Novel Baswedan Bakal Jalani Cangkok Kornea Mata dari Gigi, Seperti Apa Itu?

Salah satu indikasi pasien memerlukan operasi cangkok kornea mata buatan adalah pasien yang mengalami luka bakar akut akibat bahan kimia, cedera akibat panas, atau proses cangkok kornea yang gagal.

Rabu, 12 Jul 2017 14:55 WIB

Penyidik senior KPK Novel Baswedan usai menjalani operasi mata di Rumah Sakit Singapura, Kamis (18/5/2017). (Foto: Tim KPK)

KBR,  Jakarta - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan akan menjalani pencangkokan pada kornea matanya yang rusak akibat siraman air keras dari orang tak dikenal.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan saat ini sedang dikaji kemungkinan transplantasi cangkok kornea mata Novel menggunakan struktur yang diambil dari gigi.

"Nanti kita lihat, akan ada pengobatan artifisial atau buatan. Dari giginya nanti akan dicangkok ke mata," kata Saut di Jakarta, Rabu (12/7/2017).

Kornea mata Novel Baswedan rusak akibat siraman air keras oleh dua orang tak dikenal pada Selasa, 11 April 2017 usai salat subuh berjamaah. Sudah 92 hari atau lebih dari tiga bulan sejak peristiwa itu, Novel masih menjalani perawatan di rumah sakit, mulai dari Jakarta hingga Singapura. Mabes Polri belum berhasil mengusut pelaku penyiraman air keras itu.

Operasi Gigi ke Mata

Kornea mata yang rusak dan tidak tertangani biasanya dilakukan transplantasi atau pencangkokan. Transplantasi kornea merupakan prosedur pembedahan untuk mengganti kornea yang rusak atau kotor dengan kornea dari donor yang masih jernih untuk memperbaiki penglihatan.

Namun untuk kondisi kerusakan kornea mata akut yang tidak bisa ditangani dengan cara transplantasi kornea dari donor, maka jalan lain adalah dengan menggunakan metode pencangkokan kornea artifisial (kornea buatan) atau disebut Osteo-Odonto Keratoprosthesis (OOKP).

OOKP merupakan prosedur operasi dengan kerumitan tingkat tinggi, berupa pencangkokan kornea artifisial menggunakan gigi taring pasien atau gigi taring dari pendonor. Prosedur ini pertama kali diperkenalkan oleh dokter opthalmic (ahli bedah mata) asal Italia, Benedetto Strampelli pada 1960-an.

Salah satu rumah sakit di Singapura yang pertama kali melakukan pencangkokan kornea buatan menggunakan gigi adalah Singapore National Eye Center (SNEC). SNEC sudah melakukan prosedur operasi, yang belakangan dikenal dengan istilah operasi "Tooth-in-Eye", sejak 2004. Ada lebih dari 30 pasien dari kawasan Asia Pasifik yang menjalani operasi OOKP di SNEC.

Situs resmi SNC menyebutkan pasien yang menjalani prosedur cangkok kornea artifisial biasanya sudah mengalami tingkat kebutaan kornea tahap akhir atau akut, yang tidak bisa ditangani dengan cara operasi transplantasi kornea atau operasi lain.

Kondisi itu biasanya terjadi ketika pasien mengalami luka atau kerusakan akut pada bagian depan mata seperti kornea, sklera dan konjuntiva (selaput pelindung pada permukaan mata).

Salah satu indikasi pasien yang memerlukan operasi ini adalah pasien yang mengalami luka bakar akut dari bahan kimia, cedera akibat panas, atau karena cangkok kornea yang gagal.

Operasi "Tooth-in-Eye" dilakukan dalam dua tahap dengan rentang waktu antara enam hingga delapan minggu.

Tahap pertama adalah pengambilan gigi taring pasien hingga ke akarnya. Gigi itu dibentuk menjadi kubus yang memiliki lubang di bagian tengah. Di bagian tengah ditanam kornea plastik artifisial atau silinder optik, yang berfungsi menyalurkan cahaya ke retina mata.

Selanjutnya struktur gigi itu ditanam di pipi pasien untuk menumbuhkan pembuluh darah baru. Pada saat yang sama, bagian jaringan mata yang rusak disingkirkan, kemudian permukaan mata ditutup lapisan pelindung yaitu jaringan yang diambil dari lapisan mukosa pada pipi.

Selang enam hingga delapan minggu kemudian dilakukan operasi tahap kedua. Lapisan mata yang dilindungi lapisan pipi itu dibuka. Setelah kornea dibuka, iris dan lensa mata diambil. Kemudian struktur gigi yang ditanam di pipi pasien dipindahkan ke mata kemudian dilapisi lapisan pipi.

Dua minggu kemudian perban mata bisa dibuka, dan beberapa jam kemudian pasien sudah mulai bisa membedakan obyek di depannya.

Baca juga:


Resiko kegagalan
 
Metode operasi OOKP ini tetap memiliki resiko kegagalan. Setidaknya menurut kajian opthalmologis dari RS Brighton Inggris, Prof Christopher Liu. Kajian Prof Liu menyebutkan sebanyak 19 persen pasien mengalami trauma pada lamina (lapisan tipis pada mata) hingga glaukoma setelah periode jangka panjang.

Meski begitu, sebuah studi yang dipublikasikan Ralph Michael dan kawan-kawan pada Agustus 2008 menunjukkan peluang mempertahankan keberlangsungan hasil operasi OOKP lebih tinggi dibandingkan prosedur OKP biasa.

Studi lain yang dilakukan ahli bedah mata dari Roma, Giancarlo Falcinelli dan dipublikasikan pada 2005 menyebutkan setelah 18 tahun pascaoperasi, tingkat keberlangsungan kejernihan mata hasil operasi mencapai 85 persen.

Editor: Agus Luqman
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

BIN Tak Susun Daftar HTI

  • Dosen IPB: HTI Sudah Dibubarkan, Saya Bukan Anggota Lagi
  • Jet Tempur Cina Cegat Pesawat AS di LCS
  • Juventus Resmi Rekrut Bernardeschi Seharga Rp 619 Miliar

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.