Densus 88 Terus Buru Jaringan Pelaku Teror di Surabaya dan Sidoarjo

Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri menembak mati empat terduga teroris dalam perburuan jaringan pelaku teror di Surabaya dan Sidoarjo.

Selasa, 15 Mei 2018 09:47 WIB

Sejumlah anggota Polisi mengidentifikasi temuan di rumah terduga teroris pengeboman gereja di kawasan Wonorejo Asri, Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5). (Foto: ANTARA/M Risyal)

KBR, Jakarta - Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri menembak mati empat terduga teroris dalam perburuan jaringan pelaku teror di Surabaya dan Sidoarjo. Jumlah yang tewas itu dari 13 orang yang ditangkap, hingga Senin (14/5/2018) sore. Juru bicara Polda Jawa Timur, Frans Barung Mangera mengatakan keempat terduga teroris asal Sidoarjo itu dilumpuhkan lantaran membawa bom dan mengancam aparat keamanan.

"Ada 13 penindakan langkah antisipasitif pada Senin dini hari dimulai pukul 02.30 WIB sampai Senin pukul 17.15 WIB. Kami melakukan penindakan terhadap 13 orang yang akan melakukan teror," kata Frans Barung di Surabaya, Senin (14/5/2018).

"Empat orang kami tembak mati karena situasinya melawan petugas. Keempat ini ada di Sidoarjo, termasuk AF," tambahnya lagi.

Frans Barung melanjutkan, sembilan orang lainnya diringkus di sejumlah wilayah Surabaya dan Sidoarjo. Termasuk, salah satunya terduga teroris yang ditangkap saat hendak masuk ke gedung Graha Pena di Jalan Ahmad Yani Surabaya, Senin (14/5/2018) siang. Kata dia, kepolisian masih terus memburu jaringan pelakun teror di Surabaya dan Sidoarjo.

Minggu (13/5/2018) pagi, serentetan teror bom terjadi di tiga gereja di Surabaya. Tak lama diikuti ledakan bom di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Sehari setelah itu, teror bom juga menyasar Mapolrestabes Surabaya. Menurut polisi, bom yang diledakkan di Surabaya dan Sidoarjo menggunakan bahan peledak yang biasa digunakan kelompok ISIS.

Baca juga:

Kapolri Tito Karnavian menyatakan, rangkaian teror di Surabaya dan Sidoarjo berkaitan dengan kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat pada Selasa (8/5/2018). Menurutnya, perlawanan napi dan tahanan teroris di Mako Brimob itu membangkitkan sel-sel teroris di pelbagai daerah.

Ditambah lagi, adanya instruksi dari Pimpinan ISIS internasional mengingat posisi mereka di Irak dan Suriah mulai terdesak akibat serangan Rusia dan Amerika. DS, salah satu pengebom gereja di Surabaya merupakan simpatisan ISIS. Ia disebut menjadi pentolan Jemaah Ansharut Daulah (JAD) di Surabaya. Sementara BS, terduga teroris yang ditembak mati di Sidoarjo itu disebut-sebut sebagai tokoh penting kedua setelah DS.

Menurut intelijen Amerika Serikat, JAD berada di belakang Aman Abdurrahman sebagai pendukung kelompok simpatisan ISIS. Aman kini tengah menghadapi persidangan terkait keterlibatannya dalam sejumlah kasus terorisme.

Situs Counter Extremism Project menyebut Aman Abdurrahman sebagai pemimpin 'de facto' simpatisan ISIS di Indonesia. Sejak 2014--saat masih dalam penjara, Aman berperan sebagai penerjemah utama propaganda ISIS untuk disebarluaskan melalui internet dan para simpatisan.

Menurut Counter Extremism Project, di penjara Aman Abdurrahman meradikalisasi sekitar 20 tahanan. Sejumlah orang di antaranya kemudian terlibat kegiatan terorisme, termasuk dalam serangan bom di kawasan Sarinah Thamrin Jakarta, awal Januari 2016. 

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Tanggal 23 Juli nanti kita akan merayakan Hari Anak Nasional. Peringatan ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa masih banyak persoalan yang dihadapi anak Indonesia.