BPS: Triwulan Pertama Perekonomian Tumbuh 5,01 Persen

"Dibandingkan dengan triwulan satu 2016 berarti naik 5,01 persen."

Jumat, 05 Mei 2017 10:45 WIB

Ilustrasi (sumber: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama 2017 mencapai 5,01 persen. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, nilai itu lebih rendah dibanding triwulan keempat 2016 (quartal to quartal) yang tumbuh 5,04 persen.

Kata dia pertumbuhan itu lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year) karena pertumbuhannya 4,92 persen.  Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan pada triwulan pertama 2017 ini utamanya didorong oleh industri pengolahan dan kinerja ekspor-impor yang positif.

"Ekonomi Indonesia pada triwulan satu tumbuh sebesar 5,01 persen. Nilai PDB atas dasar harga berlaku pada triwulan satu ini Rp 3.227 triliun. Dibandingkan dengan triwulan satu 2016 berarti naik 5,01 persen. Tetapi kalau dibandingkan triwulan empat 2016 menurun minus 0,34," kata Suhariyanto di kantornya, Jumat (05/05/2017).

Suhariyanto mengatakan, apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (yoy), dari segi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha informasi dan komunikasi sebesar 9,10 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, dicapai oleh komponen ekspor barang dan jasa yang tumbuh 8,04 persen.

Adapun dibanding triwulan sebelumnya, dari produksi penurunan terjadi karena kontraksi di beberapa lapangan usaha. Sementara itu, dari sisi pengeluaran, disebabkan menurunnya komponen pengeluaran konsumsi pemerintah yang minus 45,54 persen dan pembentukan modal tetap bruto minus 5,42 persen.

Suhariyanto berujar, pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan pertama 2017 utamanya disumbang oleh Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Kata dia, Pulau Jawa berkontribusi 58,49 persen, diikuti Pulau Sumatra sebesar 21,95 persen, dan Pulau Kalimantan 8,33 persen.

Beberapa hal yang terjadi pada triwulan pertama 2017 dan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, misalnya meningkatnya harga komoditas non-Migas di pasar internasional, kondisi perekonomian global yang secara umum meningkat, serta kondisi ekonomi mitra dagang utama Indonesia yang membaik. Selain itu, inflasi secara quartal to quartal juga terkendali, yakni 1,19 persen, serta belanja pemerintah yang membaik dibanding periode yang sama tahun lalu, yakni Rp 400,14 triliun atau 19,23 persen dari pagu Rp 2.080,5 triliun, naik dari Rp 391,04 triliun atau 18,77 persen dari pagu Rp 2.082,9 triliun.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.