Musik Metal Pembawa Pesan Oleh dan Untuk Perempuan Muslim

Anggotanya adalah tiga gadis remaja berjilbab dari sebuah desa di Jawa Barat.

Senin, 17 Jul 2017 08:05 WIB

Band Voice of Baceprot (Ki-Ka Widi, Siti, Firdda). (Foto: Nicole Curby)

Band Voice of Baceprot (Ki-Ka Widi, Siti, Firdda). (Foto: Nicole Curby)

Band metal Voice of Baceprot tengah jadi pembicaraan di Indonesia. Anggotanya adalah tiga gadis remaja berjilbab dari sebuah desa di Jawa Barat. Keterampilan mereka bermain gitar dan drum menghasilkan musik yang menurut banyak orang tidak seharusnya mereka lakukan. Kita simak laporan Nicole Curby yang bertemu ketiganya di Jakarta.

Siti, Widi dan Firdda bertubuh mungil tapi suara dari band mereka, Voice of Baceprot, terdengar sebaliknya. Ketika saya bertemu mereka, ketiga gadis itu berpakaian serba hitam mulai dari jilbab sampai sepatu kets. Ujung jari mereka terlihat biru dan tergores akibat berjam-jam latihan gitar.

Ini adalah kali pertama mereka berkunjung ke studio radio. Mereka terlihat saling bergandengan tangan. Widi yang berusia 15 tahun adalah yang termuda di antara ketiganya. Dia lebih banyak cekikikan dan menghindar, bersembunyi di balik yang lain.

Hari ini mereka akan tampil bersama Superman is Dead, salah satu band terbesar di Indonesia, di depan ribuan penonton. Ketiga mengaku gugup.

Band yang berdiri tahun 2014 ini dengan cepat menjadi terkenal. Agar mental tetap seimbang karena pengalaman-pengalaman luar biasa yang mereka lalui, mereka pun membaca buku tentang kecerdasan emosional.

Firdda Kurnia, sang vokalis, baru saja merayakan ulang tahun ke 17. Dia adalah anggota tertua sekaligus juru bicara band itu. Dia bercerita perjalanan mereka tidak mulus.

“Dari terdekat dulu keluarga, awalnya juga ngga mendukung. Karena mereka mungkin ngga tahu kegiatan kita kayak gimana. Teruskan musik itu selalu diidentikan dengan pergaulan bebas. Tapi setelah tahu kegiatan kita seperti apa, mereka mulai memberikan support,” kisah Firdda.

Setiap hari sepulang sekolah, para gadis ini bertemu dan berlatih selama tiga jam. Dan kerja keras mereka pun mulai terbayar. Penggemar Voice of Baceprot tidak hanya berasal dari penjuru nusantara tapi juga luar negeri, mulai dari Inggris sampai Australia.

Tapi tidak hanya penggemar yang mereka dapat. Band ini punya banyak pengkritik keras dan agresif yang mengancam mereka - baik di rumah dan di media sosial.

“Bahkan ada beberapa orang yang menghujat kami. Menyebut bahwa metal itu tidak pantas disandingkan dengan hijab karena metal itu dianggap musik hitam, musik setan,” tutur Firrda. 

“Tapi lewat lagu karya kami, kami bisa membuktikan bahwa kami bisa berkarya lewat musik metal tanpa harus meninggalkan kewajiban kami sebagai Muslimah, yang memiliki kewajiban untuk menutup aurat.” 

Beberapa musik metal berkarakter nihilistik dan memuja kegelapan. Mereka pun banyak belajar dari band metal seperti Slipknot, Metallica, dan System of a Down, termasuk bagaimana menggunakan musik sebagai sarana untuk menyampaikan kritik sosial. Tapi tidak seperti yang lain, Voice of Baceprot mengusung idealisme.

“Ada berbagai pesan yang ingin kami sampaikan yang kami tujukan untuk semua orang dari berbagai kalangan. Dan kebanyakan lagu kami juga berisi tentang kritik sosial,” jelas Firdda.

Dengan terus meningkatnya intoleransi di Indonesia, pesan mereka menjadi salah satu harapan. Saat ini sudah empat lagu yang mereka hasilkan dan Firdda bercerita tentang salah satunya.

“Itu judulnya What’s the holy today. Sekarang kan orang-orang lebih banyak merasa dirinya sendiri yang benar. Selain dia, orang lain salah. Rasa egoisme. Toleransi juga sudah mulai susah ditemukan,” tutur Firdda.

Selain bermusik, ketiga gadis ini masih bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan dan mengambil jurusan Administrasi Perkantoran. Tapi mereka bilang itu bukan masa depan yang mereka inginkan.

Mereka lebih suka menyakiti jari mereka dengan memetik senar ketimbang mengetik memo. Dan itu yang sedang mereka persiapkan.

“Yang pertama kita pengen bikin album yang bisa dipublish di Indonesia maupun luar negeri. Selain itu kita juga punya cita-cita perform di luar negeri (Laugh) di negara Inggris, festival-festival besar di luar negeri, pengen banget. Amerika, Australia… pokoknya banyak negara,” ungkap Firdda.

Firdda bilang mereka bertekad untuk terus melakukan apa yang mereka sukai. Dan ini pesan mereka untuk remaja perempuan Indonesia.

“Jangan takut tampil beda. Tetap percaya diri tampil beda menyuarakan idealisme, mempertahankan idealisme yang mereka punya. Dan pastinya, kebanyakan sekarang Muslimah itu dipandang sebelah mata. Dan kami ingin mematahkan presepsi itu, bahwa Muslimah seperti kami juga bisa berkarya dan punya idealisme yang ngga bisa diganggu gugat siapapun,” tegas Firdda.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau