Jumlah Pelintas Batas di Entikong Menurun

Pemudik yang kebanyakan adalah TKI ini diprediksi memilih jalur lain untuk pulang kampung

Jumat, 23 Jun 2017 20:16 WIB

Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk di Samas. Foto: Setkab

KBR, Pontianak – Kantor Imigrasi Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat mencatat penurunan jumlah pelintas batas dari Malaysia. Sejak sepekan lalu, jumlah pelintas batas hanya berjumlah 8 ribu orang. Sedangkan pada 2016, jumlah pemudik di atas 12-15 ribu orang. 

Kepala Kantor Imigrasi Entikong, Heri Prihatin memprediksi pemudik yang kebanyakan adalah tenaga kerja (TKI) menggunakan jalur lain untuk pulang kampung. Seperti Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Badau dan PLBN Aruk di Kabupaten Sambas.

“Disebabkan banyak pintu keluar dari Kuching (Sarawak, Malaysia) menuju ke Kalbar, yakni dari PLBN Aruk, Badau atau melalui jalur langsung pesawat. Sebagai pelayan publik, kita memang terus melayani warga kita yang akan merayakan Hari Raya Idulfitri,” ujar Heri di Pontianak pada Jumat (23/6/2017).

Heri menambahkan, pelayanan PLBN Entikong khususnya Imigrasi tidak akan berhenti pada libur nasional nanti. Hal ini dilakukan untuk mengawasi dan mencegah masuknya sejumlah terduga teroris dari Marawi Filipina. Mereka ditengarai melarikan diri melalui jalur Malaysia menuju Indonesia. (dmr)

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.