Nasib Jemaat Ahmadiyah di Transito dan Warga Syiah Sampang pada Lebaran 2017

Jemaat Ahmadiyah di Transito dan pengungsi Syiah Sampang ingin pulang ke kampung halaman.

Minggu, 25 Jun 2017 19:03 WIB

Ilustrasi: Pengungsi Syiah Sampang saat di pengungsian. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Jemaat Syiah asal Sampang masih harus menjalani Idul Fitri di pengungsian tahun ini. Ini merupakan tahun kelima mereka menempati pengungsian di Rumah Susun Pusat Pasar Agrobisnis, Sidoarjo sejak bentrok yang terjadi tahun 2012 silam.

Perwakilan jemaat Syiah Sampang, Iklil Almial mengatakan pelaksanaan salat Idul Fitri dilakukan di masjid yang jaraknya sekitar 50 meter dari rusun. Tahun ini mereka berharap dapat kembali ke kampung halamannya.Hingga saat ini mereka masih berupaya meyakinkan pemerintah agar mereka diizinkan kembali ke Sampang, Madura.

"Seperti tahun-tahun kemarin pagi tadi kami bersama-sama warga sekitar rusun solat di masjid depan. Harapan kami kepulangan itu. Harga mati bagi kami. Ini tidak benar. Saudara kami di kampung juga sama-sama rugi,"keluh Iklil, Minggu(25/6).

Saat ini masih ada 335 orang yang mendiami pengungsian di Sidoarjo, Jawa Timur. Pemerintah Kabupaten Sampang belum mengizinkan mereka kembali. Iklil menjelaskan beberapa warga di pengungsian telah mencoba mengunjungi Sampang. Ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa kedatangan mereka tidak akan memunculkan kembali konflik yang pernah terjadi.

"Kami sebenarnya sudah tidak ada apa-apa dengan warga di kampung. Hubungan silaturahim tetap. Itu pembuktian bahwa sebenarnya kami tidak ada apa-apa."

Tak jauh beda dengan pengungsi Syiah Sampang, jemaat Ahmadiyah yang menempati asrama Transito Majeluk di Mataram, Nusa Tenggara Barat juga menanti kejelasan status tempat tinggal dari pemerintah. Salah satu jemaat, Syarim mengatakan, hingga kini dirinya bersama jemaat yang lain masih menempati asrama yang seharusnya dipergunakan untuk sementara. Hal tersebut kata dia, membuat rekan-rekannya yang lain berkeinginan untuk kembali ke kampung halamannya di Ketapang, Lombok Barat.

"Rata-rata mereka ingin kembali lagi (ke kampung halamannya). Sebab di sini, yang namanya pengungsian atau penampungan kan milik pemerintah. Kecuali pemerintah memberikan pada kami hak untuk tinggal selamanya, atau memberikan hibah atau menjadi hak milik. Hingga kini status kami masih menumpang di situ. Jadi keinginannya ingin kembali ke tempat asal. Tapi kalau pemerintah menetapkan di situ tempat tinggal kami untuk seterusnya, syukur alhamdulillah," katanya.

Meski begitu ia menambahkan, fasilitas yang didapat di asrama diakuinya semakin baik. Pemerintah setempat kata dia, telah menambah fasilitas mandi cuci kakus (MCK) yang sebelumnya sangat terbatas jumlahnya. Selain itu, Syarim juga mengaku, keberadaan jemaat Ahmadiyah di sana juga sudah diakui oleh masyarakat sekitar, sehingga tidak ada penolakan.

"Kalau untuk urusan sosialisasi tidak ada masalah buat kami. Masyarakat di sini sudah bisa menerima keberadaan kami dan kamipun juga sudah bisa berbaur dengan masyarakat," ujarnya.

Sementara itu mengenai pelaksanaan ibadah Idul Fitri hari ini, Syarim mengaku para jemaat dapat melaksanakan ibadah tersebut secara normal, seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

"Alhamdulillah ibadah Idul Fitri dapat dilaksanakan seperti tahun-tahun lalu. Seluruh jemaat berkumpul dan bersilaturrahmi di sekitar lokasi penampungan di Transito," ujarnya.

Sejak 2006 tahun silam, jemaah Ahmadiyah mengungsi dari desa mereka di Ketapang, Lombok Barat setelah sebelumnya mengalami intimidasi dan kekerasan yang berujung pada pengusiran paksa. Sejak itu mereka tinggal di asrama Transito Mejeluk Mataram.


Editor: Sasmito

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

BIN Tak Susun Daftar HTI

  • Dosen IPB: HTI Sudah Dibubarkan, Saya Bukan Anggota Lagi
  • Jet Tempur Cina Cegat Pesawat AS di LCS
  • Juventus Resmi Rekrut Bernardeschi Seharga Rp 619 Miliar

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.