Brunei Darussalam Berencana Beli Alutsista Produksi Indonesia

"Ada ketertarikan dari Brunei untuk membeli kendaraan tempur dari Indonesia dan persenjataan produksi PT Pindad. Karena itu nanti di Mabes ada beberapa pameran yang akan ditinjau Sultan dan Presiden

Kamis, 03 Mei 2018 16:49 WIB

Presiden Joko Widodo (kedua kiri) bersama Sultan Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah memeriksa pasukan saat kunjungan kenegaraan di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (3/5). (Foto: ANTARA/ Wahyu P)

KBR, Jakarta - Pemerintah Brunei Darussalam berencana membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista) produksi Indonesia.

Niat itu disampaikan Sultan Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah saat bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Kamis (3/5/2018). Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, Jokowi akan mengajak Sultan Bolkiah ke Markas Besar TNI sekaligus mengenalkan produk senjata dan kendaraan tempur produksi Indonesia.

"Ada ketertarikan dari Brunei untuk membeli kendaraan tempur dari Indonesia dan persenjataan produksi PT Pindad. Oleh karena itu nanti di Mabes ada beberapa pameran yang akan ditinjau oleh Sultan dan Presiden, dari PT Pindad, PT DI, dan PT PAL Indonesia," kata Retno di Istana Bogor, Kamis (3/5/2018).

Meski menyatakan ketertarikan pada alutsista Indonesia, menurut Retno, pemerintah Brunei Darussalam belum secara spesifik menunjuk produk senjata dan alat tempur tertentu. Ia menambahkan, senjata dan kendaraan tempur produksi Indonesia sudah banyak dikenal negara lain, termasuk Brunei Darussalam.

Alutsista tersebut merupakan produksi PT Pindad (Persero), PT Dirgantara Indonesia (Persero), dan PT PAL Indonesia (Persero). Retno berkata, Presiden Jokowi dan Raja Bolkiah sama-sama berkomitmen memperbesar kerja sama perdagangan, termasuk dalam persenjataan. 

Sepanjang 2017, nilai perdagangan Indonesia-Brunei Darussalam tercatat USD 107 juta atau Rp1,44 triliun terdiri atas ekspor USD 64,5 juta atau Rp864 miliar dan impor USD 42,5 juta atau Rp573 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia masih surplus senilai USD 22 juta atau Rp297 miliar terhadap Brunei Darussalam. Selama ini, komoditas terbesar yang diperdagangkan kedua negara tersebut adalah minyak bumi.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Tanggal 23 Juli nanti kita akan merayakan Hari Anak Nasional. Peringatan ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa masih banyak persoalan yang dihadapi anak Indonesia.