Jelang Ramadan, Penganut Kejawen di Cilacap Menggelar Sadran Sumur

Ritual didahului prosesi bekten atau mendoakan satu persatu makam leluhur yang ada di Panembahan Depok. Prosesi dilanjutkan dengan ritual muji atau doa bersama.

Jumat, 12 Mei 2017 14:34 WIB

Penganut Islam Kejawen di Cilacap menggelar ritual Bekten Sadran menjelang masuknya bulan puasa, di kompleks makam, Kamis (11/5/2017). (Foto: Muh Ridlo/KBR)


KBR, Cilacap – Ratusan penganut Islam Kejawen dan penghayat kepercayaan di Desa Kalikudi, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah menggelar ritual sadran sumur atau sadran pembuka menjelang Ramadhan 1438 Hijriyah.

Pemangku Adat Anak Putu Kalikudi, Perna Gupala mengatakan sadran sumur adalah ritual ziarah ke makam leluhur atau cikal bakal masyarakat Kalikudi di Panembahan Depok Desa Kalikudi.

Ritual didahului prosesi bekten atau mendoakan satu persatu makam leluhur yang ada di Panembahan Depok. Prosesi dilanjutkan dengan ritual muji atau doa bersama.

Ritual Sadran Sumur, kata Perna, dilakukan oleh Pamong Desa, mulai dari kepala desa hingga perangkatnya dengan melibatkan masyarakat setempat, termasuk masyarakat adat Anak Putu Kalikudi.

Sadran sumur biasa dilakukan pada pertengah Bulan Sadran atau Syaban untuk membuka ritual sadran di masing-masing rumah penduduk. Namun, biasanya, masyarakat adat sendiri menggelar ritual nyadran pungkasan pada hari-hari terakhir bulan Syaban, yaitu satu atau dua hari menjelang masuk bulan puasa.

"Pejabat pamong desa melaksanakan sadran dulu untuk mengawali sadran di Panembahan Depok. Yang ikut termasuk anak putu juga, sebab anak putu nanti juga akan mengadakan sadran sendiri," kata Perna Gupala, Kamis petang (11/5/2017).

Perna Gupala menceritakan, Panembahan Depok merupakan tempat beristirahat Kyai Ditakerta, leluhur masyarakat adat Kalikudi. Kyai Ditakerta dipercaya sebagai cikal bakal yang melakukan babat alas dan mendirikan pedusunan yang akhirnya menjadi Desa Kalikudi.

Menurut penuturan Perna, saat Kyai Ditakerta membabat hutan belantara, tak setiap hari dia bisa pulang ke rumahnya di Adiraja. Karena itu dia membuat gubuk tempat beristirahat atau padepokan. Setelah dusun berkembang, sejumlah tokoh desa yang masih berhubungan darah dengan Kyai Ditakerta dimakamkan di tempat ini.

Di Kompleks Panembahan Depok juga terdapat sumur yang dikeramatkan. Menurut kepercayaan warga, Kyai Ditakerta menggali sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Sumur itu masih ada hingga kini dan dikeramatkan. Sumur itu dinamakan Sumur Ketos karena dibuat di dekat pohon Ketos.

Sumur itu hingga kini masih terawat dan airnya jernih. Air sumur itu sekarang hanya digunakan untuk kebutuhan atau ritual tertentu dan tak boleh dikonsumsi sehari-hari.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!