Rutan Solo Overload, Pengelola Utang Miliaran Rupiah untuk Konsumsi Napi

Jumlah penghuni yang membengkak itu, kata Oga Dharmawan, menyebabkan kebutuhan biaya untuk pengadaan konsumsi napi turut melonjak. Sementara, anggaran Rutan tahun ini tidak bertambah, hanya Rp6,4 mil

Senin, 08 Mei 2017 10:13 WIB

Sejumlah orang tengah menunggu di depan bangunan Rutan Kelas 1 Surakarta Jawa Tengah. (Foto: Yudha Satriawan/KBR)


KBR, Solo - Pengelola Rumah Tahanan Kelas 1 Surakarta Jawa Tengah terpaksa berutang miliaran untuk biaya konsumsi narapidana, karena penghuni rutan membengkak atau melebihi kapasitas daya tampung.

Kepala Rutan Kelas 1 Surakarta, Oga Dharmawan mengatakan penghuni Rutan itu sudah kelebihan kapasitas mencapai tiga kali lipat dari kapasitas normal. Dari kapasitas 223 orang, Rutan tersebut kini dihuni 600 orang.

Jumlah penghuni yang membengkak itu, kata Oga Dharmawan, menyebabkan kebutuhan biaya untuk pengadaan konsumsi napi turut melonjak. Sementara, anggaran Rutan tahun ini tidak bertambah, hanya Rp6,4 miliar.

Oga mengatakan pengelola terpaksa berutang untuk menutupi kebutuhan konsumsi narapida dan tahanan di penjara itu.

"Biaya konsumsi per hari per orang itu Rp14 ribu rupiah untuk tiga kali makan. Jadi untuk satu semester ke depan, mulai Juli hingga Desember mendatang kami berutang sekitar Rp2,4 miliar," kata Oga Dharmawan.

Oga Dharmawan mengatakan pengadaan konsumsi bagi penghuni Lapas dilakukan oleh pihak ketiga melalui lelang.

"Biasanya pihak ketiga yang ikut lelang sudah siap dengan kondisi seperti ini, karena tingkat hunian bisa naik turun. Kalau turun sih tidak ada masalah, anggaran sisa bisa dikembalikan ke negara. Tapi kalau tingkat hunian naik, pihak ketiga yang menyediakan konsumsi harus sanggup menalangi dulu," kata Oga Dharmawan.

Pembayaran utang konsumsi itu, kata Oga, akan dibayarkan pada tahun berikutnya atau dua tahun lagi. Hal itu kata Oga akan menjadi wewenang Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM tingkat provinsi.

"Nanti dari Kanwil bisa melakukan penggeseran anggaran. Misalnya Rutan di Boyolali dianggarkan biaya untuk konsumsi 200 orang penghuni, ternyata isinya cuma 100 orang. Anggarannya bisa digeser ke rutan atau LP lain yang overload," tambah Oga.

Selain masalah biaya konsumsi, Ora Dharmawan mengatakan saat ini pengelola Rutan juga mengantisipasi kemungkinan terjadinya gejolak seperti yang terjadi di Pekanbaru, Riau beberapa waktu lalu. Minimnya jumlah petugas penjaga menyebabkan ratusan penghuni Rutan di Pekanbaru kabur.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Majelis Hakim Putus Bebas Terdakwa Kasus UU ITE, Baiq Nuril Menangis Haru

  • Dilaporkan Polisi, Novel Baswedan Tertawa
  • DPR dan Pemerintah Sepakati Pasal Penyadapan dalam RUU Terorisme
  • Bela Negara Akan Masuk ke Orientasi Mahasiwa Baru

Indonesia mengalami masalah ketimpangan (inequality) dan tengah berupaya memeranginya. Simak perbincangannya hanya di Ruang Publik KBR, Rabu 26 Juli 2017 pukul 09.00-10.00 WIB.