Komnas HAM Desak Pemerintah Usut Penolakan Pemakaman Warga Syiah Sampang

Keinginan terakhir Kurriyah yang dipendam sejak tujuh tahun lalu akhirnya tak bisa dipenuhi.

Jumat, 15 Jun 2018 16:34 WIB

Ilustrasi warga Syiah, Sampang. (foto: Antara)

KBR, Jakarta- Seorang warga Syiah asal Sampang, Kurriyah, 24 tahun, berpesan agar dimakamkan di kampung halamannya di Dusun Nangkernang, Desa Karanggayam, Sampang, Madura, Jawa Timur. Kurriyah merupakan satu dari ratusan pengungsi Syiah yang tinggal di Rusunawa Jemundo, Sidoarjo, sejak Juni 2013 silam. Mereka terusir dari kampung halamannya pasca-konflik antara warga Syiah dan Sunni pada 2012. 

Pesan terakhir itu seolah mengisyaratkan bahwa umurnya tak akan bisa bertahan lama, lantaran penyakit tumor dan TBC tulang yang dideritanya. Tepat pada Rabu, (14/6) ia meninggal di Rumah Sakit dr. Soetomo, Surabaya. Sehari jelang perayaan Hari Raya Idulfitri 2018.

Berdasar rilis yang diterima KBR, pihak keluarga lantas menghubungi keluarga mereka yang ada di Desa Karanggayam, guna menyiapkan pekuburan bagi jenazah perempuan yang sehari-hari menjadi ustazah bagi kalangan pengungsi perempuan di Rusunawa Jemundo, Sidoarjo. Keluarga Kurriyah yang di kampung mengiyakan keinginan terakhir almarhum.

Sekira jam 18.30 WIB mereka mulai menggali kuburan. Namun, 15 menit kemudian muncul informasi penolakan rencana penguburan jenazah Kurriyah di kampungnya. Padahal, di saat bersamaan ambulans yang mengantar jenazah Kurriyah sedang dalam perjalanan ke arah Sampang. Akhirnya, keinginan terakhir Kurriyah yang dipendam sejak tujuh tahun lalu itu tak bisa dipenuhi. Ia pun kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) milik Dinas Sosial Pemkab Sidoarjo.

Pesan terakhir Kurriyah itu juga diungkapkan kembali oleh Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Beka Ulung Hapsara. Karena itu, pihaknya meminta, pemerintah segera menindaklanjuti informasi adanya penolakan terhadap rencana penguburan Kurriyah di kampungnya. Kata dia, Komnas HAM juga telah mengadukan masalah tersebut kepada pemerintah melalui Kantor Staf Presiden. Tetapi, sampai saat ini belum ada tindak lanjut dari pemerintah.

"Sudah koordinasi dengan KSP segala macam supaya bisa ditindak lanjuti. Hanya, kami saat ini belum dapat info balik tentang bagaimana informasi yang ada," kata Beka kepada KBR, Jumat (15/6).

Penolakan terhadap penguburan jenazah warga Syiah asal Sampang di kampung halaman sendiri, juga sempat terjadi sebelumnya. Tiga tahun lalu, jenazah Busidin, 65 tahun, juga mendapat penolakan, dan akhirnya terpaksa dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum Delta Praloyo Asri, Sidoarjo. 

Sebelumnya, sebanyak 68 keluarga Syiah Sampang, Madura, Jawa Timur terpaksa tinggal di Rumah Susun Jemundo, Sidoarjo. Puluhan keluarga itu mengungsi akibat permukiman mereka di Dusun Nangkernang dirusak dan dibakar kelompok intoleran pada 2012 lalu. Berbagai upaya dari berbagai pihak telah dilakukan untuk bisa memulangkan mereka, termasuk melibatkan Presiden SBY, namun hingga kini mereka tetap belum bisa pulang ke kampung halamannya. 


Editor: Sindu Dharmawan


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sedang melaksanakan Program Penguatan Reformasi Kepabeanan dan Cukai (PRKC). Program ini sudah dimulai sejak Desember 2016 hingga saat ini.