Lebaran 2018 Pemudik Sepeda Motor Naik, Ini Penyebabnya

"Kalau naik bus sampai terminal di daerah, bingung, dari terminal mau naik apa?"

Senin, 11 Jun 2018 12:55 WIB

KBR, Jakarta- Kepala Badan Pengelola Transportasi Jakarta Bambang Prihartono mengakui kesulitan mengubah kebiasaan orang bersepeda motor, hingga memilih mudik juga menggunakan sepeda motor. Bambang mengatakan, warga Jakarta dan sekitarnya sudah terbiasa menggunakan sepeda motor untuk jarak jauh, rata-rata 50 kilometer per hari.

Kata Bambang, warga Jakarta juga merasa mampu untuk mudik ke Jawa Tengah dan Jawa Timur menggunakan sepeda motor.

"Kendaraan roda dua ini kan memang penggunanya meningkat cukup tajam. Kalau kita ketahui, kendaraan roda dua ini sudah digunakan untuk jarak jauh. Oleh karena itu, BPTJ punya program supaya   pengunaan kendaraan pribadi ke angkutan umum, sehingga nanti motor-motor itu ke depan hanya jarak pendek saja, yaitu dari rumah ke stasiun. Kalau mereka terbiasa jarak pendek, mereka tidak berani mudik pakai motor," kata Bambang kepada KBR, Minggu (10/06/2018).

Bambang berkata, data kecelakaan sepeda motor tahun lalu sangat tinggi, yakni mencapai 70 persen dari total kecelakaan selama musim mudik. Meski begitu, Bambang mengklaim,   sudah berusaha keras mengalihkan pemudik sepeda motor ke moda angkutan umum, termasuk dengan mudik gratis.

Pada tahun ini, pemerintah menyediakan 39.446 paket mudik gratis untuk sepeda motor menggunakan truk, kereta api, dan kapal laut. Jumlah itu naik 106 persen dibanding tahun lalu, yang hanya 19.148 unit. Meski begitu, paket mudik gratis itu tetap saja tak sampai 1 persen, lantaran pemudik sepeda motor tahun ini diprediksi 6,39 juta orang.

Selain mudik gratis, Bambang berkata, pemerintah juga terus membenahi kualitas transportasi umum untuk mudik. Ia mencontohkannya dengan hasil pengujian ulang kendaraan  tahun ini yang menyatakan 75 persen bus layak jalan, sedangkan tahun lalu hanya 60 persen. Meski membaik, Bambang mengakui, hasil itu masih di bawah target pemerintah yang seharusnya 80 persen. Soal tarif angkutan bus yang dianggap masih mahal, Bambang mengklaim, pemerintah sudah membuat aturan agar perusahaan tak melampaui batas tertingginya.

Menurut Pengamat transportasi dari Universitas Soegijapranata Djoko Setijowarno pemerintah mengabaikan integrasi transportasi di daerah, sehingga penggunaan sepeda motor untuk mudik semakin banyak. Djoko juga mengaku tak heran dengan angka kecelakaan sepeda motor yang mencapai 70 persen dari total kecelakaan pada tiga hari pertama musim mudik ini.

Ia berkata, kuota program mudik gratis yang diadakan pemerintah maupun swasta,   juga hanya mengakomodasi pemudik motor tak sampai satu persen.

"Angkutan umum, ini menjadi PR pemerintah, makanya saya bilang, pemerintah setelah lebaran segera gerak untuk membangun angkutan umum di daerah dan antardaerah. Karena di daerah transportasinya buruk, integrasinya enggak jalan. Kalau naik  bus sampai terminal di daerah, bingung, dari terminal mau naik apa? Pedesaannya sudah pada hilang. Integrasi dan  transpor  publik di daerah, ini sudah pada punah," kata Djoko kepada KBR, Minggu (10/06/2018).

Djoko mengatakan, permasalahan pemudik motor selalu berulang. Bahkan, pada tahun ini Kementerian Perhubungan yang memperkirakan kenaikan pengguna sepeda motor untuk mudik mencapai 33 persen menjadi 6,39 juta orang yang mudik menggunakan sepeda motor.

Djoko berkata, solusi mengalihkan moda transportasi mudik tersebut dimulai dengan memperbaiki kualitas layanan transportasi publik. Misalnya pada bus, menurutnya, pemerintah tak bisa puas dengan data kelayakan bus layak yang hanya 75 persen. Menurutnya, uji kelayakan ulang kendaraan  harus dilakukan bertahap, tak cuma saat menjelang Lebaran.

Djoko juga menyarankan agar pemerintah memberi subsidi untuk bus, seperti yang diberikan pada kereta api. Ia berkata, anggaran Direktorat Jenderal Perhubungan Darat yang hanya Rp 3,5 trilun sangat kecil, dibanding anggaran Direktorat Jenderal Perkeretaapian yang mencapai Rp 17 triliun. Padahal, Ditjen Perkeretaapian hanya mencakup Pulau Jawa dan sebagian Pulau Sumatra.

Selain kedua hal tersebut, kata Djoko, yang utama adalah meningkatkan kualitas transportasi publik di daerah. Djoko beralasan, pemudik motor membawa kendaraannya saat mudik lantaran khawatir mobilitasnya ke kampung terhambat.

Ia berkata, terminal-terminal di daerah sudah bagus, tetapi kualitas angkutan umumnya sangat buruk. Misalnya di Jawa Tengah, kata Djoko, bus antarkota dalam provinsi saat ini tinggal 30 persen, dari tahun 1990-an. Adapun angkutan pedesaan, saat ini tinggal 10 persen, dan diprediksi punah dalam tiga tahun.


Editor: Rony Sitanggang
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang