'Tinggi Emisi Kendaraan, Jalur Mudik Adalah Invisible Killer'

Ketika terjadi kemacetan total, para pemudik disarankan keluar dari kendaraan dan menjauh sekitar 30 meter dari asap kendaraan.

Rabu, 21 Jun 2017 10:37 WIB

Antrean kendaraan di pintu keluar tol Brebes Timur menuju jalur Pantura di Brebes, Jawa Tengah, Sabtu (17/6/2017). (Foto: ANTARA/Oky Lukmansyah)

KBR, Jakarta - Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) memperingatkan para pemudik agar berhati-hati dalam perjalanan mudik lebaran. Tidak hanya karena rawan kecelakaan, namun ada juga invisible killer atau pembunuh tak kasat mata di jalur mudik.

Ketua KPBB Ahmad Safrudin mengatakan jalur mudik sangat beresiko pencemaran udara, khususnya di jalur dengan tingkat kemacetan luar biasa seperti jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa maupun jalur selatan Jawa.

Ahmad Safrudin mengingatkan tragedi kemacetan parah di exit tol (pintu keluar) Brebes Timur, yang dikenal sebagai tragedi Brebes Exit (Brexit) pada mudik lebaran 2016. Saat itu kemacetan parah sejauh puluhan kilometer selama 48 jam.

Musibah Brexit 2016 menyebabkan 11 orang meninggal, antara lain karena keracunan karbon dioksida (CO2) maupun parameter lain yang disebabkan emisi kendaraan bermotor.

"Mereka meninggal karena ada pembunuh tak tampak atau invisible killer, akibat terpapar emisi kendaraan yang terjebak di kemacetan," kat Safrudin di Jakarta, Selasa (20/6/2017).

Ahmad Safrudin mengatakan umumnya zat-zat polutan atau pencemar udara itu langsung mempengaruhi sistem pernapasan, pembuluh darah, sistem syaraf, hati dan ginjal. Gejala yang dialami mulai dari pusing-pusing, mual, jantung koroner hingga kanker dan kematian dini. Ia berharap tragedi invisible killer yang membunuh pemudik tersebut tidak terulang tahun ini.

Pemerintah, kata Safrudin, harus menyiapkan jalur mudik yang lebih aman bagi masyarakat, terutama di jalur-jalur populer. Ia menyarankan agar pemerintah bersikap tegas kepada PT Jasa Marga maupun pengelola jalan tol mengenai kapasitas jalan tol supaya tidak memicu pencemaran udara dari emisi kendaraan bermotor.

"Karena invisible killer itu membunuh tanpa terlihat. Racun emisi itu tidak berbau, calon korban terbuai rasa kantuk yang kemudian tertidur dan tak pernah bangun kembali," kata Safrudin.

Safrudin menyarankan pemudik untuk mempersiapkan makanan siap santap yang cukup gizi. Ketika terjadi kemacetan total, Safrudin menyarankan pemudik keluar dari kendaraan dan menjauh sekitar 30 meter dari asap kendaraan.

"Saat terjadi kemacetan, racun dari emisi kendaraan akan terkonsentrasi," ujarnya.

Selain itu Safrudin juga menyarankan pemudik menyiapkan payung, ponco dan tenda portabel untuk menghindari panas matahari dan hujan.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

PPATK Telusuri Rekening First Travel

  • Buruh PT Nyonya Meneer Ajukan Tagihan Rp98 Miliar
  • Pesawat Pengangkut Haji Arab Saudi Belum Boleh Mendarat di Qatar

Impor barang dari luar negeri selalu diawasi dan memiliki ketentuan, jangan sampai Anda menjadi orang yang tidak tahu ketentuan yang dimiliki Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe C Soekarno Hatta