Kepala Brimob: Anak Buah Saya Tidak Semua Otaknya Lurus, Ada yang Bengkok

Wartawan LKBN Antara Ricky Prayoga mengalami perlakuan tidak mengenakkan dari sejumlah anggota Brimob ketika ia meliput acara final turnamen bulutangkis Indonesia Open 2017 di JCC.

Senin, 19 Jun 2017 14:14 WIB

Ilustrasi. Aksi solidaritas antikekerasan terhadap jurnalis. (Foto: ANTARA)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Kepala Korps Brimob, Inspektur Jenderal Polisi Murad Ismail menilai telah terjadi kesalahpahaman antara anak buahnya dengan salah seorang jurnalis Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Ricky Prayoga. Kesalahpahaman itu memicu pemukulan anggota Brimob terhadap Ricky.

Murad mengatakan kesalahpahaman itu dipicu sejumlah faktor. Diantaranya kelelahan anggota Brimob dan sikap tidak lazim yang ditunjukkan Ricky.

"Anggota itu kalau dia sudah bertugas lama, dua hingga tiga jam itu dia capek. Ketika dia capek, lalu ada yang bertingkah, pasti dia marah. Tak ada orang sopan di muka dunia ini yang pasti tidak dianiaya orang. Tidak ada. Pasti ada sesuatu yg tak berkenan di hati anggota. Begitu juga kalian, kalau kalian menemukan ada yang aneh-aneh, pasti kalian menulis yang aneh-aneh juga kan," kata Murad, di Jakarta, Senin (19/6/2017).

Wartawan LKBN Antara Ricky Prayoga mengalami perlakuan tidak mengenakkan dari sejumlah anggota Brimob ketika ia meliput acara final turnamen bulutangkis Indonesia Open 2017 di Jakarta Convention Center (JCC), Minggu (18/6/2017). Ricky diseret dan dipukuli saat sedang antre di sebuah gerai ATM.

Kepala Korps Brimob Murad Ismail mengatakan anggotanya tidak akan bersikap 'macam-macam' jika tidak ada sikap aneh yang ditujukan kepada mereka.

"Saya mau kasih tahu kalian wartawan. Sama anggota itu kalau kalian tidak menunjukan sikap yang aneh-aneh, anggota tidak akan macam-macam. Tapi kalau kalian menunjukan kalian itu lebih hebat, ya pasti ada terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan," tambah Murad.

Meski begitu, Murad mengatakan tidak semua anggotanya bisa berpikir jernih dalam menyikapi perlakuan yang dianggap menyimpang.

"Anak buah saya itu tidak semuanya otaknya lurus. Ada juga yang bengkok, nah ini nanti kita luruskan," tambahnya.

Murad mengatakan tidak tahu dengan jelas peristiwa yang terjadi antara anggotanya dan jurnalis itu. Ia meminta agar wartawan menanyakan lebih lanjut kepada Kapolda Metro Jaya.

Sementara itu Kapolda Metro Jakarta Raya Mochamad Iriawan mengatakan ada tiga anggota Brimob yang akan diperiksa terkait peristiwa itu. Jika ditemukan ada kesalahan, kata Irawan, anggota Brimob itu akan diberi sanksi tegas.

"Tentu, kalau nanti terbukti bersalah yang bersangkutan akan mendapat sanksi tegas. Seperti yang di Briomob di Pamulang‎, yang tidak sengaja memegang senjata, lalu meletus ke rumah anggota DPR, lalu stress. Karena memang sanksi kami tegas, kelalaian pun saya beri sanksi. Apalagi itu sengaja," kata Iriawan.

Protes AJI

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan oleh beberapa anggota Brimob terhadap jurnalis LKBN Antara, Ricky Prayoga.

AJI mendorong agar Ricky maupun pimpinan media Antara melaporkan kasus itu ke Polda Metro Jaya.

"Kami mendesak Kepolisian segera mengusut pelaku kekerasan dan menyeretnya ke pengadilan. Bagi kepolisian, pengusutan ini bukan hal yang sulit. Karena pelakunya sudah terindentifikasi dan ada video yang merekam kejadian tersebut," begitu sikap AJI Jakarta yang diterima KBR, Senin (19/6/2017). Rilis itu atas nama Ketua AJI Jakarta Ahmad Nurhasim dan Koordinator Divisi Advokasi AJI Jakarta, Erick Tanjung.

AJI Jakarta menyatakan penegakan hukum harus tetap dilakukan walaupun pelakunya anggota Brimob.

"Pelaku harus dihukum, walau telah meminta maaf kepada korban. Kami mendesak polisi memproses proses hukum kasus itu agar korban mendapatkan keadilan," tulis AJI Jakarta.

AJI Jakarta menyebut aksi yang dilakukan sejumlah anggota Brimob terhadap wartawan ANTARA itu tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun. AJI menyebut aksi itu melawan hukum dan merupakan tindak pidana yang tidak bisa ditoleransi.
 
Baca juga:

 
Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau