BMKG Deteksi Puluhan Titik Panas Kebakaran Hutan di Aceh

Hampir sebagian besar kebakaran hutan di Aceh berada di kawasan lahan gambut dan homogen atau lahan yang hanya ditumbuhi satu pepohonan, seperti tanaman sawit.

Jumat, 28 Jul 2017 20:39 WIB

Titik panas yang terdeteksi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Iskandar Muda, Aceh, Jumat (28/7/2017) - (Foto: BMKG/Erwin Jalaluddin)

KBR, Banda Aceh – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kelas I Sultan Iskandar Muda, Provinsi Aceh mendeteksi 49 titik panas (hotspot) yang tersebar di enam kabupaten.

Puluhan titik panas itu terdapat di Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Selatan, Gayo Lues, Aceh Jaya dan Aceh Singkil.

Titik itu terjadi setelah wilayah Aceh mulai masuk musim kemarau. Titik panas itu terjadi karena adanya kebakaran hutan atau lahan.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Iskandar Muda, Zakaria mengatakan hampir sebagian besar kebakaran hutan itu berada di kawasan lahan gambut dan homogen atau lahan yang hanya ditumbuhi satu pepohonan, seperti tanaman sawit. Sehingga, lahan mudah kering dan terbakar.

"Kemungkinan besar masih ada, tapi sudah mengecil dan berkurang. Walaupun kami tidak memantau di lapangan, berhubung di sana banyak sekali lahan gambut tentu mudah kering dan terbakar," kata Zakaria kepada KBR, di Banda Aceh, Jumat (28/7/2017).

Zakaria mengatakan jika mengacu hasil evaluasi BMKG sesuai data yang dikeluarkan sensor MODIS menggunakan satelit Terra-Aqua, hotspot dapat dicegah karena curah hujan di wilayah itu diprediksi mulai tinggi pada malam hari. Hal itu kata Zakaria bisa berdampak positif menanggulangi kebakaran hutan tersebut.

"Bila suhu di atas 42 derajat Celcius langsung bisa terdeteksi melalui satelit Terra-Aqua," kata Zakaria.

Baca juga:


Kebakaran hutan di Situbondo

Sementara itu, musim kemarau yang mulai melanda sebagian wilayah Jawa menyebabkan sekitar dua hektar hutan jati di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur terbakar, pada 22 Juli lalu.

Kebakaran terjadi di Petak 44 Gunung Gundil di Desa Klatakan, Situbondo.

Kordinator Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo Puryono mengatakan belum diketahui pasti penyebab kebakaran hutan tersebut. Namun diperkirkan kebakaran hutan itu akibat  kemarau panjang yang melanda wilayah Situbondo saat ini.

Puryono mengatakan BPBD Situbondo bersama Perhutani Kawasan Pemangku Hutan (KPH) Bondowoso sudah melakukan pemadaman secara manual supaya tidak meluas dan mendekati pemukiman warga.

"Kami tetap memantau daerah yang rawan hutan terbakar. Di daerah Baluran, di wilayah Klatakan, di wilayah Kendit juga kami memantau karena sekarang ini sedang rawan–rawanya," kata Puryono, Minggu (23/7/2017).

Kordinator Pusdalops BPBD Situbondo Puryono menjelaskan hutan di wilayah Gunung Gundil tersebut rawan kebakaran, karena selain ditumbuhi pohon jati, wilayah hutan tersebut juga ditumbuhi pohon akasia dan ilalang. Sehingga jika musim kemarau mudah terbakar.

Selain hutan di wilayah Gunung Gundil, BPBD Situbondo juga memantau sejumlah hutan yang rawan kebakaran. Di antarnya hutan Taman Nasional Baluran dan Hutan di wilayah Gunung Argopuro.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

OTT di PN Jaksel, KPK Tetapkan Dua Orang Tersangka

  • DPR Akan Panggil Panglima TNI Terkait Pembelian Helikopter AW 101
  • Polres Jombang Temukan Modus Penjualan Narkoba Secara Kredit
  • Presiden AS Pilih Pertahankan Pasukan dari Afghanistan

Indonesia baru merayakan dirgahayu yang ke-72. Ada banyak harapan membuncah untuk generasi penerus yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.