Dr Radjiman yang berada di belakang Stadion.
 
Editor: Agus Luqman
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.