Anak-anak Jalanan India Bersuara

Ada sekitar 150 juta anak yang hidup di jalanan di seluruh dunia.

Senin, 08 Mei 2017 11:56 WIB

Street Talk, sebuah acara khusus di ibu kota India memberi kesempatan kepada anak-anak jalanan untuk

Street Talk, sebuah acara khusus di ibu kota India memberi kesempatan kepada anak-anak jalanan untuk menceritakan kisah mereka. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Ada sekitar 150 juta anak yang hidup di jalanan di seluruh dunia. Mereka bertahan hidup dari berdagang asongan, bekerja atau memulung. Anak-anak jalanan ini terlihat nyata di kota-kota besar dunia, tapi suara mereka jarang terdengar.

Sebuah acara khusus di ibu kota India memberi kesempatan kepada anak-anak jalanan untuk bersuara. Acara itu digelar bertepatan dengan Hari Anak Jalanan Internasional yang diperingati pada 12 April. Dari New Delhi, Jasvinder Sehgal menyusun ceritanya untuk Anda.

Ratusan anak menyerbu Pusat Kebudayaan Islam India di New Delhi selama satu hari pada 12 April lalu. Mereka mengenakan pakaian terbaik yang bisa mereka dapatkan. Berkumpul di tengah panggung, sembari mendengarkan lagu-lagu dari film Hindi yang terkenal. 

Chandni, 18 tahun, memandu acara itu. Dia bercerita pada para penonton, setelah kematian ayahnya dia mencari uang dengan berjualan bunga di lampu merah. Hari ini katanya anak-anak lain punya kesempatan untuk membagikan pengalaman ketika hidup dan bekerja di jalanan.

Chandni mengatakan tujuan utama acara ini adalah memberi ruang bagi anak jalanan untu membicarakan berbagai isu yang mereka hadapi. “Dan mereka sendiri yang menyuarakannya,” katanya. 

“Tidak ada yang siap mendengarkan pengalaman anak jalanan dan pekerja anak. Kami hanya ingin memberi suara mereka sebuah panggung, sehingga isu mereka bisa didekati dengan pikiran positif,” tambah Chandni.

Acara yang diberi nama Street Talk itu diadakan oleh LSM yang memperjuangkan hak-hak anak, CHETNA. Ketua LSM, Sanjay Gupta, mengatakan pendekatan proaktif bisa mengurangi jumlah anak yang tinggal di jalanan.

Sanjay mengatakan acara ini disebut Street Talk di mana sepuluh anak jalanan terpilih akan berbagi perjalanan hidup mereka. “Melalui acara ini kami ingin menyampaikan kepada masyarakat dan pihak berwenang kalau anak-anak ini menderita,” kata Sanjay.  Menurutnya jika mereka mengambil langkah tepat waktu maka tidak akan ada masalah anak jalanan.


Akhilesh Hussain, 16 tahun, yang pertama bercerita dan disambut tepuk tangan meriah dari penonton. Pamannya mengajak Akhilesh pergi dari rumah untuk mencari pekerjaan saat dia masih kanak-kanak. Tapi dia diterlantarkan oleh pamannya di New Delhi tanpa uang sepeser pun.

“Saya bertemu seorang perempuan yang lalu membawa saya. Awalnya dia sangat peduli dan baik. Tapi setelah beberapa waktu, dia memaksa saya mengemis dan mencari uang untuk dia,” kisah Akhilesh.

Akhirnya Akhilesh mendapat bantuan dari sebuah LSM anak. Dia bisa melacak keberadaan orangtuanya. Saat ini katanya, dia sudah tidak lagi mengemis di jalanan. Dia rajin belajar dan di waktu senggang menjual minuman ringan. “Uang yang saya hasilkan cukup untuk membayar pendidikan, pakaian dan asrama. Saya ingin ikut kursus memperbaiki ponsel agar masa depan saya aman,” tekadnya.

Ada 18 juta anak India bekerja di jalanan. Banyak yang tidak punya tempat tinggal, terpisah dari keluarga mereka. Mereka banyak yang pergi dari rumah karena faktor kekerasan, penyalahgunaan narkoba dan alkohol, atau kemiskinan.

Pekerjaan mereka biasanya ilegal dan ini membuat mereka rentan terhadap pelecehan, eksploitasi dan kondisi kerja yang buruk.

Poonam, kini berusia 16 tahun, mulai bekerja sejak usia lima tahun untuk membantu menghidupi lima saudara kandungnya. Kata dia, dia terbiasa dengan kondisi kerja yang buruk.

“Dulu saya membuat perhiasan dengan pisau bermata tajam yang sering menusuk telapak tangan saya. Bahkan majikan saya kena tetanus. Kemudian saya membuat sepatu. Tangan saya berkali-kali terluka karena menggunakan jarum panjang dan gunting. Karena tidak mampu ke dokter, ibu mengobati luka saya dengan tanaman obat,” tutur Poonam.

Di penghujung acara, Chandni meminta peserta untuk mengangkat suara mereka melawan segala sejenis eksploitasi. Bagi Tanzeem, 14 tahun, yang menjual balon di pinggir jalan, cerita yang dia dengar membuatnya termotivasi.  

Dia mengatakan datang kemari untuk mendengarkan pengalaman sesama anak jalanan. “Saya banyak belajar dari acara ini dan memotivasi saya untuk menjadi seperti Perdana Menteri Narendra Modi yang dulunya juga anak jalanan yang berjualan teh. Saya ingin menjadi seperti dia,” kata Tanzeem.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Polisi Buru Penyebar Hoaks Gunung Agung Meletus

  • Frekwensi Kegempaan Gunung Agung Meningkat
  • Anak-anak Pengungsi Gunung Agung Mulai Belajar di Sekolah Terdekat
  • Pansus Angket KPK Akan Sampaikan Laporan Sementara Besok