Cerita Pengurus Serikat Buruh Nanbu yang Diancam Usai Orasi

"Sampai di rumah Pak RT, diomongin, "Ibu siap jadi janda?". Berkali-kali dia ngomong gitu."

Senin, 14 Mei 2018 14:11 WIB

Ilustrasi: Aksi buruh. (Foto: BPJSKetenagakerjaan.go.id)

KBR, Jakarta - Pengurus Serikat Buruh Bumi Manusia (Sebumi) PT Nanbu Plastics Indonesia, Saiful Anam diancam akan dibunuh oleh sembilan orang tak dikenal. Ancaman itu disampaikan di rumah Saiful pada Minggu (6/5/2018) pekan lalu. Saiful menduga ancaman itu terkait orasinya ketika berdemonstrasi di depan PT Toyota Manufacturing Indonesia.

"Sampai di rumah Pak RT, diomongin, "Ibu siap jadi janda?". Berkali-kali dia ngomong gitu. Di situ (mereka) maksa kalau saya itu kalau orasi nyangkut-nyangkut soal Ambon, preman, dan pabrik. Saya bilang, kalau enggak terima, diproses hukum saja. Lalu dia bilang. "Oh begitu jadi kamu masih mau terus-terusan demo?" tutur Saiful kepada KBR, Minggu (13/5/2018).

Saiful pun dituding menyinggung masalah SARA saat berorasi pada hari buruh internasional 1 Mei lalu. Menurutnya, salah satu pengancam mengaku sebagai koordinator satpam PT Nanbu Plastics Indonesia. Namun mereka enggan menyebutkan nama.

Saiful dipaksa mengakui tuduhan orang-orang tersebut. Mereka mengancam akan mendatangkan lebih banyak orang ke rumah Saiful apabila tak mengakui tudingan dan masih aktif mengadvokasi masalah ketenagakerjaan. Dia juga ditekan untuk tidak lagi berorasi.

Atas kejadian tersebut, Saiful berencana melapor ke Polda Metro Jaya. Sebelumnya, intimidasi itu sudah diadukan ke Polres Kabupaten Bekasi. Namun, laporan ditolak karena dianggap tak ada unsur ancaman. Polisi, menurut Syaiful, justru menyarankan untuk mengajukan surat permohonan pengamanan.

Baca juga:

Saiful bersama serikat pekerjanya aktif mengadvokasi korban kecelakaan kerja di PT Nanbu Plastics Indonesia, Atika Nafitasari. Mereka menuntut agar Atika dan delapan karyawan kontrak lainnya diangkat menjadi karyawan tetap. Perusahaan menolak tuntutan tersebut dan justru memecat puluhan karyawan lain. Hingga berita ini diturunkan, KBR berusaha mengonfirmasi informasi tersebut.

PT Nanbu Plastics Indonesia adalah perusahaan yang bergerak di industri plastik. Perusahan pembuat bahan baku plastik dan logam serta peralatan teknik itu berlokasi di kawasan indutri Cikarang Barat.

Awal April 2018, kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) ke sejumlah karyawan mengundang protes. Ketua Serikat Buruh Bumi Indonesia (Sebumi) PT NPI, Faisal Al Rahmad curiga PHK itu berkaitan dengan keterlibatan pekerja menjadi anggota atau pengurus serikat kerja.

Lantas saat meminta penjelasan ke manajemen, alasan yang didapat pun tak jelas.

"Kami tanya alasannya kenapa, katanya suka-suka saya (perusahaan). Kalian kerja enggak becus, kamu saya pecat, kamu saya putus kontrak" kata Ketua Serikat Buruh Bumi Indonesia (Sebumi) PT NPI, Faisal Al Rahmad kepada KBR, Minggu (8/4/2018).

Data hingga April 2018 lalu, total ada 33 buruh yang dipecat. Kebijakan ini menyusul pemutusan kontrak terhadap delapan orang lainnya lantaran dianggap melanggar  Perjanjian Kerja Antar Waktu (PKWT). Menurut Faisal, mereka semua merupakan anggota serikat pekerja sehingga muncul kecurigaan manajemen PT NPI berupaya memberangus serikat pekerja.

Berdasarkan rilis yang diterima KBR, manajemen mengatakan buruh dipecat karena menolak perintah kerja atasan dan melakukan aksi di salah satu perusahaan konsumen PT NPI.

Awal Maret 2018 lalu, sejumlah karyawan berdemonstrasi di depan kantor PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia. Nanbu, diketahui merupakan perusahaan pemasok Toyota. Aksi di depan Toyota itu menyuarakan protes terhadap sikap PT NPI yang dianggap lepas tanggung jawab atas kecelakaan kerja yang menimpa pekerja.

Baca juga:



Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob

  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

pernah melihat atau bahkan mengalami sendiri perlakuan diskriminatif / ujaran kebencian di ruang pendidikan, tempat kerja, lembaga pemerintahan, dan ruang publik lainnya tapi tidak tahu lapor kemana?