Anak 'Ajaib' Asal Pakistan Promosikan Pendidikan

Dia adalah guru termuda se-Pakistan.

Senin, 24 Jul 2017 08:05 WIB

Sabawoon Nangarahi. (Foto: Mudassar Shah)

Sabawoon Nangarahi. (Foto: Mudassar Shah)

Di Pakistan, hampir 60 ribu anak lahir dari keluarga pengungsi Afghanistan setiap tahunnya.

Anak-anak itu tidak bisa bersekolah dan harus bekerja membantu keluarga. Akibatnya anak-anak itu tidak mendapat pendidikan yang layak.

Tapi di Peshawar, seorang anak ajaib dan berasal dari keluarga pengungsi sangat cerdas dan menjadi guru termuda se-Pakistan. Padahal kemungkinan untuk itu sangat kecil.

Koresponden Asia Calling KBR, Mudassar Shah, bertemu Sabawoon Nangarahi di Peshawar, Pakistan.

Sabawoon Nangarahi baru berusia 11 tahun. Dia memakai pakaian yang tidak biasa bagi anak seusianya - jas dan dasi.

Meski masih sangat muda, cara bicara Sabawoon jauh melampaui usianya. Komentar cerdas dan kutipan dari beberapa bahasa terlontar dari mulutnya. Anak laki-laki ini bicara seperti seorang profesor senior.

Kelas malam di kampus University of Spoken English di Peshawar sebentar lagi dimulai. Kampus ini terletak 80 kilometer dari Perbatasan Afghanistan. 

Di pintu masuk kampus, mahasiswa berusia dua atau tiga kali lebih tua dari Sabawoon tiba dan menyapanya. Kata mereka, Sabawoon adalah guru termuda di dunia.

“Dia jauh lebih muda dari kami tapi pengetahuannya luas dan bijaksana,” kata Zakir Khan. 

Pria berusia 28 tahun ini ikut kelas IT dan kerja lepas yang diajar Sabawoon. Meski ada perbedaan usia yang sangat jauh, dia mengaku sangat puas dengan gaya mengajar sang dosen.

“Dia bisa menjelaskan pelajaran dengan baik. Dan dia membagikan informasi dari Google dan YouTube, yang jarang dilakukan guru lain. Kualitas ini membuatnya jadi guru terbaik,” tutur Zakir.

Dinding sekolah ditutupi dengan ungkapan dalam bahasa Inggris dan kutipan dari ilmuwan terkemuka dan pemimpin dunia.

Salah satunya berbunyi ‘Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat’. Dan ini sepertinya cocok dengan Sabawoon.

Sabawoon mengaku sudah mengajar sejak usia sembilan tahun.

“Saya adalah murid termuda di kelas dan selalu berada di posisi pertama. Guru sangat senang dengan prestasi saya. Suatu hari kepala sekolah meminta saya mengajar kelas bahasa Inggris dan para siswa menyukai cara saya mengajar. Begitulah awalnya,” kisah Sabawoon.

Sabawoon menghabiskan pagi harinya untuk belajar. Dan di malam hari, dia menjadi guru dan mengajar bahasa Inggris, kewirausahaan dan IT.

Sabawoon adalah anak pengungsi Afghanistan. Seperti banyak anak pengungsi lain, dia harus mencari uang untuk membantu keluarga. Saat tidak bersekolah, Sabawoon bekerja jadi tenaga lepas sebagai spesialis IT.

Sabawoon sadar dia sangat beruntung. Kebanyakan anak pengungsi tidak punya akses ke sekolah atau pekerjaan seperti dirinya.

“Saya bisa saja jadi tukang sepatu, bekerja di restoran atau pemulung, seperti ribuan anak pengungsi Afghanistan lainnya. Itu terjadi karena mereka tidak mendapat pendidikan yang cukup. Tapi saya mendapat dukungan dan bimbingan dari para guru,” jelas Sabawoon.

Saat ini ada 1,6 juta pengungsi Afghanistan yang terdaftar di Pakistan.

Anak-anak pengungsi ini tidak diizinkan belajar di sekolah-sekolah Pakistan. Dan bila pun mereka bersekolah di sekolah indepen Afghanistan, kebanyakan harus meninggalkan sekolah lebih awal untuk bekerja. Sementara anak perempuan nyaris tidak bersekolah.

Tapi Sabawoon yang ambisius bertekad memanfaatkan semaksimal mungkin bakat dan kesempatan yang dimilikinya.

“Saya yakin bisa menyelesaikan gelar PhD di usia 16 tahun dan jadi pemegang gelar PhD termuda di dunia. Saya akan mendedikasikan seluruh hidup saya untuk Pakistan dan Afghanistan. Pakistan seperti guru tempat saya belajar sementara Afghanistan seperti orangtua saya. Karena itu saya ingin fokus ke bidang pendidikan di kedua negara.”

Kata Sabawoon pendidikan sangat penting untuk anak-anak seperti dia agar bisa menciptakan masa depan yang aman. Dan dia berharap bisa memperbaiki sistem pendidikan di kedua negara.

“Kita tidak pernah fokus pada kreativitas. Sekolah tidak fokus pada gagasan siswa. Mereka hanya menekankan belajar untuk mendapatkan pekerjaan. Jika kita tidak menganggap serius pendidikan, maka masa depan generasi kita akan hancur. Pekerjaan membuat orang menjadi budak,’ kata Sabawoon.

Sabawoon juga berharap Afghanistan dan Pakistan akan menyelesaikan perbedaan mereka dan memusatkan perhatian pada hal yang lebih penting.

“Prioritas utama saya adalah pendidikan untuk anak-anak di Pakistan dan Afghanistan. Pemerintah kedua negara harus tahu kalau anak-anak butuh pendidikan. Mereka harus lebih fokus pada pendidikan ketimbang hal lain,” tutup Sabawoon.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Vaksinasi Ulang Difteri, Kemenkes Prioritaskan Daerah Lokasi Asian Games

  • 3 Warga Situbondo Terjangkit Difteri
  • Pengungsi Banjir Aceh Utara Krisis Obat-obatan
  • Pemprov Jakarta Akan keluarkan Pergub Untuk Tanggul Jakarta

Indonesia kini juga menjadi role model dalam hal pengembangan Buku Kesehatan Ibu dan Anak