Harga Garam Naik 3 Kali Lipat, Pedagang Minta Impor

Garam briket isi 12 buah yang semula dijual Rp2.500, kini harganya menembus Rp6.500.

Senin, 24 Jul 2017 13:46 WIB

Pedagang menata garam halus yang selama dua pekan terakhir langka di Pasarbesar, Malang, Jawa Timur, Selasa (11/7/2017). Para pedagang di berbagai daerah kekurangan pasokan dan harga mahal. (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

KBR, Cilacap – Pedagang garam di pasar tradisional Karangpucung Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah kekurangan stok garam menyusul langkanya pasokan seluruh jenis garam dari pemasok.

Seorang pedagang di Cilacap, Nining mengatakan dalam sebulan terakhir ini pemasok garam selalu mengurangi jumlah kiriman. Kini stok garamnya berkurang hingga 30 persen.

Nining memilih mengurangi jumlah stok di warungnya lantaran harga garam semakin tinggi. Dia mengaku modalnya terbatas untuk membeli garam. Harga seluruh jenis garam naik rata-rata dua hingga tiga kali lipat.

Bahkan, untuk jenis garam krosok naik tiga kali lipat dari Rp3.000 per kilogram menjadi Rp10 ribu. Sementara, jenis garam kotak naik dari Rp1.500 per bungkus menjadi Rp5 ribu per bungkus.

Nining mengakui jumlah pembeli hampir tak terpengaruh dengan naiknya harga garam. Hanya saja, dia kerap kehabisan lantaran stoknya yang terbatas.

"Kalau pemasok ke sini, harganya naik terus. Tiap kali setor garam kesini, harganya naik sekitar Rp500 malah kadang-kadang Rp1.000. Sekali kirim ya naik terus. Kalau kemarin biasanya beli Rp10 ribu, sekarang jadi Rp14 ribu. Modalnya tidak cukup," kata Nining di Pasar Karangpucung, Senin (24/7/2017).

Nining memperkirakan harga garam akan terus naik karena susutnya pasokan. Apalagi, setiap kali penyuplai garam datang selalu mengurangi pasokan dan menaikkan harga.  

Informasi yang didengar Nining, harga garam naik lantaran hujan masih terus terjadi pada Juni dan Juli ini. Ia mendapat pasokan garam dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Saat ini permintaan tertinggi adalah jenis garam krosok. Garam ini biasa digunakan untuk bahan campuran makanan dan minuman ternak. Garam jenis ini kerap habis. Itu sebabnya, banyak peternak yang mengeluh.

Minta impor garam

Kelangkaan garam juga terjadi di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Hal ini disebabkan petani garam lokal kesulitan memproduksi garam, lantaran pengaruh curah hujan dan waktunya yang tidak menentu.

Puluhan gudang yang menyimpan stok garam di sepanjang jalur Pantura Kabupaten Rembang, saat ini kosong kehabisan stok.

Seorang pengepul garam di Desa Purworejo Kecamatan Kaliori, Rembang, Nawawi mengatakan sejak tahun lalu hingga bulan Juli tahun ini, hujan deras masih terjadi.

"Ramalan cuaca katanya bulan Juli memasuki musim kemarau, ternyata meleset. Proses pembuatan garam pun berulang kali mengalami gagal panen. Padahal untuk menunggu tanah tambak siap diolah kembali itu butuh waktu seminggu. Dengan catatan harus panas terik. Begitu hujan, maka akan molor lama," kata Nawawi kepada KBR, Sabtu (22/7/2017).

Pada saat musim kemarau normal, harga garam di tingkat petani rata-rata Rp600 sampai Rp700 per kilogram. Namun saat ini, harga garam grosok menembus angka Rp3,800 per kilogram.

"Kalau beberapa hari ke depan masih turun hujan deras, pasti harga garam akan semakin mahal," kata Nawawi.

Di pasar tradisional, harga garam briket beryodium juga turut melesat. Para pedagang kecil enggan menjajakan garam, karena butuh modal cukup besar untuk kulakan. Selain itu mereka juga kesulitan mencari barang. Stok barang yang ada mayoritas didominasi pedagang besar.

Garam briket isi 12 buah yang semula dijual Rp2.500, kini harganya menembus Rp6.500.

Seorang pedagang kebutuhan pokok di pasar Rembang, Martantiah mengatakan garam sempat kosong di toko selama seminggu.

"Sempat ada sales mengirim barang, meski jumlahnya terbatas dan harga naik. Saya pasrah saja, karena sering kali diprotes pembeli kenapa kok harga garam meroket. Saya cuma bisa menjawab, kalau sudah faktor alam, ya siapapun akan sulit melawan," kata Martantiah.  

Para pedagang mendesak pemerintah mengambil langkah–langkah penanganan. Salah satunya melalui impor garam.

"Yang penting jumlahnya terukur dengan kebutuhan konsumen, agar nantinya tidak mengganggu garam lokal. Mengingat awal bulan Agustus mendatang, jika cuaca panas, petani sudah mulai mengolah tambak lagi," kata Martantiah.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Moratorium Reklamasi, Menteri Siti : Pulau C dan D Kurang Satu Syarat, Pulau G Dua Syarat

  • Adik Bos First Travel Ikut Jadi Tersangka
  • Penembakan Deiyai, Tujuh Anggota Brimob dan Kapolsek Akan Jalani Sidang Etik Pekan Depan
  • Tuntut Pembatalan Perppu Ormas, Ratusan Orang Demo DPRD Sumut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR