Konjen RI di Davao Cek Temuan Paspor WNI di Marawi

"Kita tidak langsung serta merta mengatakan itu orang Indonesia, entar dulu, kita harus ketemu dulu orangnya, kita ambil sidik jarinya."

Kamis, 08 Jun 2017 21:34 WIB

Paspor warga Tasikmalaya, Jabar ditemukan di kota Marawi Filipina. (Foto: KBR/Adhima S.)

KBR, Jakarta- Direktorat Jenderal Imigrasi dan Konsulat Jenderal Indonesia di Davao, Filipina mendalami dokumen dua paspor asal Indonesia yang ditemukan oleh aparat keamanan di Marawi. Menurut Juru bicara Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM Agung Sampurno, Filipina sering mengklaim adanya keterlibatan orang Indonesia dalam berbagai kasus kejahatan seperti terorisme dengan bermodalkan penemuan paspor.

Menurut dia, perlu ada klarifikasi dan pengecekan dokumen, pemeriksaan pemilik paspor untuk memvalidasi legalitas dokumen kewarganegaraan tersebut.

"Peristiwa seperti ini bukan pertama kali terjadi. Kita tidak bisa, dan Filipina dari dulu sering mengklaim menemukan paspor Indonesia. Di dalam dunia imigrasi, paspor itu tidak seperti kaya barang yang tidak bisa dipalsukan. Itu perdagangan pemalsuan paspor luar biasa tingginya," jelas Juru bicara Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM Agung Sampurno saat dihubungi KBR, Kamis (8/6/2017).

Agung melanjutkan, "yang jadi persoalan adalah kita tidak bisa mengiyakan apa yang diklaim orang lain. Contohnya seperti kasus Siti Aisyah di Malaysia. Kita tidak langsung serta merta mengatakan  itu orang Indonesia, entar dulu, kita harus ketemu dulu orangnya, kita ambil sidik jarinya. Baru kemudian diverifikasi dengan data base kita."

Baca: Temuan Paspor WNI

Agung mengatakan Konsulat Jenderal Indonesia di Davao tengah memverifikasi temuan paspor itu.

Agung mengaku kewalahan lantaran  banyaknya pintu yang sering digunakan kelompok teroris.  Kata dia, bentang pantai dan pesisir laut di utara Sulawesi dan Maluku tidak bisa dijangkau seluruhnya. Ini  menyebabkan banyak jalur bisa digunakan kelompok teroris untuk keluar masuk Indonesia dan Filipina.

"Ketika tidak melalui pintu dan melalui jalan tikus itu bukan tugas Imigrasi karena UU kita sudah mengunci. Seperti ke Nunukan ada pelabuhan Tanuntaka itu menuju ke Tawau itu hanya hitungan menit dengan speedboat kecil. Kalau dia lewat pelabuhan itu tidak jadi masalah, nah banyak rumah penduduk di sisi pantai rumah panggung.Biasanya mereka sering menyelundup dari bawah rumah, malam-malam berangkat," ujar Agung.

Agung menambahkan, "kalau lewat pelabuhan Tanuntaka itu pasti diperiksa. Ada jalur tradisional yang sering digunakan Indonesia, Malaysia dan Filipina. Itu yang sering digunakan. Itu terjadi sejak tahun 70-an, mereka menggunakan jalur-jalur tradisional. Apa yang terjadi sekarang sudah diantisipasi sejak tahun 1974."

Baca: Perketat Perbatasan


Untuk mencegah rembesan-rembesan kelompok teroris dari Marawi ke Indonesia kata dia, Direktorat Jenderal Imigrasi bekerjasama dengan aparat kepolisian terus melakukan pengawasan di pintu-pintu resmi perbatasan. Bahkan kata dia, orang-orang yang datang dari Filipina di sekitar Pelabuhan-pelabuhan di Sulawesi dan Kalimantan diperiksa dengan detil.

"Kita ada pengawasan orang asing.  Tetapi ketika dia tidak melalui pintu resmi dan menggunakan jalan tikus, itu bukan kewenangan imigrasi. Mereka yang datang tidak bisa masuk begitu saja, ketika pulang dari Filipina ada proses lanjutan itu tugas keamanan dan kepolisian," ungkapnya.

