Greenpeace Rainbow Warrior Tawarkan Alih Energi, Pemprov DKI Belum Siap

"Sudah saatnya pemerintah Jakarta beralih ke energi terbarukan. Harapannya, komitmen tersebut tidak hanya selesai di ucapan, tetapi benar-benar diimplementasikan."

Senin, 23 Apr 2018 22:33 WIB

Jaring pada kapal Greenpeace Rainbow Warrior bertulis kampanye bebas polutan. (Foto: KBR/ Winna W)

KBR, Jakarta - Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan Greenpeace menawarkan kerja sama ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupa pengalihan energi batubara ke panel tenaga surya. Hal tersebut disampaikan menyusul berlabuhnya kapal bersejarah Greenpeace Rainbow Warrior di Jakarta.

Pelayaran dengan misi kampanye lingkungan itu sebelumnya singgah di Papua dan Bali. Di Jakarta, kampanye ditekankan pada banyaknya persoalan lingkungan mulai dari polusi udara hingga timbunan sampah.

Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Didit Haryo Wicaksono mengatakan, rata-rata polutan yang dihirup para penghuni ibukota sudah melebihi ambang batas indeks pencemar udara. Karena itu komitmen Pemprov DKI beralih ke energi terbarukan menurutnya cukup baik. Hanya saja, pelaksanaan konkret di lapangan yang harus dipastikan.

"Kami sudah mendengar komitmen yang cukup kuat dari Pemprov (DKI). Sudah saatnya pemerintah Jakarta beralih ke energi terbarukan. Harapannya, komitmen tersebut tidak hanya selesai di ucapan, tetapi benar-benar diimplementasikan," ujar Didit Haryo Wicaksono kepada KBR di Terminal Penumpang Nusantara Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara, Senin (23/4/18).


Kapal Greenpeace Rainbow Warrior bersandar di Perairan Jakarta. (Foto: KBR/ Winna Wijaya)

Menanggapi tawaran kerja sama dari Greenpeace, Asisten Deputi Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta Blessmiyanda menyatakan tak ingin buru-buru menyepakati. Ia mengatakan, baru sebatas menguji coba pemenfaatan tenaga panel surya. Sedangkan untuk beralih energi, ia merasa, Jakarta belum siap lantaran belum memiliki teknologi yang mumpuni.

"Kami tidak bisa bilang Pemprov DKI akan beralih tapi kami lihat dulu. Kayak sekarang ini kami, sedang diuji coba dengan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) itu menggunakan atap surya di Kepulauan Seribu. Nanti kalau itu jalan dengan baik tentunya akan kami manfaatkan," kata Blessmiyanda kepada KBR di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara, Senin (23/4/18).

Blessmi menegaskan, belum akan menjajaki kerja sama dengan Greenpeace. Karena menurutnya, selama ini operasional panel surya cenderung mahal. Maka kata dia, sebagai pendamping energi pun belum sepenuhnya bermanfaat. 

"Tentunya kan terus dikaji, karena belum tentu ekonomis. Masih uji coba, nanti mudah-mudahan. Jadi kita tidak tergantung listrik dari PLN lagi."

Baca juga:

Kendala utama di pelbagai daerah yang dikunjungi Greenpeace, sebagian besar pada ketiadaan dukungan pemerintah setempat. Misalnya, Bali yang tak maksimal mengupayakan peralihan energi padahal menjadi percontohan green and clean. Justru Pemprov Bali hendak membangun PLTU Batubara yang, menurutnya tak perlu.

Padahal menurut Juru kampanye Greenpeace Didit Haryo Wicaksono, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan panel surya. Namun baru 10 persen yang memanfaatkan sementara 90 persen lainnya, kata dia, kecanduan energi kotor dari batubara. Karena itu, ia menaruh harap pada Pemprov Jakarta.

"Kami punya program satu juta panel surya untuk Jakarta. Kami dorong (Pemprov Jakarta) punya komitmen. Mulai tahun depan, kami mencoba bikin hitungan terkait itu," kata Didit.

Sebelumnya hampir dua bulan kapal legendaris Greenpeace Rainbow Warrior berlayar di Indonesia Timur. Saat di Papua, pelayaran Rainbow Warrior membawa misi penyelamatan hutan dan laut di Bumi Cenderawasih. Sementara di Bali, mereka menyuarakan dukungan terhadap energi terbarukan, penolakan reklamasi Teluk Benoa hingga pengelolaan sampah plastik.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan
Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".