Menyulap Kampung Kumuh Brintik Semarang Menjadi Kampung Seindah Pelangi

Kawasan ini kemudian menjadi trademark di beberapa daerah di Indonesia untuk dijadikan wisata baru. Padahal, dulunya kampung di lereng bukit Gunung Brintik ini dikenal sebagai permukiman kumuh.

Jumat, 26 Mei 2017 15:05 WIB

Kampung Pelangi di Kota Semarang, Jawa Tengah. (Foto: visitjawatengah.jatengprov.go.id/Publik Domain)

KBR, Jakarta - Indahnya pelangi, bisa Anda nikmati kapan saja di Kota Semarang. Di ibukota Provinsi Jawa Tengah ini ada Kampung Pelangi atau kawasan yang bangunannya memiliki warna-warni layaknya pelangi.

Sebaran aneka warna itu terlihat di tiang jembatan, atap rumah, mural, dan cat tembok beraneka rupa. Bagi Anda yang hobi fotografi atau ingin berswafoto, kampung ini sangat Instagrammable atau bisa menghadirkan latar belakang foto yang cantik.

Banyak mata tertuju pada desa yang terletak di Kampung Wonosari, Kelurahan Randusari, Semarang, Jawa Tengah. Kampung yang dulu dikenal sebagai Kampung Brintik itu kini lebih dikenal sebagai Rainbow Village atau Kampung Pelangi.

Daerah ini pun menjadi incaran wisatawan. Tak hanya wisatawan lokal. Media internasional juga menyorotinya. Beberapa media internasional bahkan menjadikan foto Kampung Pelangi sebagai headline.



Kawasan ini kemudian menjadi trademark di beberapa daerah di Indonesia untuk dijadikan wisata baru. Padahal, dulunya kampung di lereng bukit Gunung Brintik ini dikenal sebagai permukiman kumuh di pinggir sungai.

Darimana asal cat itu? Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan ia mendapat stok cat untuk mempercantik kampung itu dari pabrik cat, pengusaha, perbankan dan para stake holder.

Untuk melakukan pengecatan, Hendrar mengajak TNI, Polri, Pramuka dan warga sekitar untuk bergotong-royong mengecat rumah warga, fasilitas penunjang serta sarana dan prasarana di Kampung Brintik. Kini, kampung itu tak kumuh lagi,

"Tujuan berikutnya dengan banyaknya wisatawan, maka ini menjadi target pemerintah untuk menarik banyak orang datang ke Semarang. Tak hanya untuk melihat Kampung Pelangi saja, tapi juga melihat keindahan Kota Semarang yang lain," kata Hendrar dalam perbincangan di KBR Pagi bersama Hilbram Dunar dan Adit Insomnia, Kamis (25/5/2017).

Dengan banjirnya wisatawan ke Kampung Pelangi, kata Hendrar, maka saat ini yang dilakukan pemerintah kota adalah membentuk kelompok-kelompok sadar wisata dan kelompok UMKM. Selain itu, pemerintah kota juga akan membangun atau memperbaiki jembatan di Kampung Pelangi agar warga lebih siap menyambut wisatawan.

Ide pembuatan Kampung Pelangi tercetus setelah penataan kawasan Pasar Kembang Kali Sari tahap pertama usai. Ternyata di belakang pasar yang telah tertata apik itu terlihat pemandangan kurang sedap. Pemerintah kota akhirnya berinisiatif mempercantik Kampung Brintik. Untuk memolesnya, menghabiskan pendanaan sebesar kurang lebih Rp 3 Milliar.



Setelah meresmikan Kampung Pelangi pada 18 Mei lalu, Pemerintah Kota Semarang bergegas menyiapkan penataan tahap kedua. Dana yang dialokasikan tidak tanggung-tanggung. "Ada Rp16 miliar," kata Hendrar.

Penataan lanjutan itu mencakup pembangunan kawasan parkir, normalisasi saluran drainase, pembangunan pedestrian di sepanjang saluran, dan pembangunan foodcourt. Meskipun baru rampung dua dari empat segmen pengerjaan, tetapi kecantikan Kampung Pelangi mampu mencuri perhatian dunia.

Salah seorang warga, Rus Sholeh sangat gembira kampungnya menjadi sorotan dan dikunjungi banyak wisatawan.

"Tidak ada dampak negatifnya, dengan banyaknya wisatawan yang datang, justru menjadi pemasukan untuk warga. Misalnya, sekarang ada tempat parkir yang dikelola oleh warga,” kata Rus kepada Kontributor KBR Widia Primastika.



Desa Waturaka

Selain Kampung Pelangi, ada satu lokasi lagi yang recommended untuk dikunjungi. Namanya Desa Waturaka, di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Desa ini meraih penghargaan sebagai salah satu desa wisata terbaik kategori alam. Penghargaan itu diberikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Sandjojo.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT Marius Ardu Jelamu mengatakan Desa Waratuka bisa meraih penghargaan sebagai desa wisata terbaik kategori alam karena berhasil menjadi destinasi wisata. Pengelolaan Desa Waratuka berasal dari swadaya warga desa setempat.

Marius menjelaskan, di wilayah ini terdapat 20 rumah tinggal wisata (homestay) yang selalu ramai kedatangan tamu yang ingin menikmati keindahan alam Ende.

"Tamu yang datang tak hanya ingin menyaksikan air terjun, tapi juga bisa menanam padi, berwisata di tengah kebun holtikultura dan menikmati alam yang indah," ujarnya.

Untuk menggaet lebih banyak wisatawan, Marius mengatakan pemerintah Kabupaten Ende berupaya memperlebar atau memperpanjang bandar udara NTT, supaya banyak maskapai yang masuk. Dengan demikian harga tiket bisa ditekan.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Bamus Tunda Penggantian Setnov

  • Hoaks 8 Penyakit Tak Ditanggung BPJS Resahkan Warga Bengkulu
  • Salah Sasaran, Puluhan Ribu Penerima PKH Dihapus
  • Koresponden Asia Calling di Pakistan Terima AGAHI Award

PLN menggenjot pemerataan pasokan listrik dari Indonesia bagian barat hingga Indonesia bagian timur