Jalur Tikus

Bekas Panglima Jamaah Islamiah Nasir Abas membenarkan jika tiga jalur yang disebutkan BNPT, menjadi jalur yang sering dilalui teroris. Jalur itu di antaranya melalui Nunukan, Pulau Sebatik dan Sulawesi Utara untuk kemudian menuju Tawaw, Sabah, Malaysia, sebelum berakhir di Marawi.

Nasir Abas menjelaskan, tiga jalur itu adalah jalur yang biasa digunakan masyarakat setempat untuk keluar masuk. Sehingga, kata dia, teroris yang akan melintas melalui jalur itu bisa dengan mudah menggunakan passpor resmi atau pun menyamar sebagai turis.

“Jadi mereka menyeberang seperti turis, dia biasa datang ke Malaysia untuk jalan-jalan, lalu mencari kesempatan untuk ke Filipina. Ada orang dari mereka yang sudah menunggu untuk menuju sana. (Ada usulan untuk ditutup?)  Bagaimana mau ditutup kalau itu jalur resmi, kawasan masyarakat,” katanya saat dihubungi KBR, Kamis (08/06/17).

Biasanya, lanjut Nasir, para teroris yang masuk  menggunakan paspor  akan terlebih dahulu singgah di Tawau, Malaysia. Di sana, kata dia, paspor mereka ditinggal dan mulai menyusup ke Filipina.

“Itu biasanya kalau mereka pakai jalur resmi, tapi ada juga yang tidak pakai paspor, mereka melalui celah-celah di sana,” jelasnya. 

Sementara itu Pengamat terorisme Al Chaidar menyatakan penjagaan pintu keluar Indonesia yang diperketat,   tak cukup untuk menghalau orang yang ingin ke Filipina untuk bergabung dalam kelompok separatis di sana. Al Chaidar mengatakan, ada dua pintu keluar favorit WNI saat akan ke Filipina, yakni Kalimantan Utara dan Sulawesi Utara. Namun, menurutnya, para WNI itu akan tetap mencari celah untuk keluar Indonesia karena masih banyak pintu masuk ke Filipina yang terbuka.

"Itu sudah dari dulu mereka gunakan. Mungkin jalur Maluku Utara ada juga, saya belum tahu yang terbaru. Karena bagi mereka itu halaman belakang yang sering tidak dijaga oleh pemerintah, jadi mereka leluasa lewat situ. Agak susah juga ya. Kalau di Filipina banyak. Hampir semua di Filipina Selatan itu adalah daerah-daerah yang dulunya memang tidak pernah dijaga, baru tahun-tahun ini saja, setelah ada bentrok," kata Al Chaidar kepada KBR, Kamis (08/07/2017).

Al Chaidar mengatakan, pintu keluar Indonesia itu biasanya dari Nunukan Kalimantan Utara atau Sahinge dan Talaud di Sulawesi Utara. Adapun pintu masuk ke Filipina biasanya berada di Basilan, Sulu, Tawi-Tawi, Cotabato, serta Davao. Sehingga, penjagaan untuk menghalau WNI yang ingin bergabung dengan separatis di Filipina harus berlangsung di dua negara.

Al Chaidar berujar, tempat yang menjadi pintu keluar atau masuk favorit itu lantaran minimnya penjagaan dari pemerintah. Kata dia, rencana memperkuat penjagaan oleh pemerintah Indonesia di titik-titik rawan memang bisa menjadi solusi, tetapi tidaklah cukup. Pasalnya, akan muncul pintu-pintu keluar yang baru untuk WNI keluar Indonesia dan menuju Filipina.

Al Chaidar berkata, kehadiran WNI ke Filipina bisa berlangsung sepanjang tahun. Kata dia, WNI juga tak akan kesulitan bergabung dengan kelompok separatis setelah mendarat di Filipina. Pasalnya, kelompok seperti Abu Sayyaf dan Maute Bersaudara sangat menyambut kedatangan WNI ke sana. Selain itu, WNI itu juga tak memerlukan perantara, karena kelompok separatis di sana bisa berbahasa Indonesia. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!