Polri: 11 WNI di Marawi Tak Terkait ISIS, Hanya Dakwah

"Mereka izinnya berdakwah dan tidak masuk dalam kelompok yang sekarang sedang bertempur. Sekarang sedang diupayakan supaya bisa segera dipulangkan ke tanah air," ujarnya.

Senin, 29 Mei 2017 11:53 WIB

Warga menuju tempate vakuasi setelah pasukan pemerintah menyerang kelompok pemberontak Maute yang mengambil alih Kota Marawi, Filipina selatan, Jumat (26/5/2017). (Foto: ANTARA/Reuters/Romeo Ranoco)


KBR, Jakarta - Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) memastikan 11 warga Indonesia yang berada di Kota Marawi, Filipina Selatan, tidak terkait dengan kelompok ISIS.

Juru bicara Mabes Polri Setyo Wasisto mengatakan pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri sedang mengupayakan agar mereka segera dipulangkan ke Indonesia.

"Berdasarkan data dari KJRI di Davao dan Atase Polri yang ditugaskan di sana, 11 orang ini masuk ke daerah Filipina secara legal," kata Setyo di Rupatama Mabes Polri, Senin (29/5/2017).

Sebelumnya beredar kabar ada 11 orang WNI yang terlibat ISIS di Kota Marawi. Melalui jejaring grup WhatsApp, beredar salinan identitas WNI itu yaitu enam warga Bandung, dua warga Tasikmalaya, serta tiga orang dari Bogor, Karawang dan Kendari.

"Mereka izinnya berdakwah dan tidak masuk dalam kelompok yang sekarang sedang bertempur. Sekarang sedang diupayakan supaya bisa segera dipulangkan ke tanah air," ujarnya.

Namun Setyo belum bisa memastikan kabar mengenai seorang WNI meninggal akibat konflik di Marawi. Satu korban meninggal itu belum bisa dipastikan apakah warga Indonesia atau bukan.

Setyo mengatakan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Davao dan Atase Polri yang berada di Filipina masih melakukan pengecekan terhadap informasi tersebut.

"Perlu pendalaman lagi karena situasi masih tidak menentu di Marawi. Otoritas perwakilan Indonesia di sana juga belum bisa menjangkau wilayah Marawi," ujar Setyo.

Militer Filipina sebelumnya terlibat bentrokan dengan kelompok ISIS di Marawi, Filipina Selatan. ISIS ditengarai tengah membangun basis kekuatan di Asia Tenggara.



Sebelumnya, Direktur Perlindungan WNI dari Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengatakan pemerintah masih terus memantau situasi yang ada di Kota Marawi, Mindanao, Filipina Selatan. Iqbal mengatakan pemerintah juga mengantisipasi kemungkinan dampaknya ke Indonesia.

"Yang jelas sekarang yang kita tahu ada 16 WNI di Marawi. Mereka adalah anggota Jamaah Tabligh yang sedang khuruj atau misi dakwah dalam dua kelompok," kata Iqbal kepada KBR, Minggu (28/5/2017).

Iqbal menuturkan keberadaan 16 WNI itu sepengetahuan aparat setempat dan sudah melapor ke aparat. Sejauh ini tidak ada indikasi WNI di Kota Marawi terkait ISIS atau kelompok teroris lain yang berhubungan dengan konflik bersenjata pada 23-24 Mei lalu.

"Dalam waktu dekat kami akan evakuasi mereka," kata Muhamad Iqbal.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) terus menjalin komunikasi dengan Kepolisian Provinsi Lanao del Sur di Kota Merawi untuk memberikan perlindungan kepada mereka.

Informasi yang beredar dari pemerintah Filipina menyebutkan masih terdapat beberapa titik di Kota Marawi yang dikuasi Maute, kelompok yang berafiliasi dengan ISIS.

Untuk mengambil alih kembali kota Marawi dari kekuasaan kelompok Maute, Presiden Filipina Rodrigo Duerte menetapkan status Darurat Militer di Mindanao terhitung 25 Mei 2017.



Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi