GP Ansor Siap Bela dan Lindungi Bocah Korban Persekusi

Sekelompok orang menginterogasi dan menceramahi korban. Di tengah interogasi itu, korban beberapa kali menerima tamparan atau pemukulan. Di ruangan itu juga sempat ada teriakan "bunuh aja bunuh".

Jumat, 02 Jun 2017 09:36 WIB

Ilustrasi. Ratusan anggota Banser NU dan GP Ansor berkumpul di Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Ridho Susanto/KBR)


KBR, Jakarta - Organisasi Gerakan Pemuda Ansor (GP ANSOR) Nahdlatul Ulama mendampingi anak berusia 15 tahun korban persekusi berinisial PMA melaporkan kasus tersebut ke kepolisian.

Sekretaris GP Ansor yang turut mendampingi PMA, Dendi Finza mengatakan, GP ANSOR mendampingi PMA karena persekusi apalagi terhadap anak-anak merupakan tindakan yang salah. Dendi juga berkata, GP Ansor akan terus memantau perkembangan kasus yang menimpa PMA di kepolisian.

"Berdasarkan perintah ketua umum, kami datang mendampingi anak itu. Kami temui keluarganya, kami temui anak itu dan kami sampaikan bahwa kami akan bela apabila terjadi persekusi. Baik trauma psikisnya, atau apapun kami akan bela enggak perlu takut, sehingga anaknya tidak ada trauma. Kami pantau, kami dampingi, sambil kita pantau semua perkembangan. Yang paling penting keamanan, memberikan keamanan dan kenyamanannya," kata Dendi kepada KBR, Kamis (1/6/2017).

Dendi mengatakan, intimidasi terhadap anak tidak seharusnya terjadi, meski anak tersebut berbuat kesalahan. Dia berkata, lembaganya akan memantau proses hukum pelaku persekusi terhadap PMA yang kini telah ditangkap polisi. Selain itu, kata Dendi, dia juga menjalin komunikasi yang baik dengan ibu korban untuk memastikan persekusi itu tak terulang.

Dendi mengatakan GP ANSOR akan mendampingi siapapun yang menjadi korban persekusi. Selain mengurangi trauma korban, pendampingan itu juga berlaku saat korban melaporkan kasus tersebut ke kepolisian.

PMA merupakan anak yang diduga mengalami persekusi oleh anggota FPI di Cipinang Melayu, Jakarta Timur pada Minggu, 28 Mei 2017. Video persekusi itu viral di media sosial. FPI menyebut PMA menghina ulama mereka, Rizieq Shiab.

Berdasarkan kronologi yang disampaikan PMA kepada Dendi, pada 28 Mei 2017 sekitar pukul 22.00 WIB, PMA mendapat peringatan dari bekas gurunya agar menghapus tulisan di media sosial. Satu jam kemudian sekitar 100 orang mendatangi rumah korban, dan membawanya ke kantor RW.

Di kantor RW itu, sekelompok orang yang mengaku dari FPI menginterogasi dan menceramahi korban. Di tengah interogasi itu, korban beberapa kali menerima tamparan atau pemukulan. Di ruangan itu juga sempat ada teriakan dari orang dewasa, 'bunuh aja, bunuh'.

Dendi mengatakan video yang viral di media sosial berdurasi 2 menit 20 detik itu menggambarkan peristiwa yang dialami korban. Bahkan, kata Dendi, korban terus mengalami pemukulan, di luar terekam video.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Kemenhub Imbau Truk Barang Mulai Operasi 3 Juli

  • H+4 Lebaran, Stasiun Pasar Senen Masih Padat Penumpang
  • Bayi Simpanse Korban Penyelundupan Mati
  • Ronaldo Punya Anak Kembar

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?