WNI Ikut Serbu Marawi, Orang Tua Yoki: Perilaku Berubah Setelah Dalami Agama

"Sejak bulan Februari sampai sekarang tidak pernah ada kontak. Dihubungi tidak bisa. Keluarga kemudian mencari, dan melaporkan ke Polsek,”

Jumat, 02 Jun 2017 14:28 WIB


KBR, Banjarnegara- Kepolisian Banjarnegara, Jawa Tengah berkoordinasi dengan Detasemen Khusus Khusus Anti Teror (Densus 88) untuk mengecek keberadaan keluarga buron Kepolisian Filipina, Yoki Pratama Windyarto (22 th). Yoki diduga terlibat dalam peristiwa penyerbuan di Marawi, Filipina.
 
Juru Bicara Polres Banjarnegara, Endang Sri mengatakan aparat sudah mendatangi rumah keluarga Yoki di Desa Klampok Kecamatan Purwareja Klampok Kabupaten Banjarnegara. Di sana, petugas bertemu dengan kedua orang tua Yoki.
 
Endang menjelaskan, orang tuanya mengaku sudah hilang kontak sekitar 4 bulan dengan Yoki. Hal itu terjadi saat Yoki memutuskan untuk merantau ke Filipina pada Februari 2017.  Yoki   lulus kuliah pada September 2016 dari sebuah perguruan tinggi di Tangerang, Banten.
 
Hingga saat ini, keluarga mengaku belum sekalipun melakukan kontak dengan Yoki, sampai akhirnya membaca dari pemberitaan bahwa Yoki diduga terlibat dalam aksi teror di Filipina. 

Dari pengakuan orang tua Yoki, kata Endang, terjadi perubahan perilaku pada   menjelang akhir masa kuliah. Kepada keluarga, Yoki  mengaku tengah mendalami agama dari salah satu temannya yang berasal dari Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang   ahli agama.
 
Endang mengungkap, keluarga juga sempat melakukan pelaporan kehilangan ke Polsek Bandara Soekarno Hatta pada Februari lantaran mengkhawatirkan keberadaan Yoki.  

“Itu memang sejak ada perubahan, kan terus pergi ke itu ya (Filipina). Maksudnya putus hubungan dengan orang tua, putus kontak lah. Berdasar keterangan orang tua, jadi begitu waktu itu kan dia bekerja di Jakarta ya. Nah intinya, sejak bulan Februari sampai sekarang tidak pernah ada kontak. Dihubungi tidak bisa. Keluarga kemudian mencari, dan melaporkan ke Polsek,” jelas Endang Sri saat dihubungi KBR, Jumat (2/6/2017).

Lebih lanjut Endang mengatakan saat ini kepolisian Banjarnegara intensif berkoordinasi dengan Densus 88 dan melakukan monitoring keberadaan Yoki.
 
Endang meminta agar masyarakat tak ikut panik dan atau menjauhi keluarga terduga teroris tersebut. Pasalnya, azas praduga tak bersalah tetap harus dikedepankan. Selain itu, keluarga teduga teroris tak selalu terkait dengan kejahatan yang dilakukan oleh yang bersangkutan.

 
WNI di Marawi

Kementerian Luar Negeri menyatakan 17 warga negara Indonsia (WNI) dari wilayah konflik di Marawi, Filipina akan dipulangkan pada Sabtu, 3 Juni 2017. Juru bicara Kemenlu Armanatha Nasir mengatakan, saat ini seluruh WNI itu telah berada di wisma Konsulat Jenderal RI di Davao.

Armanatha berkata, kebanyakan mereka adalah jamaah tabligh yang berdakwah ke masjib-masjid di Filipina.

"Ke-17 WNI tersebut, semalam sudah berada di wisma KJRI di Davao. Semalam Bu Menteri Luar Negeri sudah sempat berbicara dengan salah satu wakil dari kelompok jamaah tabligh tersebut. Menurut rencana, WNI tersebut akan kembali ke Indonesia pada hari Sabtu, sebelum kembali ke daerah masing-masing," kata Armanatha di kantornya, Jumat (02/06/2017).

Armanatha mengatakan, evakuasi itu berlangsung setelah terjalin koordinasi antara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Manila dan Konsultan Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Davao dengan otoritas keamanan Filipina. Atmanatha menyebutkan, ada 11 WNI yang dievakuasi dari Marantao, atau berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Marawi, serta enam lainnya dari Sultan Naga Dimaporo.

Armanatha berujar, kini 17 WNI itu telah berada di JKRI Davao. Dari WNI tersebut, 16 orang merupakan anggota jamaah tabligh yang berdakwah di Filipina, sedangkan satu WNI telah lama menetap dan berkeluarga di Marawi. Adapun mengenai kabar WNI yang terlibat dalam konflik, Armanatha enggan menjelaskan karena menurutnya itu kewenangan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Editor: Rony Sitanggang

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!