Cegah Milisi ISIS, TNI Perketat Pengawasan Pulau Terluar RI-Filipina

Vipy Amuranto Pranoto mengatakan pengamanan wilayah perbatasan dan pulau terluar itu juga melibatkan Babinsa TNI AD.

Selasa, 30 Mei 2017 17:43 WIB

Ilustrasi kapal patroli laut TNI-AL. (Foto: jpp.go.id/Publik Domain)


KBR, Manado - Komando Daerah Militer (Kodam) XIII/Merdeka memperketat pengawasan dan pengamanan pulau-pulau terluar Indonesia, khususnya di perairan Sulawesi Utara yang berbatasan langsung dengan Filipina.

Langkah itu dilakukan pascapenyerangan kelompok pemberontak Maute terhadap Kota Marawi di Filipina Selatan sejak pekan lalu. Pertempuran antara tentara Filipina melawan kelompok Maute kini masuk hari ke tujuh.

Wakil Kepala Penerangan Kodam XIII/Merdeka Letkol Inf Vipy Amuranto Pranoto mengatakan pascapenyerbuan kelompok Maute tersebut TNI Angkatan Darat terus meningkatkan pengamanan di perairan perbatasan. Vipy mengatakan pengamanan dilakukan melalui Satuan Tugas (Satgas) Pengamanan Pengawasan Pulau-pulau Terluar yang melibatkan ratusan personel.

"Sampai saat ini situasi masih kondusif dan terkendali. Terkait insiden di Marawi Filipina, TNI lebih meningkatkan pengawasan terutama bagi orang–orang yang tidak kita kenal ataupun orang–orang Filipina yang masuk ke Indonesia," kata Amuranto Pranoto.

Vipy Amuranto Pranoto mengatakan pengamanan wilayah perbatasan dan pulau terluar itu juga melibatkan Babinsa TNI AD.

"Kita masih memberdayakan Satuan Tugas atau Satgas disana dan setiap enam bulan sekali dilakukan rotasi. Satgas ini cukup untuk meng-cover kegiatan dan pengawasan di pulau–pulau terluar," kata Vipy Amuranto.

Vipy Amuranto mengatakan perairan Sulawesi Utara bersama Kalimantan dan Maluku sebelumnya dikenal sebagai tiga tempat perairan yang paling rawan penyeludupan, baik kegiatan penangkapan ikan ilegal maupun jalur transit para teroris.

Ia mengimbau masyarakat turut membantu aparat kemanan agar senantiasa menginformasikan jika melihat ada kegiatan atau orang-orang mencurigakan atau orang tidak dikenal yang masuk ke wilayah perairan Indonesia.

Sementara itu, Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara juga mengambil langkah antisipasi dengan menggelar operasi mandiri kewilayahan.

Pada Senin, 29 Mei 2017, Polda Sulut mengirim ratusan personil untuk patroli di wilayah perbatasan Sulawesi Utara– Filipina, yang mencakup dua kabupaten yakni Kepulauan Talaud dan Kepulauan Sangihe.

Juru bicara Polda Sulawesi Utara Ibrahim Tompo mengatakan pasukan polisi gabungan seperti Polair, Brimob, Polres Kabupaten Talaud dan Polres Kabupaten Sangihe dikerahkan untuk patroli di wilayah perairan.

"Wiayah Polda Sulawesi Utara masuk perbatasan langsung dengan Filipina, dimana dimungkinkan adanya kerawanan konflik terus menerus. Karena itu Polda Sulut melakukan pengawasan wilayah perbatasan," kata Ibrahim Tompo.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Majelis Hakim Putus Bebas Terdakwa Kasus UU ITE, Baiq Nuril Menangis Haru

  • Dilaporkan Polisi, Novel Baswedan Tertawa
  • DPR dan Pemerintah Sepakati Pasal Penyadapan dalam RUU Terorisme
  • Bela Negara Akan Masuk ke Orientasi Mahasiwa Baru

Indonesia mengalami masalah ketimpangan (inequality) dan tengah berupaya memeranginya. Simak perbincangannya hanya di Ruang Publik KBR, Rabu 26 Juli 2017 pukul 09.00-10.00 WIB.