Eks Kombatan ISIS Pulang ke Indonesia Gunakan Nama Samaran

Polisi kesulitan melacak keberadaan bekas milisi ISIS yang kembali ke Indonesia. Menurut Setyo, WNI bekas militan itu biasanya menggunakan nama samaran dan memasuki Indonesia melalui jalur tak resmi

Senin, 10 Jul 2017 18:04 WIB

Ilustrasi. Anggota Polda Sumatera Selatan menangkap seorang terduga simpatisan ISIS berinisial TR di Palembang, Sabtu (8/7/2017). (Foto: ANTARA/Nova Wahyudi)

KBR, Jakarta - Markas Besar Kepolisian Indonesia akan bekerjasama dengan otoritas keimigrasian dan pemerintah daerah di Indonesia untuk mengawasi bekas milisi dari Suriah, Turki maupun Irak yang kembali ke Indonesia.

Juru bicara Mabes Polri Setyo Wasisto mengatakan Polri belum bisa memastikan jumlah WNI yang diduga berafiliasi dengan ISIS dan kembali ke Indonesia. Setyo mengatakan sempat beredar informasi jumlah WNI eks kombatan ISIS mencapai 600 orang. Namun, kata Setyo, data itu masih perlu diklarifikasi ke Detasemen Khusus Antiteror 88 yang bekerja mengawasi jaringan-jaringan teror di Indonesia.

"Yang bisa kita lakukan sekarang adalah memantau pergerakan mereka. Kita pantau kegiatan mereka. Tetapi kalau sampai mengkriminalkan mereka itu tidak bisa. Sebagian bisa terpantau, tapi kadang-kadang tidak. Kalau mereka masuknya melalui pemeriksaan imigrasi yang tidak besar, bisa tembus juga lepas dari pengawasan," kata Setyo Wasisto saat dihubungi KBR, Minggu (9/7/2017).

Setyo menambahkan, polisi kesulitan melacak keberadaan bekas WNI eks milisi Timur Tengah yang kembali ke Indonesia. Menurut Setyo, WNI bekas militan itu biasanya menggunakan nama samaran dan memasuki Indonesia melalui jalur tidak resmi.

Bahkan, kata Setyo, mereka juga menggunakan kedok wisata, ibadah hingga alasan pendidikan pada saat kembali ke Indonesia. Untuk itu, Polri akan bekerjasama dengan pemerintah daerah dan aparat keamanan lokal untuk mendeteksi dan mengawasi agar mereka tidak melakukan teror.

"Setelah mereka kembali ke daerah maka kita kerjasama dengan stake holder di daerah. Bisa dengan TNI atau Forkominda. Tidak hanya polisi yang mewaspadai mereka. Kita harus antisipasi betul," tambahnya.

Baca juga:


Jalur resmi

Sementara itu, bekas mentor jihadis Khairul Ghazali berpendapat jalur resmi imigrasi masih banyak digunakan para kombatan ISIS untuk kembali masuk ke Indonesia.

Sejumlah modus digunakan para WNI yang berafiliasi dengan ISIS itu, diantaranya berpura-pura kembali dari aksi kemanusiaan atau menggunakan visa turis ketika berangkat.

Sejak ISIS dideklarasikan pada 2014, kata Khairul Ghazali, ribuan WNI telah berangkat ke Irak atau Suriah. Ratusan di antaranya telah kembali ke Indonesia.

"Mereka tidak pakai jalur tikus, kecuali yang dari Kalimantan. Baik pergi maupun pulang tetap menggunakan jalur resmi. Cuma mereka menggunakan berbagai modus. Ada yang untuk bantuan medis, kemanusiaan, memanfaatkan visa turis dan lain-lain," kata Khairul, Minggu (9/7/2017).

Selama ini, kata Khairul, kewenangan yang dimiliki pemerintah untuk mencegah mereka kembali ke Indonesia dianggap masih sangat lemah. Sebab pemerintah belum bisa melakukan tindakan pencegahan seperti membekukan paspor. Padahal, kata Khairul, wilayah Asia Tenggara, khususnya Indonesia merupakan salah satu pusat rekrutmen ISIS.

Para WNI tersebut ada yang langsung kembali ke Indonesia atau transit ke negara lain lebih dulu, seperti Malaysia.

Khairul Ghazali yang pernah menjadi terpidana teroris perampokan Bank CIMB Niaga 2010 mengatkan para WNI yang telah berafiliasi dengan ISIS itu lantas menyebar ke berbagai daerah khususnya 17 daerah yang menjadi kantong-kantong ISIS.

Khairul menyebut 17 daerah tersebut ada di Sumatera Utara, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Timur.

"Yang kembali itu mereka akan membentuk sel-sel dan jaringan-jaringan, sehingga jumlah pendukungnya di Indonesia bisa beberapa kali lipat dari jumlah yang pulang," kata Khairul.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU

  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI
  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara

Hukuman Mati Maladministrasi, LBH Masyarakat Desak Jaksa Agung Dicopot

  • Kembali Tertunda, Sri Mulyani Tak Khawatir Kehilangan Momentum Redenominasi
  • Rekrutan Anyar City Gagal Debut di Liga Inggris
  • CEO Amazon Geset Bill Gates sebagai Orang Terkaya di Dunia

Fasilitas KITE IKM diharapkan menjadi jawaban untuk mendorong industri kecil dan menengah untuk terus bergeliat meningkatkan ekspor di tanah air.