Virus WannaCry, Tim Keamanan Siber: Korban Terbanyak Instansi

“Karena tidak ada jaminannya setelah membayar, kita akan diberikan kuncinya."

Senin, 15 Mei 2017 15:09 WIB

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta–  Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (Id-SIRTII) mencatat korban virus ransomeware WannaCry sudah mencapai puluhan. Wakil Ketua Id-SIRTII Muhammad Salahuddien Manggalany mengatakan,  instansi  menjadi korban terbanyak, dengan banyaknya laporan yang  masuk.

Kata Salahuddien instansi di pusat dan daerah melaporkan ke pihaknya terkait serangan virus ini. Selain instansi pemerintah, instansi swasta atau pun perusahaan juga banyak yang sudah menjadi korban.

“Kita belum bisa berikan data riilnya, tapi yang jelas tidak sampai ratusan. Ada sekitar puluhanlah. Rata-rata yang melapor instansi pemerintahan, di pusat atau pun di daerah,” katanya saat dihubungi KBR, Senin (15/05/17).

Salahuddien menjelaskan,   saat ini belum ada solusi untuk menangani virus tersebut. Id-SIRTII  tidak menyarankan korban virus WannaCry untuk membayar kepada pelaku.

“Karena tidak ada jaminannya setelah membayar, kita akan diberikan kuncinya. Kalau pun kita bayarkan, berarti kita mendukung mereka untuk melakukan kejahatan lagi. Memang untuk kasus seperti ini belum ada solusinya. Yang bisa kita lakukan ya melakukan pencegahan,” jelasnya.

Program jahat jenis Ransomware bernama Wanna Decryptor (WannaCRY) melanda hampir 100 negara di seluruh dunia.  Di antaranya Inggris, Cina, Spanyol, Filipina termasuk Indonesia.

Ransomware jenis WannaCRY memanfaatkan kelemahan sistem operasi Windows yang dikenal dengan sebutan EternalBlue. Kelemahan ini sebelumnya dibocorkan kelompok   hacker Shadow Broker hingga kemudian dikembangkan menjadi ransomware. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1