Begini Cara Bupati Purwakarta Mengatasi Intoleransi

"Sampai hari ini tidak ada masalah. Dulu pernah ramai, sekarang relaif terjaga baik."

Selasa, 23 Mei 2017 22:42 WIB

Bupati Purwakarta, Jabar, Dedi Mulyadi. (Foto: KBR/Agus L.)


KBR, Jakarta- Bupati Purwakarta Jawa Barat Dedi Mulyadi mengklaim pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Toleransi Kehidupan Beragama/Kepercayaan berhasil menekan konflik atau intoleransi berlatar belakang agama. Dedi mengatakan sejak Satgas Toleransi dibentuk awal 2016 hingga saat ini tidak pernah ada gesekan atau perbedaan pendapat yang mengarah konflik terkait agama.

Dedi mengatakan kampanye toleransi antarumat beragama terus digiatkan mulai dari tingkat pendidikan dasar hingga ke masyarakat umum.

"Pelaksanaan Satgas sampai hari ini berjalan dengan efektif, kehidupan di Purwakarta semakin baik. Setiap orang semakin sangat menghargai, pendidikan tumbuh di tingkat pendidikan dasar pendidikan pertama. Di sini FPI ada, tidak ada problem," kata Dedi kepada KBR, Senin (22/5/2017). 

Dedi melanjutkan, "di sini kita mengatur kebebasan berorganisasi berserikat berkumpul, tidak ada problem. Ya paling perbedaan pendapat, perbedaan paham. Ahmadiyah, juga ada. sampai hari ini tidak ada masalah. Dulu pernah ramai, sekarang relaif terjaga baik."

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengklaim Purwakarta saat ini sudah menjadi Kota Toleran, yang menjamin setiap pemeluk agama dan keyakinan untuk beribadah sesuai kepercayaan masing-masing. Ia mengatakan jika ada orang yang bersikap intoleran di Purwakarta atau di Jawa Barat, orang itu bukan warga setempat melainkan pendatang yang ingin mengacaukan kerukunan umat beragama di wilayahnya.

Dedi mengaku di wilayahnya, sebelum dibentuk Satgas pernah ada upaya intoleransi yang mengatasnamakan agama, seperti pembakaran patung atau teror terhadap gereja di Purwakarta. Namun aksi-aksi itu lebih bermotif politik.

Selama tiga hari ini, Pemerintah Kabupaten Purwakarta menggelar Konferensi Toleransi Sedunia yang mengundang 200-an peserta anak muda dari 25 negara. Dedi mengatakan konferensi itu digelar untuk mengabarkan mengenai upaya-upaya daerahnya mengkampanyekan kerukunan hidup antarumat beragama.

Pengaduan

Satuan Tugas (Satgas) Toleransi Kehidupan Beragama/Kepercayaan di Kabupaten Purwakarta berencana membuka ruang pengaduan untuk masyarakat yang menjadi korban intoleransi. Ketua Satgas Toleransi Kabupaten Purwakarta, John Dien Thahir mengatakan meski kerukunan hidup antarumat beragama di kabupaten itu saat ini cukup tinggi, namun ruang pengaduan akan tetap dibuka.

John Dien mengatakan melalui ruang pengaduan itu, pemerintah daerah akan membantu menyelesaikan atau memediasi jika terjadi konflik atau praktik intoleransi.

"Kita personelnya sudah rutin, sudah standby tiga orang tiga orang. Ada dua shift, dari jam 8 sampai jam 15, lalu shift keduanya dari jam 13 sampai 21. Apa saja ditampung, dari A sampai Z, terkait toleransi. Walaupun tidak dieksekusi oleh kami. Misalnya kami arahkan ke Kemenag, ke Polres, dan sebagainya. Jadi hanya mediator," kata John Dien kepada KBR, Selasa (23/5/2017).

John Dien Thahir yang juga menjabat Kepala Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Purwakarta mengatakan rencananya ruang pengaduan itu akan diadakan di ruang Sekretariat FKUB di kantor Sekretariat Pemkab Purwakarta. Namun rencana itu masih menunggu persetujuan dari Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, termasuk mengenai anggaran.

Ketua Satgas Toleransi Kabupaten Purwakarta John Dien Thahir menjelaskan Satgas Toleransi merupakan tim khusus dari FKUB untuk meningkatkan kerukunan antarumat beragama di Purwakarta. Salah satu upaya Satgas di antaranya bersama Dinas Pendidikan membuat proyek percontohan penyediaan ruang ibadah berbagai agama di SMP 1 Purwakarta. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!