Paundra Noorbaskoro: 'GrowPal, Bisnis Perikanan Pemuda Pacitan'

"Saat booming start-up, kami berharap Growpal bisa ekspan di wilayah potensial."

Paundra Noorbaskoro (depan) pendiri Growpal. Foto: KBR.

Kamis, 31 Mei 2018

KBR, Jakarta - Di Pantai Tawang, Pacitan, Jawa Timur, tambak udang vaname seluas enam hektar terhampar. Sejumlah pemuda berkaos biru, berbicara pada pekerja yang sedang bersiap memberi pakan. 

Para pemuda itu, adalah pemilik tambak yang bernaung dalam sebuah platform start-up bernama Growpal. 

Paundra Noorbaskoro, salah satu pendiri Growpal mengatakan, sejak terbentuk pada Desember 2016, sudah ada enam area sebaran tambak budidaya; Malang, Jember, Karimun Jawa, Situbondo, dan Blitar. Komoditinya udang, lobster, gurame dan kerapu cantang.

Tambak-tambak yang dikelola Growpal, kata pemuda 24 tahun ini, merupakan bisnis perikanan go online. Berbasis aplikasi, Growpal mencari investor untuk kemudian urunan minimal Rp500 ribu per orang. Uang yang terkumpul itu, nantinya bakal membiayai proposal usaha yang diajukan petani ikan. Istilah bisnis itu disebut crowd investing.

“Di sini, biasanya kami peruntukkan untuk petani ikan yang mengajukan proposal agar bisa didanai. Namun kami perlu pastikan apakah supply chain sudah terbentuk, performa 1-3 tahun seperti apa, baru ditentukan siapa atau tidak online di Growpal,” ujar Paundra menjelaskan.

Nah untuk crowd investing, biasanya para petani ikan sudah punya aset berupa tanah, seperti kincir, terpal,” sambungnya. 

Sistem urunan semacam ini dipilih karena melihat persoalan yang kerap dialami para petani ikan tradisional. Mereka selalu kesulitan mengakses kredit dari perbankan. Untuk mengusahakan satu unit tambak saja, butuh biaya Rp50 juta. Sementara bank, hanya bisa memberi setengahnya. Itu diakui Heri Setyo Budi, petambak udang di Pacitan.

“Jadi selama ini banyak warga yang sudah antusias bikin tambak. Kendalanya itu masalah modal. Untuk bikin satu tambak paling tidak Rp100 juta,”

- tukas Heri.

Paundra yang lulusan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang, pernah pula menjajal bisnis perikanan budidaya. Tapi kandas karena tak mampu memenuhi permintaan supplier.

Kegagalan itu, menjadi pengalamannya melahirkan Growpal. Dibantu temannya yang jago IT, ia memilih bisnis dengan model start-up aplikasi. Toh, ia sadar betul, perkembangan gadget tak bisa dibendung.

“Berbarengan dengan perkembangan gadget yang pesat. Oleh karena itu kenapa enggak bikin perikanan go online. Jadi enggak sekadar memasarkan ikan, tapi dari hulu ke hilir. Dari modal, manufaktur, operasional, sampai terserap ke pasar,” ucapnya yakin.

Di Growpal, Paundra menghubungkan investor-petani ikan-pembeli. Total investor yang bergabung di sini, kira-kira sudah 1.400 orang dengan total nilai investasi yang telah tersalurkan sebesar Rp12,5 miliar.

Bagi yang ingin menginvestasikan uangnya di Growpal, caranya mudah. Daftar secara online dengan mengirim foto KTP. Setelah terverifikasi, Growpal akan mengirimkan proposal usaha lengkap dengan kebutuhan dana. Jika tertarik, maka investor bisa langsung menyetor uang.

Begitu uang kolekan terkumpul, Growpal akan menyalurkan ke petani ikan agar proposal dijalankan. Lantas, seperti apa pembagian keuntungannya?

“Untuk crowd investing, pembagian keuntungannya 50 persen untuk petani, 35 persen untuk investor, dan 15 persen untuk Growpal.”

Sementara bagi kelompok petani ikan yang ingin dibiayai usahanya, cukup mengirimkan proposal profil usaha, analisis usaha, dan laporan keuangan 3-5 tahun terakhir. Dari situ, Growpal akan mengecek dan menghitung besaran biaya yang diperlukan untuk mengejawantahkan.

“Yang mengajukan proposal mereka. Misalnya berapa luas tanah, produksi berapa. Kemudian ada tim survey yang akan cek kebutuhan lapang, diskusi dengan petani dan nanti muncul angka. Diangkat ke platform Growpal untuk di-crowd investing bersama-sama,”

- jelas Paundra.

Hingga saat ini sudah ratusan petani ikan tradisional yang bergabung di Growpal. Salah satunya Heri Setyo Budi. Kata dia, Growpal membantunya mewujudkan usaha tambang udangnya di Pantai Tawang, Pacitan.

“Adanya Growpal sangat terbantu. Kami bisa kerja juga dan enggak menutup kemungkinan tiap bulan dapat penghasilan, kalau panen dapat bonus,” ujar pria 40 tahun ini. 

Dulu, Pantai Tawang dibiarkan menganggur. Sehingga banyak warga menggantungkan hidup sebagai buruh kontrak di perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Tapi keberadaan tambak udang Growpal, mengubah geliat desa itu. Satu pekerja diupah Rp1,5 juta. 

Kembali ke Paundra. Di usia muda, ia bersama teman-temannya ingin melebarkan sayap Growpal ke daerah-daerah terpencil. Harapannya bisa meningkatkan perekonomian petani ikan tradisional.

“Target sih banyak. Masih muda, semangat tinggi, dibantu IT. Saat booming start-up, kami berharap Growpal bisa ekspan di wilayah potensial. Namun kami ingin bantu daerah tertinggi yang punya potensi alam. Agar bisa meningkatkan ekonomi di wilayah itu sedikit demi sedikit mengikis jumlah desa tertinggal di Indonesia,” harap Paundra.