Dua Partai Besar di Timor Leste Berbagi Kursi Parlemen

Dua partai politik itu adalah FRETILIN dan CNRT.

Senin, 31 Jul 2017 08:15 WIB

Warga Timor Leste berbondong-bondong ke TPS untuk memilih anggota Parlemen pada 22 Juli lalu. (Foto:

Warga Timor Leste berbondong-bondong ke TPS untuk memilih anggota Parlemen pada 22 Juli lalu. (Foto: Teodosia dos Reis)

Baru-baru ini Timor Leste menggelar pemilihan anggota Parlemen nasional. 

Bagi rakyat Timor Leste, ini adalah saat bersejarah bagi penentuan nasib mereka.

Ini adalah pemilihan pertama yang sepenuhnya diselenggarakan oleh rakyat Timor Leste, bukan oleh PBB, sejak negara ini merdeka pada 1999.

Koresponden Asia Calling KBR, Teodosia dos Reis, berbincang dengan pemilih, pengamat dan tokoh politik di hari pemungutan suara.

Sabtu 22 Juli lalu Timor Leste menggelar pemilu untuk memilih wakil mereka di Parlemen. 

Jalanan Dili dipenuhi warga yang ingin memberikan suaranya ke tempat pemungutan suara atau TPS.

Saya bertanya pada beberapa pemilih bagaimana perasaan mereka…

“Ini hari yang spesial bagi saya. Sebagai perempuan Timor saya punya kesempatan untuk memberikan suara. Ini akan ikut menentukan masa depan kami.”

Banyak yang mengaku bangga dengan demokrasi mereka meski masih baru. Delapan belas tahun lalu Timor Leste merdeka dari Indonesia.

“Saya senang dengan demokrasi yang ada di Timor Leste saat ini karena saya punya kesempatan untuk berpartisipasi. Pemerintahan baru kami harus memprioritaskan kepentingan rakyat.”

Sekitar 76 persen penduduk yang berpartisipasi memberikan suaranya pada pemilu kali ini. Dan 20 persen diantaranya baru kali ini memilih, terutama kaum muda.

Sebuah delegasi dari Uni Eropa mengawasi masa kampanye dan hari pemilihan.

Ketua delegasi, Izaskun Bilbao Barandica, mengucapkan selamat kepada negara itu karena pemilu berjalan lancar dan transparan.

“Selama pengamatan kami, pemilu Timor Leste berjalan damai dan lancar. Dengan kerangka hukum yang memadai, kredibel, inklusif dan transparan mulai dari pembukaan TPS, saat pencoblosan, sampai penghitungan dan tabulasi hasil,” jelas Barandica.

Dan hasilnya pun sangat ketat.

Dua partai politik terbesar di negara itu, yang dipimpin bekas pemimpin perlawanan, memenangkan jumlah kursi yang hampir sama.

Partai FRETILIN atau Front Revolusi untuk Timor Leste Merdeka memenangkan kursi terbanyak di Parlemen yaitu 23 kursi. Mereka ikut berjuang untuk kemerdekaan selama pendudukan Indonesia. 

Tapi partai ini membutuhkan dukungan dari pihak lain untuk membentuk sebuah pemerintahan mayoritas.

Sementara Partai CNRT atau Kongres Nasional untuk Rekonstruksi Timor Leste, yang dipimpin bekas Presiden dan pejuang kemerdekaan Xanana Gusmão, meraih 22 kursi.

Pengamat Politik dari Universitas Nasional Timor Leste, Camilo Almeida, mengatakan kedua partai diperkirakan bisa membentuk koalisi. 

“FRETILIN dan CNRT sudah saling mendukung. Itu ditunjukkan saat pemilihan Presiden empat bulan lalu. Saat itu keduanya mendukung kandidat Francisco Guiterres Lu-Olo untuk menjadi Presiden. Kedua pihak punya tujuan yang sama, membebaskan penduduk Timor dari kemiskinan,” kata Almeida.

Setengah dari 1,2 juta penduduk Timor Leste hidup dalam kemiskinan. Isu ekonomi dan korupsi mendominasi masa kampanye. 

Penekanan diberikan pada kegagalan pemerintah menggunakan sumber minyak negara itu untuk menghasilkan lapangan kerja, kekayaan dan pembangunan. Selain itu pemerintah dianggap lambat mengembangkan sektor pertanian dan pariwisata.

Dalam pemilu ini, tiga partai kecil juga meraih kursi di parlemen. Termasuk partai yang dipimpin anak muda, Partai KHUNTO.

Camilo Almeida menyebut partai-partai kecil ini akan memainkan peran penting.

“Suara oposisi di Parlemen seharusnya kuat karena ada tiga partai lain yang meraih kursi. Meski hanya punya beberapa kursi, mereka adalah generasi yang cemerlang, generasi muda,” tambah Almeida. 

Apapun hasilnya, Peraih Nobel Perdamaian dan bekas Presiden Timor Leste, José Ramos Horta meminta rakyat Timor menerima keputusan pemilih.

”Kita perlu menjaga perdamaian dengan keputusan rakyat ini. Jika tidak, kita akan kehilangan demokrasi di negara kita. Karena itu saya meminta semua pendukung partai politik untuk menerima hasilnya, apa yang telah diputuskan oleh rakyat,” harap Horta.

Sejauh ini, hasil pemilu itu disambut dengan damai. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Ini Hasil Rapat Bamus DPR soal Perppu Ormas

  • Tim Arkeolog Sumba Berupaya Cetak Kerangka Situs 2800 Tahun
  • LN: Amerika Terapkan Sanksi Baru bagi Pendukung Korea Utara
  • OR: Di Tengah Ketakpastian Draxler Didekati Sejumlah Klub

Indonesia baru merayakan dirgahayu yang ke-72. Ada banyak harapan membuncah untuk generasi penerus yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.