Pemerintah Jamin Biaya Hidup Anak Pelaku Teror Bom Surabaya & Sidoarjo

Pemerintah memastikan bakal menjamin hak pendidikan, sosial hingga pendampingan anak-anak dari pelaku teror bom di Surabaya dan Sidoarjo.

Kamis, 17 Mei 2018 13:02 WIB

Ilustrasi: Aksi tolak terorisme di Tugu Pahlawan Surabaya, Minggu (13/5). (Foto: ANTARA/Didik)

KBR, Jakarta - Pemerintah memastikan bakal menjamin hak pendidikan, sosial hingga pendampingan anak-anak dari pelaku teror bom di Surabaya dan Sidoarjo.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise menyatakan bakal mengurus dan menanggung biaya hidup anak dari pelaku teror bom di Mapolrestabes Surabaya. Bocah perempuan usia 8 itu selamat dari aksi meledakkan diri yang dilakukan kedua orangtuanya, Senin (14/5/2018) pagi.

Selain biaya hidup, kata Yohanam, negara juga akan merehabilitasi psikologis sang anak seusainya menjalani perawatan di rumah sakit. Ia berkata, kementeriannya telah menyiapkan pendampingan khusus untuk menghilangkan trauma.

"Negara kita tidak membedakan, tidak ada diskriminasi, semua warga negara indonesia diperhatikan oleh negara, perempuan dan anak," kata Yohana di komplek Istana Kepresidenan, Rabu (16/05/2018).

"Oleh karena itu, kami tetap berikan pendampingan psikologis kepada anak-anak, trauma healing, apakah yang korban maupun anak yang korban (anak pelaku), saya pikir mereka korban juga dari salah pengasuhan orang tua. Itu perlu dapat pendampingan khusus," imbuhnya.

Ia mengatakan, negara melarang orangtua melibatkan anak dalam tindakan terorisme. Jika orangtua melanggar maka bisa dijerat Undang-undang Perlindungan Anak.

Baca juga:

Yohana juga berkata, pemerintah akan memastikan anak tersebut mendapatkan pendidikan layak. Ini dilakukan karena orangtua mereka tewas dalam teror. Ia melanjutkan, nantinya untuk tindakan awal, anak tersebut akan dibawa ke Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TPPA) yang bekerja sama dengan dinas sosial.

Selain anak dari pelaku teror bom di Mapolrestabes Surabaya, Yohanna juga menyiapkan pendampingan psikologis untuk seluruh korban anak yang selamat dari teror.

Polisi menyebut, rentetan bom di Surabaya dan Sidoarjo digawangi tiga keluarga. Orangtua yang menjadi pelaku turut mengajak anak-anak mereka dalam aksinya. Kapolri Tito Karnavian menyebut, hal ini baru terjadi kali ini. Aksi teror dengan melibatkan anak.

Jaminan Pendidikan dan Sosial

Dalam teror yang terjadi dua hari berturut itu, lima anak tewas sementara empat lainnya selamat. Empat anak yang selamat terdiri atas tiga bersaudara yang lolos dari maut saat bom rakitan meledak di rumah mereka di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, Minggu (13/5/2018) malam. Sementara seorang bocah perempuan usia 8 tahun selamat saat orangtuanya meledakkan diri di Markas Polrestabes Surabaya, Senin (14/5/2018) pagi.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy menyatakan bakal memberikan jaminan pendidikan kepada anak-anak tersebut.

"Siapapun anak harus dijamin pendidikannya di Indonesia. Kita tak boleh memperhatikan anaknya siapa, harus non-diskriminasi sistem pendidikan kita," kata Muhadjir di Kantor Wakil Presiden, Rabu (16/5/2018).

Muhadjir mengatakan, pemerintah saat ini mengutamakan kesembuhan bagi empat anak dari pelaku teror bom di Surabaya dan Sidoarjo tersebut. Penanganan selanjutnya akan dilihat setelah keempatnya pulih.

"Kita lihatlah, biar sembuh dulu," ujarnya.

Baca juga:

Muhadjir mengingatkan masyarakat bahwa anak-anak tersebut juga menjadi korban. Sehingga, siapapun tak patut menstigma atau memberikan cap buruk terhadap mereka.

"Karena pada dasarnya mereka korban dan mereka punya teman-teman. Jadi, kalau sampai kemudian nanti menciptakan traumatis kepada teman-teman sejawatnya, itu risikonya terlalu berat."

Sementara itu di lokasi berbeda, Menteri Sosial Idrus Marham menyampaikan telah menyiapkan bantuan sosial serta tunjangan bagi keluarga serta ahli waris korban teror. Termasuk anak-anak dari pelaku teror.

"Kami akan memberikan bantuan bagi keluarga yang meninggal Rp15 juta setiap jiwa yang meninggal. Kami berikan bantuan Rp15 juta kepada keluarganya. Setelah itu, tentunya kami akan memperhatikan yang lain. Pendidikan misalnya, itu akan kami pertimbangkan." ujar Idrus Usai Dialog Indonesia Maju ke-12 di Semarang, Rabu (16/5/2018).

Idrus menambahkan, sesuai instruksi Presiden Joko Widodo, pemerintah akan menjamin pendidikan serta kebutuhan lain anak-anak korban teror. Dalam pelaksanaannya, pemerintah pusat akan bekerja sama dengan masing-masing pemerintah daerah.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Tanggal 23 Juli nanti kita akan merayakan Hari Anak Nasional. Peringatan ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa masih banyak persoalan yang dihadapi anak Indonesia.