Pemkot Bandung Disarankan Bentuk Pusat Pencegahan Bunuh Diri

Mengingat, kata anggota perhimpunan dokter kesehatan jiwa Tedy Hidayat, dalam sepekan sudah terjadi 2 kasus bunuh diri. Dia menganggap, hal tersebut bisa menjadi indikator kedaruratan kondisi.

Minggu, 30 Jul 2017 20:38 WIB

KBR, Bandung - Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) daerah Jawa Barat menyarankan Pemkot Bandung membentuk pusat layanan penanganan usaha bunuh diri. Mengingat menurut salah satu anggota perhimpunan Tedy Hidayat, kasus bunuh diri di kota itu dalam sepekan sudah terjadi dua kali.

Kejadian pertama terjadi pada Senin (24/7) pekan lalu di Apartemen Gateway, Cicadas. Tiga hari kemudian, Kamis (27/7), seorang pria usia 25 meninggal setelah dirawat di RS Hasan Sadikin Bandung. Warga Kota Bandung itu sebelumnya melakukan percobaan bunuh diri di kawasan jalan layang (flyover) Pasupati.

Tedy menganggap kedua insiden yang terjadi sepekan berturut itu sudah bisa menjadi indikator kedaruratan kondisi.

"Harusnya Kota Bandung ini ada yang namanya suicide prevention center atau pusat pencegahan usaha bunuh diri. Pusat seperti ini sampai hari ini, juga belum kelihatan meski ada beberapa LSM melakukan itu tapi jangkauannya terbatas," kata Tedy Hidayat, Minggu (30/7).

Baca juga:

Anggota perhimpunan dokter kesehatan jiwa itu menjelaskan, pusat pencegahan menjadi penting karena membuka ruang konsultasi bagi seseorang yang berencana bunuh diri. Salah satunya misalnya, karena depresi.

Tedy menerangkan, apabila seseorang yang mengalami depresi sudah menceritakan keinginan atau masalahnya, maka risiko melakukan bunuh diri pun akan menurun.

"Jadi yang penting biasanya kalau kita bisa komunikasi dengan orang itu. Dengan upaya komunikasi itulah mengajak para korban ini untuk tidak melakukan tindakan itu (bunuh diri)."

Untuk menekan percobaan bunuh diri di Kota Bandung, perkumpulannya bersama Palang Merah Indonesia (PMI) dan LSM tengah merancang sistem pelayanan penanganan usaha bunuh diri.

Baca juga:

Teknis pelaksanaannya dilakukan sepenuhnya oleh petugas PMI. Layanan tersebut juga dilengkapi call center (pusat layanan informasi) seperti pada Dinas kesehatan.

"Jika terjadi situasi emergency seperti itu (percobaan bunuh diri), sekitar 10 menit orang kami sudah datang ke lokasi," tambah Tedy.

Pemilihan PMI untuk menangani langsung percobaan bunuh diri, karena petugasnya dianggap telah memiliki kompetensi. Layanan ini kata dia mestinya juga bisa dilakukan oleh polisi. Mengingat polisi kerap kali datang lebih awal di lokasi kejadian bunuh diri. Namun sayang, kata dia, polisi belum dibekali kemampuan berkomunikasi atau menangani orang-orang yang mengalami depresi.

"Mereka kan kan tidak pernah dilatih. Polisi itu tugas globalnya menangkap penjahat tapi menangani yang depresi atau psikotik barangkali perlu pelatihan lagi," jelas Tedy.




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Klaim Kantongi Dukungan Parpol di Pilgub Jatim, Khofifah Tunggu Restu Presiden

  • Arus Mudik Idul Adha, Tol Fungsional Brebes-Gringsing Tidak Dibuka
  • LN: Tersangka Teroris Barcelona Ungkap Rencana Serangan Besar
  • FI Gelar Kejuaraan E-sport

Indonesia baru merayakan dirgahayu yang ke-72. Ada banyak harapan membuncah untuk generasi penerus yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.