Beralasan Tidak Halal, 8 Sekolah Berbasis Agama di Jogja Tolak Imunisasi MR

"Mereka menganggap imunisasi itu bahannya tidak halal, itu hanya merupakan bisnis perusahaan obat dan karena sebenarnya tiap-tiap orang punya sistem kekebalan tubuh sendiri," kata Lutfi Hamid.

Kamis, 27 Jul 2017 18:51 WIB

Ilustrasi imunisasi nasional 2017. (Foto: dinkes.depok.go.id/Publik Domain)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Yogyakarta - Sedikitnya delapan sekolah berbasis agama di Yogyakarta menolak imunisasi campak rubella (MR).

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DI Yogyakarta Muhammad Lutfi Hamid menyatakan sekolah-sekolah itu menolak imunisasi dengan cara tidak mengizinkan tim imunisasi dari Puskesmas datang ke sekolah untuk sosialisasi.

Lutfi menjelaskan delapan sekolah yang menolak itu mulai setingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di tiga wilayah di Yogyakarta, yaitu Bantul, Kota Yogyakarta dan Sleman.

Mereka beralasan imunisasi tidak halal dan menjadi ajang bisnis perusahaan obat.

"Mereka menganggap imunisasi itu bahannya tidak halal, itu hanya merupakan bisnis perusahaan obat dan karena sebenarnya tiap-tiap orang punya sistem kekebalan tubuh sendiri. Mereka sepertinya tidak mempertimbangkan dinamika masyarakat bahwa virus itu terus berubah," kata Lutfi di Yogyakarta, Rabu (26/7/2017).

Lutfi khawatir penolakan imunisasi tidak hanya disebabkan faktor-faktor itu saja. Ia curiga kelompok yang menolak imunisasi atau vaksin memang selalu ingin berseberangan dengan pemerintah.

"Atau mereka memang secara ideologis selalu berseberangan dengan pemerintah. Kalau sekedar pemahaman produk bisa kita selesaikan, tapi kalau secara ideologis selalu berseberangan dan menganggap setiap kebijakan pemerintah adalah sesuatu yang harus ditolak," lanjutnya.

Meski muncul penolakan imunisasi di tiga kabupaten kota di DI Yogyakarta, kata Lutfi, pemerintah tetap melakukan pendekatan ke lembaga pendidikan berbasis keagamaan itu.

"Yang akan dilakukan adalah identifikasi lembaga, kemudian lakukan pendekatan bahwa kebutuhan imunisasi bukan tren tapi kebutuhan mendasar dari generasi kita," kata Lutfi.

Pemda Provinsi DI Yogyakarta akan menggelar imunisasi campak rubella (MR) pada bulan Agustus dan September 2017. Sasaran imunisasi adalah anak berusia 9 bulan hingga 15 tahun. Guna menjangkau sasaran imunisasi, vaksinasi difokuskan di sekolah dan puskesmas.

Rencananya, Presiden Joko Widodo akan membuka program Imunisasi Campak dan Rubella Nasional di Yogyakarta, bulan Agustus mendatang.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Pemilihan umum 2019 memang masih satu tahun lagi. Namun hingar bingar mengenai pesta akbar demokrasi m ilik rakyat Indonesia ini sudah mulai terasa saat ini.