Pesan Afi Nihaya Faradisa untuk Generasi Muda: Berpikir dan Lakukan Perubahan!

Menurut Afi, perubahan nyata perlu dilakukan generasi muda di tengah maraknya penggunaan isu SARA untuk kepentingan tertentu.

Senin, 29 Mei 2017 16:33 WIB

Penulis muda asal Banyuwangi, Jawa Timur, Afi Nihaya saat mengikuti Pekan Pancasila di FISIPOL UGM, Yogyakarta, Senin (29/5/2017). (Foto: KBR/Eka Juniari)


KBR, Yogyakarta - Menjelang peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni mendatang, Asa Firda Inayah---pemilik akun media sosial Afi Nihaya Faradisa punya pesan khusus untuk generasi muda.

Nama Afi ramai diperbincangkan setelah akun media sosialnya sempat diblokir karena dianggap terlalu kritis.

Di jumpai usai Talkshow Kebangsaan #Pekan Pancasila di Fisipol UGM Yogyakarta, Afi meminta generasi muda untuk terus berpikir dan melakukan perubahan nyata.

"Yang ingin saya suarakan pada generasi muda adalah ayo berpikir. Ayo lakukan perubahan nyata. Bukan hanya berkata-kata. Perubahan dimulai dari diri sendiri. Jika setiap anak mengubah dirinya sendiri, tidak sibuk mengurusi orang lain, maka Indonesia akan jaya," kata Afi di Yogyakarta, Senin (29/5/2017).

Menurut Afi, perubahan nyata perlu dilakukan generasi muda di tengah maraknya penggunaan isu SARA untuk kepentingan tertentu.

"Di Indonesia saat ini isu SARA sangat marak digunakan sebagai alat untuk macam-macam, untuk memperoleh kepentingan mereka. Yang saya khawatirkan adalah mundurnya Indonesia ke zaman lampau, yakni terbitnya perpecahan. Indonesia akan stagnan pada posisi sekarang," kata Afi Nihaya.

Afi yang baru lulus SMA itu sebelumnya memukau banyak orang, karena tulisan-tulisannya di media sosial, khususnya Facebook. Tulisannya berjudul Warisan di Facebook menyentil banyak pihak, terkait pemahaman keagamaan kelompok umat tertentu yang mengklaim kebenaran agama hanya milik kelompoknya.

Afi mengatakan anak muda yang melek pengetahuan dan berpikiran terbuka akan mencegah perpecahan bangsa.

"Belajarlah dengan baik. Kalau kita sudah belajar dengan baik maka Indonesia akan diisi anak-anak muda yang memiliki pemahaman yang benar terhadap kebangsaan kita," Afi yang mengidolakan Taylor Swift ini.

Afi menyatakan akan terus menulis di media sosial untuk menyuarakan pesan persatuan. Pemblokiran sejumlah akun medsos yang dialami tidak membuatnya surut.

"Menanggapi yang kontra, saya menyadarkan diri saya saja bahwa oke, ini adalah resiko saya setelah tulisan dipublikasi. Saya pernah diancam dibunuh, padahal saya tidak tahu apa kesalahan saya. Saya pernah ditelepon jam tiga pagi yang mengatakan, berhentilah menulis atau kami bukan hanya bisa membunuh akunmu tapi kami juga bisa membunuhmu. Tapi, saya tidak takut. Saya tahu membunuh orang tidak semudah itu," kata Afi.

Berikut kutipan tulisan Afi Nihaya berjudul Warisan.

WARISAN

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.

Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.

Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita.
Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.
Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar.

Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.

Ternyata, teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya.

Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.

Maka, Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.

Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."

Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya.

Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman". Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan.
Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.

Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya".

Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?

Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?

Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan?

Tidak!

Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.

Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.

Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.

Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lainHanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.

Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.

Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.


Baca juga:

 
Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Moratorium Reklamasi, Menteri Siti : Pulau C dan D Kurang Satu Syarat, Pulau G Dua Syarat

  • Adik Bos First Travel Ikut Jadi Tersangka
  • Penembakan Deiyai, Tujuh Anggota Brimob dan Kapolsek Akan Jalani Sidang Etik Pekan Depan
  • Tuntut Pembatalan Perppu Ormas, Ratusan Orang Demo DPRD Sumut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR