Pemerintah Targetkan Titik Kebakaran Hutan Tahun ini Turun Hampir 100 Persen

Wiranto mengatakan tahun ini jumlah hotspot ditargetkan turun 97 persen atau menjadi hanya 116 titik saja.

Jumat, 19 Mei 2017 09:32 WIB

Ilustrasi kebakaran hutan. (Foto: ditjenphka.dephut.go.id)


KBR, Jakarta - Pemerintah menargetkan bisa menekan jumlah hotspot atau titik panas kebakaran hutan dan lahan tahun ini hingga 97 persen dibanding tahun lalu.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan pada tahun lalu jumlah titik panas mencapai 3.915 titik. Jumlah hotspot tahun lalu itu turun sekitar 82 persen dibanding pada pada 2015 yang mencapai 21.929 titik.

Wiranto mengatakan tahun ini jumlah hotspot ditargetkan turun 97 persen atau menjadi hanya 116 titik saja. Turunnya jumlah titik api itu, kata Wiranto, karena penanganan kebakaran hutan dan lahan sudah dimulai dari tindakan pencegahan timbulnya titik api, ketimbang memadamkan saat api sudah besar.

"Hotspot-hotspot itu setelah dilakukan penginderaan dari satelit, lalu dilakukan peninjauan di lapangan dan diatasi segera. Ini berhasil. Buktinya, tahun 2016 jumlah hotspot dan kebakaran hutan semakin menyusut," kata Wiranto di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis (18/5/2017).

Wiranto mengatakan penanganan kebakaran hutan dan lahan telah diformulasikan atau dirumuskan sejak pencegahan, penanganan, hingga pemulihan. Tiga tahap itu melibatkan banyak kementerian dan lembaga yang berada di bawah tiga kementerian koordinator, yakni Kemenko Perekonomian, Kemenko Polhukam serta Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Tugas Kemenko Polhukam adalah mengkoordinasikan beberapa lembaga yang bertugas menangani kebakaran hutan, sedangkan Kemenko Perekonomian bertugas mencegah terjadinya kebakaran dan Kemenko PMK bertugas memulihkan lahan pascakebakaran.

Fokus utama penanganan kebakaran hutan dan lahan saat ini, kata Wiranto, adalah mencegah sebelum benar-benar terjadi kebakaran. Tindakan yang dilakukan diantaranya mencegah pembukaan lahan baru di pinggiran hutan oleh para petani dan perusahaan perkebunan, serta menyiapkan embung, pompa air, serta sistem pendeteksi dini kebakaran.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Saksi Sidang Korupsi e-KTP, Saksi: SN Group Dapat Jatah 7 Persen

  • Komnas HAM: Penyerangan Tokoh Agama Bisa Mengganggu Pilkada
  • Toko Agama Banyak Diserang, Kepolisian Banyuwangi Amankan Rumah Ibadah
  • Kedubes AS Di Montenegro Dibom

Garut adalah salah satu daerah sentra produksi jeruk di Jawa Barat. Jeruk Garut telah ditetapkan sebagai Jeruk Varietas Unggul Nasional dengan nama Jeruk Keprok Garut.