Alasan Semar dan Punakawan Demo di Balai Kota Solo

“Kita garda terdepan menjaga NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika."

Senin, 15 Mei 2017 13:12 WIB

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Solo- Puluhan  orang berbaju adat berbagai daerah berunjukrasa di Balai Kota Solo, Jawa Tengahm Senin (15/05). 50an orang yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Cinta Damai di Solo ini menggelar aksi mengingatkan kembali kebhinnekaan dan toleransi.

“Kita garda terdepan menjaga NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Kita dukung pemerintah, TNI, POLRI menjaga NKRI. Jangan sampai NKRI dirongrong kelompok atau golongan tertentu yang akan menjerumuskan Indonesia dalam keterpurukan. Merdekaaaa! Merdekaaa!” Pekik mereka.

Juru bicara aksi tersebut, Setir Cahyadi, mengatakan kebhinekaan dan toleransi  di Indonesia saat ini mulai luntur akibat munculnya paham atau ajaran bernuansa SARA.

“Elemen aksi ini ada sekitar 20 elemen masyarakat cinta damai di Solo dari lintas agama, lintas budaya, lintas etnis, dan sebagainya. NKRI bagi kami adalah sebuah rumah yang dihuni beragam budaya. Tempat hidup bersama, jadi harus duduk sama-sama untuk mencari solusi, saling berbicara, tetap dalam wadah NKRI," ujar Juru bicara aksi tersebut, Setir Cahyadi.

Lebih lanjut Cahyadi berharap pemerintah, termasuk TNI dan Polri  bertindak tegas pada kelompok atau golongan yang mengancam kebhinnekaan dan toleransi di Indonesia. Dalam aksinya tersebut, secara bergantian, perwakilan kelompok lintas agama, lintas etnis, dan lintas budaya ini menampilkan berbagai kreasi seni mulai dari puisi, teatrikal, dan sebagainya.

Aksi mendukung NKRI terus berlangsung di Solo. Sebelumnya, Minggu malam (14/05) sekitar 100an peserta 1000 lilin Kidung untuk Negeri menggelar aksi di depan balaikota Solo. Ketika acara berlangsung, ratusan polisi membubarkan acara tersebut karena dianggap tidak berizin. Massa memprotes langkah polisi ini dan bertahan di sekitar lokasi aksi.
 
Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.